Oleh: Taufadi*
Pemberangkatan Jamaah Haji dari Bandara Juanda-SUB menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah
Pagi itu bukan sekadar tentang keberangkatan, melainkan awal dari rangkaian pengalaman yang memperlihatkan bagaimana layanan haji dijalankan di lapangan—sejak pelepasan dari Asrama Haji, pelayanan di bandara, proses imigrasi, layanan penerbangan oleh maskapai, hingga tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah.
Pelepasan Jamaah Kloter SUB-74 dari Asrama Haji
Senin, 11 Mei 2026 menjadi awal perjalanan panjang kami dalam menunaikan ibadah haji sebagai Duyufur Rahman (tamu-tamu Allah). Pukul 04.00 WIB kami bangun, bersiap, mandi ihram (mandi sunnah sebelum berihram), kemudian menunaikan salat Subuh.
Setelah itu kami mengenakan kain ihram dan melaksanakan salat sunnah ihram dua rakaat di kamar asrama haji. Ada pula jamaah yang belum melaksanakan salat ihram di asrama. Saya menyarankan agar salat ihram dapat dilakukan di bandara. Adapun tata cara salat sunnah ihram dua rakaat adalah: pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca Surah Al-Kafirun, dan pada rakaat kedua membaca Surah Al-Ikhlas. Semua berjalan tertib sebagaimana pola yang telah diatur oleh petugas dan pembimbing KBIHU Al-Mabrur.

Usai sarapan, kami diperintahkan berkumpul di Gedung Bir Ali Asrama Haji Sukolilo yang berada di depan. Setelah seluruh jamaah berkumpul, dilakukan briefing terkait barang bawaan. Selanjutnya, kami diminta maju satu per satu sesuai rombongan dengan menunjukkan paspor dan boarding pass untuk proses check-in.

Setelah itu, kami diarahkan menuju bus dengan melewati Security Check Point (SCP), mesin metal detector, mesin X-Ray, serta prosedur melepas jaket, ikat pinggang, jam tangan, dan mengeluarkan barang logam termasuk korek api, dilanjutkan dengan pemeriksaan manual oleh petugas imigrasi.
Proses berjalan rapi. Pemeriksaan imigrasi dilakukan di Asrama Haji—yang dalam kondisi normal dilakukan di bandara—sehingga mempercepat alur keberangkatan. Hal ini merupakan bagian dari sistem pelayanan haji terpadu (one stop service) yang terus dikembangkan, sebagaimana amanat UU No. 8 Tahun 2019 yang diperbarui melalui UU No. 14 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah, yang menekankan pelayanan terpadu bagi jamaah.

Satu per satu jamaah diarahkan naik ke bus yang telah menunggu. Setelah penuh, bus yang kami tumpangi parkir menunggu bus lain menyelesaikan proses naik penumpang. Sekitar pukul 09.00 WIB, delapan bus yang membawa CJH kloter SUB-74 berangkat menuju Bandara Juanda-SUB dengan pengawalan patwal.
Pelayanan di Bandara Juanda-SUB hingga Keberangkatan
Bus yang mengantarkan kami tiba di Bandara Pukul 09.30 WIB sedangkan jadwal Take Off pesawat dijadwalkan pukul 13.30 WIB menggunakan pesawat maskapai Saudia Airlines. Sebelum masuk ke dalam pesawat, semua jamaah diarahkan menunggu di ruang tunggu yang disediakan khusus CJH. Di dalamnya disediakan lounge berbayar Rp 60 rb denqan fasilitas snack, soft drink, air mineral dan smoking area. Saya mengajak istri, ibu dan ibu mertua untuk menunggu di lounge berbayar dimaksud, dan menyusul CJH lain yang lebih memilih membayar daripada tidak merokok selama 3 jam menunggu


Pukul 11.00 WIB, petugas mengumumkan bahwa jamaah dipersilakan bersiap masuk. Kami segera menuju ruang pemeriksaan imigrasi Arab Saudi yang telah ditempatkan di Bandara Juanda-SUB sebagai bagian dari sistem pre-clearance.
Dengan tertib, seluruh jamaah menunjukkan paspor dan boarding pass kepada petugas imigrasi Arab Saudi. Setelah proses tersebut, kami kembali menunggu di ruang tunggu sebelum boarding.

Karena telah masuk waktu sholat, seluruh jamaah melaksanakan sholat berjamaah jamak taqdim Dzuhur-Ashar di ruang tunggu, atas bimbingan Bapak Alwi sebagai pembimbing KBIHU Al-Mabrur. Beliau menyarankan agar sholat dilakukan di darat (bandara), karena lebih leluasa dibandingkan di atas pesawat.
Penerbangan: Juanda – Kualanamu – Jeddah
Pukul 13.00 WIB, kami mulai masuk ke dalam pesawat sesuai arahan petugas. Pramugari mengarahkan jamaah untuk duduk sesuai nomor kursi yang telah ditempel pada tas paspor saat pembagian fasilitas di asrama haji.

Pesawat Saudia Airlines dengan kode penerbangan SV 5171 tipe Airbus A380-300 yang kami tumpangi kemudian bersiap lepas landas. Setelah seluruh penumpang duduk, pukul 13.30 WIB pesawat mulai bergerak meninggalkan Bandara Juanda-SUB menuju Bandara King Abdul Aziz Jeddah, dengan transit di Bandara Kualanamu Medan untuk pengisian bahan bakar.
Penerbangan dari Juanda ke Kualanamu ditempuh sekitar 3,5 jam. Selama penerbangan, kami mendapatkan konsumsi berupa nasi dengan lauk rendang, puding, roti, serta minuman halal sesuai permintaan. Situasi di dalam pesawat masih kondusif, belum terlihat dinamika berarti dari para jamaah yang sebagian besar masih awam dalam perjalanan udara.
Pukul 15.30 WIB, pesawat landing di Bandara Kualanamu Medan untuk pengisian bahan bakar selama kurang lebih satu jam. Selama proses ini, jamaah diminta tetap berada di tempat duduk, dengan sabuk pengaman dilepas.
Pukul 16.30 WIB, pesawat kembali take off menuju Jeddah dengan durasi penerbangan kurang lebih 8 jam. Pada fase ini, dinamika di dalam pesawat mulai terasa. Sebagian besar jamaah merupakan penumpang yang baru pertama kali naik pesawat. Ada rasa cemas, kebingungan, dan juga kepolosan dalam menggunakan fasilitas yang tersedia.
Interaksi antarjamaah berlangsung hangat, namun sekaligus memperlihatkan keberagaman karakter, termasuk jamaah lansia yang membutuhkan perhatian lebih.
Beberapa jam dalam penerbangan, antrean toilet mulai terjadi. Awak kabin beberapa kali menyampaikan pengumuman, termasuk hal-hal teknis yang perlu dipatuhi jamaah. Antrean semakin padat, dan awak kabin terlihat bekerja ekstra mengatur situasi.
Di satu sisi, hal ini berkaitan dengan kedisiplinan. Namun di sisi lain, juga memperlihatkan adanya jarak antara kebutuhan jamaah dengan standar layanan penerbangan. Pengalaman seperti ini menjadi bagian penting dalam melihat kualitas layanan secara nyata di lapangan.
Miqat di Udara Yalamlam dan Niat Ihram
Menjelang memasuki wilayah miqat di atas udara Yalamlam, Dr. Alwi Beiq selaku pembimbing KBIHU Al-Mabrur yang sejak awal telah mewanti-wanti awak kabin agar diingatkan, membangunkan seluruh jamaah yang telah mengenakan kain ihram.
Beliau memimpin niat ihram, dan seluruh jamaah mengikuti dengan serentak:
“Labbaik Allahumma ‘umratan”
“Nawaitul ‘umrata wa ahramtu bihi lillahi ta’ala”
Suasana di dalam pesawat berubah menjadi penuh kekhusyukan, dengan gema talbiyah yang diucapkan bersama-sama. Adapun saya pribadi berniat melaksanakan badal haji untuk almarhum Ramah (sebutan lain dari bapak), sehingga saya melafalkan niat:
“Nawaitul ‘umrata wa ahramtu bihi ‘an Abi almarhum Abd. Ghani bin Abd. Syakur lillahi ta’ala.”
Momen ini menjadi salah satu titik paling sakral selama dalam perjalanan menunaikan ibadah haji. Karena kami yang bergabung dengan KBIHU al-Mabrur menyepakati untuk melaksanakan Haji Tamattu’, maka kami akan melaksanakan ibadah umrah terlebih dahulu, dimulai dengan (miqat/niat ihram-tawaf-sa’i-tahallul dan tertib), sebelum rangkaian ibadah haji yang akan dimulai pada tanggal 08 Dzulhijjah. Jenis haji ini paling umum dikerjakan oleh jamaah haji Indonesia dan diwajibkan membayar dam (denda).
Kedatangan di Jeddah dan Perjalanan ke Mekkah
Pesawat tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah pukul 22.50 WAS (Waktu Arab Saudi). Proses kedatangan berlangsung relatif cepat.

Pemerintah Arab Saudi menerapkan sistem fast track, sehingga jamaah tidak perlu melalui pemeriksaan imigrasi ulang dan langsung diarahkan menuju bus. Hal ini menunjukkan adanya sistem layanan yang terintegrasi sejak keberangkatan dari Indonesia.
Jumlah jamaah yang naik bus bersama saya menuju hotel berjumlah 36 orang dari rombongan yang berbeda. Pemeriksaan pertama kartu Nusuk dilakukan dari dalam bus oleh petugas wanita bercadar sebelum bus dinyatakan berangkat. Selanjutnya terdapat beberapa kali pemeriksaan oleh petugas sebelum memasuki kota Mekkah.
Sepanjang perjalanan, sebagai karom, saya memimpin pembacaan talbiah sembari menjelaskan beberapa situs sejarah yang kami lewati berdasarkan informasi dari sopir bus yang merupakan warga lokal Arab, di antaranya situs Siti Maimunah (istri terakhir Rasulullah SAW), tempat miqat Tan’im (Masjid Siti Aisyah), serta kawasan menara Tower Zam-zam yang terlihat dari dalam bus.

Ketika memasuki Kota Mekkah, kami bersama-sama membaca doa:
“Allâhumma hâdzâ haramuka wa amnuka, faharrim lahmî wa damî wa sya’rî wa basyarî ‘alân nâri, wa âminnî min ‘adzâbika yauma tab’atsu ‘ibâdaka, waj’alnî min awliyâ’ika wa ahli thâ’atik.”
Bus terus melaju menuju hotel. Di pintu masuk Mekkah, petugas dari syarikah naik ke atas bus untuk mengumpulkan paspor jamaah.
Tiba di Hotel dan Dinamika Awal Jamaah
Sekitar pukul 01.30 WAS, kami tiba di Hotel Al-Ahbab No 412 daerah Syisyah-Raudhah yang berjarak sekitar 2-3 km dari Masjidil Haram bila dilihat dari Google Maps. Ketika kami tiba terlihat PPIH Arab Saudi sektor 4 menjadi pagar ayu menyambut jamaah.
Saya selaku karom diminta menemui petugas di lobi hotel untuk mendapatkan kunci kamar. Sementara itu, jamaah diarahkan menuju lantai 10 menggunakan lift yang terlihat cukup padat. Hotel ini memiliki 4 unit lift dengan kapasitas sekitar 6–8 orang dan kondisi yang tampak sudah cukup lama digunakan.
Setelah mendapatkan kunci dan penjelasan dari petugas PPIH, saya naik ke lantai 10 untuk membagikan kunci kepada jamaah rombongan 3 KBIHU Al-Mabrur.
Jamaah yang telah menerima kunci kamar langsung menempati kamar masing-masing tanpa protes, karena sudah memahami sistem pembagian yang telah ditentukan.
Istri saya, Hj Ansari, bersama ibu, dan ibu mertua menempati kamar berukuran 4 x 4 meter dengan fasilitas kamar mandi dalam dengan ukuran 1,5 × 2 meter, tiga tempat tidur ukuran 90 x 200 cm, bantal, selimut, mini kulkas, lemari pakaian, meja, kursi, karpet, colokan standar internasional, serta jam dinding yang kemungkinan kehabisan baterai. Adapun fasilitas kamar mandi meliputi shower, wastafel, kloset duduk, exhaust fan, tali jemuran, sabun, dan sampo, namun tidak tersedia handuk.
Saya sendiri menempati kamar berukuran 6 x 4 meter bersama tiga jamaah laki-laki lainnya, dengan fasilitas serupa, ditambah wastafel di luar kamar mandi.
Melalui grup WhatsApp, jamaah diinformasikan untuk berkumpul di Masjid Hotel guna melaksanakan salat jamak takhir Maghrib-Isya. Setelah sholat, Bapak Alwi Beiq mengumumkan bahwa umrah wajib akan dilaksanakan keesokan hari pukul 07.00 WAS. Beliau juga mewanti-wanti agar jamaah jangan sampai melanggar larangan ihram sampai tahallul.
Setelah selesai sholat, saya dan 3 Karu rombongan 3 menuju lantai Restoran untuk mengambil konsumsi yang akan dibagikan kepada Jamaah, berupa nasi kotak berisi Nasi Putih dan ayam goreng, snack selamat datang yang berisi jeruk, air mineral 300 ml, dan jus jambu kotak. Pemberitahuan kesiapan konsumsi sudah diumumkan oleh Bapak Andik, petugas bagian konsumsi Kloter SUB-74 melalui group whatsapp.
Selesai makan kami menuju kamar, berkenalan dengan teman sekamar, langsung istirahat, melepas lelah, menggapai mimpi, bersiap untuk menunaikan Ibadah umroh wajib keesokan harinya.
Bersambung…..
*Penulis adalah Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan yang saat ini sedang menjalan ibadah haji bersama Istri Hj Ansari, berserta Ibu dan Ibu Mertua.







