Opini

Catatan Perjalanan Haji 1447 H/2026 M (3) : Kloter SUB-74 yang Tak Merasakan Tagline “Ramah Lansia, Disabilitas dan Perempuan” Ketika Melaksanakan Umrah Wajib

Oleh: Taufadi*

Untuk musim haji tahun 1447 H/2026 M, sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2025 perubahan ketiga atas UU No. 8 Tahun 2019 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, Pemerintah RI sudah memiliki Kementerian Haji yang diberi mandat dan fokus untuk mengurusi pelaksanaan ibadah haji, memastikan pelayanan, pembinaan, serta perlindungan jemaah berjalan profesional, transparan, dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Seperti saya sampaikan pada cerita 2, kami sebagai jamaah haji Indonesia yang tergabung dalam Kloter SUB-74 akan melaksanakan Haji Tamattu’, dimana kami akan mengerjakan umrah terlebih dahulu dengan konsekuensi membayar dam/denda berupa: menyembelih kambing di tanah haram atau berpuasa selama 10 hari (3 hari saat masih di tanah suci dan 7 hari setelah kembali ke tanah air.

Baca juga : Catatan Perjalanan Haji 1447 H/2026 M (2): Merasakan Layanan Haji dari Juanda hingga Jeddah

Selasa, 12/05/2026 ; 07.30 – 11.00 WAS : Foto Hj. Ansari bersama Jamaah Kloter SUB-74 melaksanakan Umroh wajib, sejak berangkat dari Hotel sampai pulang kembali ke Hotel.

Pelaksanaan umrah wajib bagi kami yang tergabung dalam Kloter SUB-74 sejatinya bukan sekadar rangkaian ibadah, tetapi juga menjadi ruang uji nyata atas kualitas layanan penyelenggaraan haji dari pemerintah. Apa yang tampak di lapangan sering kali memperlihatkan ketidaksesuaian antara fakta dengan regulasi yang dihasilkan melalui proses pembahasan panjang.

Hari Selasa, 12 Mei 2026, sesuai dengan pengumuman yang disampaikan oleh Dr. Alwi Beiq, pembimbing KBIHU Al-Mabrur, setelah sholat jama’ qashar maghrib-isya’ di Mesjid Hotel ketika baru tiba, semua jamaah sudah bersiap dengan tetap memakai kain ihram sejak pukul 06.00 WAS.

Ketika kami sampai di depan hotel, semua jamaah berbaris rapi sesuai dengan pengelompokan rombongan. Mereka menunggu komando untuk masuk ke dalam Bus Sholawat kode nomor 10 warna pink. Petugas KBIHU Al-Mabrur, Ketua Kloter, Pendamping Kloter, TPHD, dan terlihat PPIH Arab Saudi Sektor 4 bagian Bimbad bahu membahu mengatur jamaah untuk masuk ke dalam bus dengan tertib. Jamaah lansia didampingi oleh keluarganya, jamaah pengguna kursi roda didorong oleh keluarganya, dan jamaah yang memerlukan penanganan khusus didampingi oleh petugas dari kloter dan pengurus KBIHU Al-Mabrur.

Saya selaku Karom 3 yang sibuk mengatur jamaah tidak melihat ada PPIH bagian LANDIS/Lansia dari Sektor 4 yang datang membantu kami pada saat akan melaksanakan ibadah umrah wajib. Padahal, sesuai dengan data profil jamaah haji Kloter SUB-74 yang dibuat oleh Kemenhaj, dari 380 jamaah terdapat 37 orang kategori Risti tinggi, 46 orang Risti sedang, 109 orang Risti ringan, 10 orang disabilitas, dan 10 orang membutuhkan kursi roda.

Pemberangkatan ke Masjidil Haram yang semula dijadwalkan pukul 07.00 WAS molor 1,5 jam ke pukul 08.30 WAS. Selain karena kondisi lift hotel yang krodit, juga disebabkan karena kurangnya petugas dari Sektor 4 yang datang membantu kami mengatur dan melayani jamaah yang akan melaksanakan umrah secara berkelompok dengan jumlah banyak.

saya, Taufadi, bersama dengan Istri, Ibu dan Ibu mertua saat dalam perjalanan untuk melaksanakan ibadah Umrah Wajib

Dengan menaiki Bus Sholawat, perjalanan dari Hotel Al-Ahbab No. 412 ke Masjidil Haram pada siang hari hanya ditempuh sekitar 10 menit dengan kondisi jalan tidak padat. Saat kami baru tiba, jumlah jamaah haji di sekitar hotel belum datang seluruhnya. Terlihat mayoritas jamaah asal Pamekasan Madura dari Kloter SUB-73, SUB-74, SUB-75, dan SUB-76. Di depan hotel hanya terlihat jamaah haji dari Irak yang menempati hotel yang tampak lebih bagus dari hotel yang kami tempati. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, perjalanan menuju Masjidil Haram membutuhkan waktu kurang lebih 45 menit.

Jamaah haji yang berada di Makkah saat kami tiba merupakan sebagian jamaah yang diberangkatkan pada gelombang kedua, sedangkan jamaah yang diberangkatkan pada gelombang pertama masih berada di Madinah dan menurut informasi akan masuk ke Makkah mulai tanggal 17 Mei 2026.

Momentum Menegangkan dan Religius Saat Melaksanakan Umrah Wajib

Kami tiba di Terminal Syib Amir yang berada di sebelah utara Masjidil Haram pukul 09.00 WAS. Dari Terminal Syib Amir, sambil melantunkan talbiyah “Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalahu Labbaik, Innal Hamda Wanni’mata Laka Walmulk Laa Syarikalak”, jamaah berjalan menuju Masjidil Haram melewati Jabal Qubais yang memiliki nilai historis terkait dengan rukun Islam kelima, “Wa hijjul-baiti manistatha’a ilaihi sabila”, yang kini di atasnya dibangun istana raja untuk tamu kerajaan.

Menurut sumber dari beragam referensi, Jabal Qubais merupakan jabal yang diciptakan pertama kali oleh Allah SWT, tempat Allah menyelamatkan Hajar Aswad saat terjadinya banjir bah di Zaman Nabi Nuh AS yang kemudian ditemukan kembali oleh Nabi Ibrahim AS atas bantuan Malaikat Jibril, tempat Nabi Ibrahim AS diperintah Allah SWT untuk memanggil umat manusia agar melaksanakan haji, dan masih banyak penjelasan lain terkait Jabal Qubais yang tidak bisa diuraikan keseluruhan.

Kami sebanyak 325 jamaah Kloter SUB-74 yang bergabung dengan KBIHU Al-Mabrur melaksanakan umrah wajib sesuai dengan skenario yang direncanakan. Sejak turun dari Terminal Syib Amir, jamaah diatur berbaris dan dibagi menjadi dua kelompok dengan jumlah kurang lebih 150 jamaah yang dipimpin seorang pembimbing dan 3 orang asisten pembimbing pada masing-masing kelompok.

Dalam setiap kelompok, jamaah perempuan, lansia, dan Risti berada di tengah barisan, sedangkan jamaah laki-laki berada di pinggir sambil saling berpegangan bahu untuk melindungi mereka. Pembimbing berada di depan, sedangkan asisten pembimbing berada di kanan, kiri, dan belakang barisan untuk mengawasi jika ada jamaah yang keluar dari rombongan.

Sebelum sampai ke dalam Masjidil Haram, saya mengumumkan sekaligus menyarankan agar jamaah laki-laki membuka lengan atau bahu kanan dengan cara meletakkan pertengahan selendang ihram di bawah ketiak kanan dan kedua ujungnya ditarik ke atas pundak kiri sehingga lengan kanan terbuka. Hal semacam ini disebut Idhthiba’, yang merupakan sunnah khusus bagi jamaah laki-laki saat melakukan tawaf.

Sesampainya di dalam Masjidil Haram, kami berhenti sejenak untuk membaca doa masuk Masjidil Haram, dan dipandu oleh pembimbing secara serentak kami membaca doa: “Allahumma antassalâmu, waminkassalâmu, fahayyinâ rabbanâ bissalâmi, wa adkhilnal jannata dâras-salâmi, tabârakta rabbanâ wa ta’âlaita yâ dzal-jalâli wal-ikrâm. Allahummaftahlî abwâba rahmatik.” Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju pelataran Ka’bah untuk melaksanakan tawaf.

Ketika Ka’bah sudah terlihat lurus di depan, kami berhenti sejenak dan dengan dipandu pembimbing membaca doa melihat Ka’bah: “Allahumma zid hadzal-baita tasyrifan wa ta’dziman wa takriman wa mahabah, wa zid man syarrafahu wa karramahu mimman hajjahu awi’tamarahu tasyrifan wa ta’dziman wa takriman wa birran.” Setelah itu rombongan berjalan menuju posisi sejajar dengan pojok/rukun Hajar Aswad yang ditandai lampu hijau untuk memulai tawaf yang diawali dengan niat: “Nawaitut tawafa bihadzal baitil ‘atiqi sab’ata asywaatin lillahi ta’ala,” suara gemuruh jamaah mengikuti pembimbing.

Di antara jamaah ada yang membaca niat menggunakan bahasa Madura, “Kaule aniat untuk tawaf pettong kale alenglengi Ka’bah karena Allah Ta’ala”, ada pula yang melafalkan dalam Bahasa Indonesia, “Kami niat untuk melaksanakan tawaf sebanyak tujuh kali mengelilingi Ka’bah karena Allah Ta’ala.” Kemudian kami bersama-sama mengangkat tangan sambil melafalkan “Bismillahi Allaahuakbar…”. Ada yang melihat atau menoleh ke Hajar Aswad sambil mengecup, banyak juga yang tidak melakukannya. Selama melaksanakan tawaf, kami dianjurkan untuk tidak menoleh ke belakang agar posisi bahu kiri tetap sejajar dengan Ka’bah.

Dengan tetap mempertahankan barisan dan mengikuti komando pembimbing, kami melaksanakan tawaf mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Setiap putaran membaca doa-doa yang ada dalam buku panduan dan membaca “Subhanallah walhamdulillah wa laa ilaaha illallah wallahu akbar.”

Sesampainya di posisi yang sejajar dengan Rukun Yamani, kami membaca doa: “Rabbana aatina fiddunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qinaa ‘adzaabannar, wa adkhilnal jannata ma’al abroor, ya ‘Aziz ya Ghaffar ya Rabbal ‘alamin.”. Ketika sampai ke Hajar Aswad, kami kembali membaca “Bismillahi Wallahu Akbar” sambil mengangkat tangan kanan dan menoleh ke arah Hajar Aswad. Mayoritas jamaah dengan khusyuk mengikuti setiap gerakan dan bacaan doa yang dituntun pembimbing.

Setelah selesai tawaf, kami melaksanakan sholat sunnah tawaf di dalam Masjidil Haram di lokasi yang lurus dengan Hajar Aswad. Untuk sholat di depan Multazam atau Maqam Nabi Ibrahim AS sebagaimana anjuran syar’i tidak memungkinkan karena penuh dengan jamaah. Setelah selesai sholat, kami dipandu minum air zam-zam sambil berdiri yang diawali dengan membaca doa minum air zam-zam.

Setelah itu kami bersama-sama menuju tempat sa’i untuk melaksanakan sa’i dari Bukit Safa ke Bukit Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan dengan mengikuti bacaan doa-doa sa’i yang dipandu pembimbing. Ada juga jamaah yang mandiri dengan membaca doa dalam buku panduan. Setiap sampai di lokasi yang ditandai lampu hijau, jamaah laki-laki dianjurkan berlari-lari kecil dan bagi jamaah perempuan dianjurkan berjalan cepat sambil membaca doa: “Rabbighfir warham, wa’fu wa takarram, wa tajaawaz ‘ammaa ta’lam, innaka ta’lamu maa laa na’lam.”

Selesai sa’i kami langsung tahallul dengan menggunting rambut di samping Bukit Marwah yang menandakan bahwa kami sudah selesai melaksanakan umrah wajib dan boleh mengerjakan hal-hal yang sebelumnya dilarang selama ihram.

Barisan kami yang bertahan dalam satu kelompok sejak tawaf hingga menuju sa’i akhirnya buyar ketika akan memulai sa’i dari Bukit Safa yang kondisinya sangat krodit. Saya terus membersamai istri, ibu, ibu mertua, dan lima orang jamaah yang tetap bersama kami. Sedangkan jamaah lain yang sebelumnya berjumlah kurang lebih 150 orang melaksanakan sa’i dengan membentuk kelompok kecil.

Di sekitar tempat sa’i terlihat beberapa petugas PPIH Arab Saudi dari sektor lain. Sedangkan yang kami alami sebagai jamaah haji yang ditempatkan di Sektor 4 dengan kepala sektor yang anti kritik, PPIH dari Sektor 4 tidak terasa perannya sama sekali. Mereka yang seharusnya hadir saat kami membutuhkannya justru tidak ada sampai selesainya pelaksanaan umrah, khususnya petugas bagian Landis/Lansia dan Linjam yang sangat kami butuhkan.

Dalam rombongan kami ada satu jamaah perempuan yang mengalami kram dan tidak bisa berjalan sehingga kami harus mencarikan kursi roda sewaan, serta satu jamaah perempuan lain yang pingsan. Peran petugas KBIHU benar-benar sangat penting dalam membimbing, melayani, dan melindungi kami, begitu pula petugas Kloter SUB-74 yang terus mengawasi, melindungi, dan melayani jamaah.

Langsung Kembali ke Hotel Setelah Menunaikan Ibadah Umrah Wajib

Setelah istirahat sebentar, kami yang tinggal sembilan orang sepakat kembali ke hotel dengan menaiki Bus Sholawat dari Terminal Syib Amir. Saat menuju terminal kami sempat kebingungan dan bertanya kepada petugas berseragam tentara yang kemudian mengarahkan kami kepada PPIH yang berjaga di sekitar Masjidil Haram. Dari mereka kami mendapatkan petunjuk hingga sampai ke terminal yang berada di sebelah Toilet Nomor 9 di sisi utara Masjidil Haram. Kami pun berjalan dalam keadaan lelah di tengah cuaca panas ekstrem menuju Terminal Syib Amir.

Lokasi pintu/gate Bus Nomor 10 warna pink berada paling ujung utara terminal sehingga banyak dari kami yang sempoyongan. Sebelum sampai di gate bus No.10, kami bertemu Ketua Kloter, tenaga medis, dan TPHD yang ditugaskan di Kloter SUB-74 yang terus mengawasi dan melayani jamaahnya.

Ketika kami sampai di lorong pintu Bus Nomor 10, jamaah KBIHU Al-Mabrur sudah banyak yang menunggu bus. Akhirnya kami berbaur kembali dengan rasa bahagia karena dapat berkumpul setelah terpisah saat sa’i. Bercanda ria dalam kelelahan dan kembali ke hotel bersama-sama. Berjubel, bersesakan, dan bersenda gurau di dalam bus terasa begitu menyenangkan hingga kami tiba di depan hotel sekitar pukul 12.30 WAS.

Sesampainya di kamar, setelah melalui ujian kesabaran menunggu giliran naik lift yang masih krodit, saya langsung mandi dan makan jatah sarapan yang belum sempat dimakan dengan menu nasi putih, telur dadar, oseng jamur, dan air mineral botol 600 ml. Selesai makan, saya melaksanakan sholat Zuhur dan setelah itu langsung merebahkan diri di atas kasur.

Seandainya tidak dibangunkan oleh istri tercinta pukul 17.00 WAS, kemungkinan saya tidak melaksanakan sholat Ashar. Setelah sholat, saya makan lagi jatah makan siang dengan menu nasi mandi, ayam masak kare dua potong, sayur timun dan wortel, air mineral, serta buah pisang.
Selesai makan, sambil menunggu waktu maghrib, saya menikmati rokok dan secangkir kopi di tangga darurat hotel bersama dua orang jamaah dari Talang Siring dan Keppo.

Rapat Evaluasi yang Menjelaskan Kurangnya Koordinasi Antarpetugas

Setelah sholat maghrib, saya ditelepon Bapak Alwi untuk meeting bersama petugas kloter di lobi hotel terkait evaluasi kegiatan umrah wajib yang telah dilaksanakan dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan haji. Adapun hal-hal yang disampaikan dan dibahas di antaranya:

Pertama, Ketua Kloter menyampaikan bahwa pelaksanaan umrah jamaah Kloter SUB-74 tidak sesuai dengan jadwal yang ditentukan oleh Sektor 4 dan kurangnya koordinasi antarpetugas. Pelaksanaan umrah Kloter SUB-74 yang tiba di hotel pukul 01.30 WAS seharusnya dilaksanakan pada sore hari. Sesuai ketentuan yang dibuat sektor, jamaah yang sampai di hotel di atas pukul 19.00 WAS pelaksanaan umrahnya dijadwalkan sore hari. Namun jamaah Kloter SUB-74 tetap memaksakan untuk melaksanakannya pada pagi hari sehingga berdampak pada nihilnya petugas pelayanan dari Sektor 4 terhadap jamaah lansia, pengguna kursi roda, dan Risti.

Kedua, Ketua Kloter menyampaikan pesan Kemenhaj melalui sektor agar pembayaran dam dilakukan melalui lembaga resmi yang dibentuk Pemerintah Arab Saudi yang bernama Adahi sebesar 720 riyal per jamaah. Mekanismenya, Karom mengumpulkan melalui Karu, setelah terkumpul seluruhnya diserahkan kepada pengurus KBIHU yang kemudian menyerahkannya kepada Ketua Kloter.

Ketiga, pengurus KBIHU menyampaikan bahwa selain kewajiban pembayaran dam, terdapat biaya lainnya yang dikoordinasikan oleh KBIHU sesuai kebutuhan layanan jamaah selama pelaksanaan ibadah haji.

Bagi jamaah yang membutuhkan layanan kursi roda, juga dikenakan biaya tambahan sesuai penggunaan layanan hingga selesainya rangkaian ibadah haji.

Keempat, antara petugas dan KBIHU yang mewadahi jamaah wajib berkoordinasi setiap akan melaksanakan kegiatan demi keamanan dan kenyamanan jamaah haji, khususnya Kloter SUB-74.

Meeting kemudian ditutup dengan perasaan saling mengerti, memahami, dan memaklumi apa yang sudah terjadi, dengan harapan tidak terjadi lagi hal-hal yang akan mengorbankan jamaah haji SUB-74 yang menginginkan aksi nyata dari tagline haji 2026 M: “Ramah Lansia, Disabilitas, dan Perempuan.”


Setelah meeting, saya duduk di depan hotel bersama Ismail, Wakil Ketua DPRD Pamekasan yang menjadi TPHD, Prof. Dr. Zainal Abidin yang menjadi PPIH Arab Saudi bagian Bimbingan Ibadah, keduanya merupakan sahabat seangkatan dan satu jurusan ketika kami kuliah di STAIN Pamekasan. Kemudian bergabung Pak Fahmi jamaah KBIHU Al-Mabrur, Lora Maltuful Anam anggota DPRD Pamekasan yang juga menjadi TPHD, serta Lora Lukman pembimbing KBIHU Nurul Hikmah. Kami berbincang seputar tata kelola pelayanan haji bersama Hj. Ansari yang ikut bergabung bersama kami hingga pukul 00.00 WAS.

Bersambung………

*Penulis adalah Ketua DPC PDI Perjuangan yang saat ini sedang menjalankan ibadah haji 1447 H/2026 M, bersama Istri, Ibu dan Ibu Mertua

Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *