Oleh: Taufadi*
Kamis, 11 Juni 2026/25 Dzulhijjah 1447 H, dijadwalkan pukul 10.00 WAS, jamaah Kloter SUB-74 diberangkatkan dari hotel ke Madinah menggunakan 10 armada bus yang disediakan oleh syarikah.
Sejak pukul 08.00 WAS, terlihat Petugas Pelayanan Sektor 4 PPIH Arab Saudi sedang mengambil koper jamaah di setiap lantai dan mengaturnya sesuai rombongan saat sudah terkumpul di lobi hotel sebelum akhirnya dinaikkan oleh petugas umal ke atas bus.

Petugas Sektor 4 PPIH Arab Saudi bahu-membahu mengondisikan koper jamaah dan mengatur jamaah untuk naik ke atas bus yang berjajar di depan hotel sesuai dengan rombongannya.
Beberapa petugas Sektor 4 PPIH Arab Saudi naik ke atas bus. Petugas bagian transportasi mengecek kelengkapan jamaah dan mengambil foto/video. Pihak syarikah menyelesaikan administrasi dengan sopir, menyerahkan paspor jamaah kepada sopir setelah dicek satu per satu, serta memberikan souvenir berupa buku tafsir, tasbih elektrik, tasbih manual, dan beberapa lembar informasi serta panduan doa. Setelah semua proses selesai, sekitar pukul 10.30 WAS bus bergerak menuju Madinah.
Pukul 12.30–13.05 WAS berhenti di rest area, untuk ke toilet, makan, dan sholat jamak qashar Zuhur–Asar. Setelah itu, bus berangkat lagi menuju Madinah. Sebelum masuk Kota Madinah, bus diarahkan ke Terminal Hijrah Kementerian Haji dan Umrah Arab Saudi. Setelah dilakukan pengecekan, bus langsung melaju masuk ke Kota Madinah dan sampai di hotel pukul 15.25 WAS. Cuaca di Madinah saat kami sampai lebih panas daripada Makkah, bahkan saat malam hari udara panasnya masih sangat terasa.

Jamaah Kloter SUB-74 Ditempatkan di Daerah Taiba Janibiyah di Madinah
Kloter SUB-74 menempati Hotel Rua Taiba Madinah, Sektor 5 Daker Madinah PPIH Arab Saudi. Saat kami tiba, sudah ada jamaah haji dari Bangladesh yang tinggal di sana, dan satu hari berikutnya rombongan Kloter SMP-77 (Sumenep) juga ditempatkan di hotel yang sama bersama kami.

Fasilitasnya lebih jelek daripada Hotel Al-Ahbab Al-Kobra Raudhah di Makkah. Ukuran kamarnya lebih kecil, diisi tiga orang, dengan fasilitas tempat tidur, kulkas, lemari, meja hias, dan TV LED. Kamar mandinya sangat sempit (standar untuk orang yang tidak suka mandi) dan tidak disediakan handuk. Hotel yang berjumlah 10 lantai tersebut dilengkapi fasilitas umum, meliputi restoran yang hanya cukup menampung 10–20 orang saat dipakai untuk pertemuan, empat unit lift keluaran lama berkapasitas empat orang, serta ruang lobi yang sempit dan dilengkapi kafe yang tidak pernah beroperasi.
Lokasi hotel berada di selatan Masjid Nabawi (daerah Janibiyah), berjarak sekitar 1,5 km yang diukur dari pintu pagar nomor 309–310 dan dapat ditempuh sekitar 10–15 menit dengan berjalan kaki. Di depan hotel terdapat Masjid Umar bin Khattab RA. Masjid Ghamamah berjarak sekitar 100 meter dari Masjid Umar. Serong ke barat laut sedikit, berjejer Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Masjid Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah. Adapun rumah Sayyidina Utsman berada di pintu masuk Pekuburan Baqi’, sehingga tidak dibangun situs masjid seperti tiga Khulafaur Rasyidin lainnya.
Terkait penempatan jamaah haji Indonesia, kami sajikan pernyataan dari salah satu pejabat Kemenhaj yang tidak bisa saya sebutkan namanya sebagai berikut:
“Penempatan kloter jamaah haji Indonesia di Madinah pada prinsipnya mengikuti ketentuan bahwa seluruh jamaah Indonesia wajib ditempatkan di kawasan markaziyah, yaitu ring utama di sekitar Masjid Nabawi, bukan di luar area tersebut.
Dalam praktiknya, kapasitas hotel bintang 1 sampai dengan bintang 3 di kawasan markaziyah tidak mencukupi untuk menampung seluruh jemaah Indonesia yang jumlahnya sangat besar. Sementara gedung-gedung di area ini juga terbatas dan sangat diminati oleh banyak negara.
Oleh karena itu, hotel bintang 4 dan bintang 5 menjadi opsi yang harus digunakan untuk menambah kapasitas dan memastikan seluruh jamaah tetap tinggal di wilayah markaziyah sesuai regulasi dan kesepakatan layanan.
Perlu dipahami juga bahwa bukan hanya Indonesia yang memerlukan hotel di Madinah, tetapi hampir semua negara pengirim jamaah haji juga berebut akomodasi di kawasan markaziyah. Sehingga, ketersediaan dan distribusi kamar sangat dipengaruhi oleh kapasitas dan pengaturan yang ditetapkan otoritas Arab Saudi.”
Pernyataan dari pejabat Kemenhaj dimaksud bisa kita pahami bersama. Kenyataannya, kami bisa menunaikan ibadah sholat lima waktu di Masjid Nabawi setiap waktu hanya dengan berjalan kaki dari hotel. Bagi jamaah gelombang pertama bisa mengerjakan Arba’in, sedangkan untuk jamaah gelombang kedua tidak memungkinkan karena waktunya tidak mencukupi.
Sebagaimana disampaikan oleh Petugas Bimbad Sektor 5 Daker PPIH Arab Saudi saat memberikan visitasi kepada Kloter SUB-74 pada Jumat, 12 Juni 2026 M / 26 Dzulhijjah 1447 H, pukul 16.30–17.30 WAS, bertempat di lantai M (restoran) hotel, bahwa sejak tahun 2023 pemerintah sudah tidak memprogramkan Arba’in. Oleh karena itu, tidak ada Bayan Tarhil, yaitu surat kesepakatan atau perjanjian resmi mengenai jadwal pelaksanaan ibadah Arba’in (sholat 40 waktu berjamaah secara berturut-turut di Masjid Nabawi) bagi jemaah haji. Sedangkan bagi jamaah yang akan melaksanakan Arba’in dipersilakan selama waktunya mencukupi.
Konsumsi untuk Jamaah Haji Kloter SUB-74 Selama di Madinah
Seperti halnya saat di Makkah, kami mendapatkan jatah makan ‘selamat datang’ saat pertama tiba di hotel Madinah berupa nasi putih dengan lauk ayam goreng tepung dan sayur brokoli.
Selanjutnya, selama tinggal di Madinah kami mendapat jatah makan tiga kali sehari (pagi, siang, dan malam) dengan menu nasi putih, terkadang nasi goreng untuk pagi hari. Lauknya berupa ayam kecap/goreng, daging kecap, ikan pilet goreng tepung, serta sayuran berupa oseng wortel dan kacang polong, brokoli, ditambah buah untuk makan siang berupa pisang, apel, dan kurma. Untuk cita rasanya tetap cita rasa Indonesia dan setiap pembagian jatah makan selalu disertai air mineral botol 600 ml.
Pembagian jatah makan berbasis rombongan. Karom atau Karu yang boleh mengambilnya. Makanan tidak pernah terlambat dibagikan, dengan petugas bagian konsumsi yang mengatur dan membagikannya di restoran hotel.
Pedihnya Hati Ini Menyaksikan Para Pejabat Negeri Kami Tercinta di Tanah Haram
Saat menuju Madinah dari Makkah, hati ini berharap, “Semoga hotel yang di Madinah lebih baik sedikit walaupun satu strip di atasnya, apalagi sampai ditempatkan di hotel berbintang seperti yang disampaikan oleh Menteri Haji dan Umrah di beberapa media bahwa jamaah haji reguler merasakan fasilitas seperti hotel bintang lima.”
Sepanjang perjalanan dari Makkah ke Madinah, hati saya terus berharap dan berdoa. “Semoga… semoga… pokoknya semoga akomodasi hotel yang ditempati kami fasilitasnya lebih baik”.
Namun, nasib kami, Kloter SUB-74, tidak semujur sebagian kecil jamaah haji reguler yang bisa menikmati hotel berbintang seperti yang disampaikan oleh Menteri Haji dan Umrah RI.
Begitulah “mental” para pejabat di negara kami tercinta saat ini. Eksekutif dan legislatifnya mayoritas kompak tidak mau menyampaikan segala sesuatu sesuai dengan fakta sebenarnya terkait akomodasi hotel jamaah haji reguler tahun ini. Semoga hal tersebut tidak terjadi lagi pada musim haji di tahun berikutnya.
Saya menyaksikannya sendiri, melihat dengan mata kepala saya sendiri, dan merasakannya sendiri sebagai jamaah haji reguler tahun ini. Mayoritas pejabat tinggi negara kita, baik di eksekutif maupun legislatif, saat di Makkah tinggal di hotel berbintang dan berkelas yang berada di sekitar pelataran Masjidil Haram. Walaupun yang mereka nikmati dan terima sesuai dengan ketentuan, saya tidak menjumpai pejabat tinggi negara, khususnya di Kemenhaj dan anggota DPR RI yang sedang bertugas, mau berbaur dan menempati hotel yang sama dengan hotel yang ditempati oleh mayoritas jamaah haji reguler.
Seharusnya mereka mencoba merasakan langsung fasilitas hotel yang ditempati jamaah haji reguler, yang seperti langit dan bumi jika dibandingkan dengan fasilitas hotel yang ditempati oleh para pejabat yang katanya bekerja untuk rakyat. Rakyat yang mana…? Ya… rakyatnya sendiri, meliputi keluarganya, temannya sendiri, kroni-kroninya. Jujur saja, hati ini sangat teriris menyaksikannya selama menjadi Jamaah Haji Reguler 1447 H / 2026 M.
Sedangkan para pejabat di bawahnya berupaya bagaimana caranya bisa memberikan atau menyampaikan laporan yang bisa membuat Asal Bapak Senang (ABS). Saat bapaknya ingin mengetahui keadaan di lapangan, dibawalah mereka ke tempat yang sudah diskenario agar beliau senang dan bahagia, lalu bisa menyampaikannya kepada media bahwa kinerjanya mampu membuat rakyat bahagia.
Sekilas tentang Sektor Daker Madinah PPIH Arab Saudi
Mengutip dari berbagai sumber, pada penyelenggaraan ibadah haji 1447 H / 2026 M, Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi Daerah Kerja (Daker) Madinah membagi wilayah operasionalnya menjadi lima sektor yang mengelola 118 hotel yang tersebar di tiga wilayah utama sekitar Masjid Nabawi, yakni Syamaliah (utara), Gharbiyah (barat), dan Janubiyah (selatan). Setiap sektor dilengkapi dengan fasilitas Klinik Satelit Madinah untuk menjamin layanan kesehatan berjalan optimal.
Untuk mendukung operasionalnya, PPIH Arab Saudi Daker Madinah didukung oleh ratusan petugas akomodasi, konsumsi, transportasi, dan tim kesehatan yang berjaga 24 jam untuk melayani jamaah haji Indonesia.
PPIH Arab Saudi Daker Madinah juga membentuk Sektor Khusus (Seksus) Masjid Nabawi yang bertanggung jawab penuh atas keamanan, kenyamanan, dan kelancaran jemaah selama berada di dalam Masjid Nabawi dan area sekitarnya. Selain itu, Seksus Nabawi juga memberikan pelayanan kepada jamaah haji Indonesia yang akan berziarah ke Raudhah. Alhamdulillah, keberadaannya benar-benar sangat dirasakan saat Kloter SUB-74 bersama kloter lain berziarah ke Raudhah sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan, masuk melalui sistem tasyrih (izin) kolektif berkelompok dengan kapasitas sekitar 8.000 jemaah Indonesia per hari. Mereka juga memberikan edukasi mengenai aturan berziarah ke Raudhah, mengatur jamaah saat akan masuk agar tertib, menjaga jamaah agar tidak tersesat, dan yang membuat kami terkesan, mereka benar-benar memprioritaskan jamaah pengguna kursi roda.
Selain petugas yang ditempatkan di lima sektor dan Seksus Nabawi, PPIH Arab Saudi Daker Madinah juga menempatkan petugasnya di Sektor Terminal Hijrah dan Bir Ali sebagai titik perlintasan serta kedatangan maupun kepulangan jamaah haji Indonesia.
Seperti saya paparkan di atas, sebelum masuk Kota Madinah, bus diarahkan ke Terminal Hijrah yang disambut oleh petugas yang tampak sedang melaporkan dan mengawal kedatangan kami. Sedangkan petugas yang berada di Bir Ali saya tidak dapat menceritakannya karena tidak mengetahuinya.
Jamaah Kloter SUB-74 diberangkatkan pada gelombang kedua yang langsung menuju Makkah sehingga tidak mengambil miqat di Bir Ali. Kemungkinan mereka memberikan pelayanan sebagaimana mestinya kepada jamaah haji gelombang pertama yang akan mengambil miqat di Bir Ali.
Kegiatan Jamaah Kloter SUB-74 saat Baru Tiba dan Rencana Kegiatannya selama di Madinah
Saat pertama kali tiba di Madinah pada Kamis, 11 Juni 2026 M / 25 Dzulhijjah 1447 H, pukul 15.30 WAS, setelah mendapatkan kamar masing-masing dan selesai beristirahat, jamaah banyak yang langsung pergi ke Masjid Nabawi dengan berjalan kaki.


Mereka sangat antusias untuk langsung berziarah kepada Rasulullah SAW dari luar area makbarah yang ditandai dengan Kubah Hijau (Al-Qubbatul Khadhra) atau Green Dome.
“Assalamu’alaika Yaa Rasulullah, Assalamu’alaika Yaa Nabiyullah, Assalamu’alaika Yaa Habibullah.”
Ungkapan salam kami yang menghadap ke bangunan yang terdapat makbarah beliau, yang di atasnya terdapat Kubah Hijau, sambil mengangkat tangan. Karena kami sudah melaksanakan sholat jamak qashar di rest area saat perjalanan dari Makkah, setelah mengucapkan salam kepada Rasulullah SAW, kami berkeliling halaman atau pelataran Masjid Nabawi.


Lokasi Makbarah Rasulullah SAW dijaga sangat ketat oleh petugas atau askar Otoritas Kerajaan Arab Saudi. Bahkan tampak ada yang dipersenjatai sambil memantau lalu-lalang jamaah yang murur atau melintasi makbarah. Sedangkan bagi jamaah yang akan ke Raudhah menggunakan sistem atau mekanisme yang ditetapkan oleh otoritas Arab Saudi.
Sebagaimana saya singgung di atas, hotel yang kami tempati berada di selatan (agak ke barat laut) Masjid Nabawi. Lokasinya berada di depan Makbarah Rasulullah SAW atau depan imam, sehingga berpeluang untuk selalu berada di saf paling depan saat sholat. Jika datang lebih awal dimungkinkan bisa sholat di dalam kompleks Raudhah, sedangkan yang datang di akhir bisa sholat di halaman depan masjid. Risikonya, bagi yang tidak paham, akan sholat dengan membelakangi imam sehingga sholatnya tidak sah.
Oleh karena itu, sejak dari Makkah, Bapak Alwi dan Ny. Azizah mewanti-wanti jamaah KBIHU Al-Mabrur yang kebagian sholat di halaman agar sholat di belakang imam dan tidak boleh membelakangi imam. Untuk mengetahui posisi imam dari area pelataran luar, jamaah dapat melihat lampu indikator khusus yang ada di dinding depan atau menara, serta melihat posisi saf terdepan jamaah yang menghadap ke arah kiblat.
Pekuburan Baqi berada di sebelah timur Masjid Nabawi, tetapi kami masih belum diperbolehkan memasukinya. Saya hanya memberitahukan kepada kawan-kawan yang mengikuti saya bahwa rumah Sayyidina Utsman bin Affan, salah satu Khulafaur Rasyidin, berada di pintu masuk Baqi sehingga tidak bisa dibangun masjid seperti tiga Khulafaur Rasyidin yang lain. Namun, peninggalan Sayyidina Utsman RA yang paling masyhur sampai sekarang adalah Sumur Raumah dan Mushaf Al-Qur’an kuno. Wakaf sumur tersebut terus berkembang hingga hari ini, menghasilkan hotel dan rekening abadi yang keuntungannya disalurkan untuk fakir miskin serta anak yatim. Sedangkan mushaf Al-Qur’an kuno bisa dilihat saat jamaah dibawa ke Museum Haramain di Makkah.


Dari Kuburan Baqi, kami berlima terus berjalan ke arah utara masjid melewati tempat sholat jamaah perempuan, kemudian berbelok ke barat. Sesampainya di Tsaqifah Bani Sa’idah, kami berhenti sejenak untuk melihatnya dan membayangkan bagaimana keadaan saat Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dipilih dan dibaiat menjadi khalifah pertama kaum Muslimin menggantikan Rasulullah SAW yang telah wafat, serta tempat awal mula munculnya embrio perpecahan di kalangan sahabat pada waktu itu.
Setelah itu, kami terus berjalan ke arah selatan, keluar melalui pagar masjid nomor 310 menuju Masjid Ghamamah, kemudian ke Masjid Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Masjid Sayyidina Ali Karramallahu Wajhah yang lokasinya berdekatan. Setelah itu, kami kembali lagi ke hotel melewati Masjid Umar bin Khattab RA.
Melalui pesan WhatsApp Group, Bapak Alwi mengumumkan agar jamaah berkumpul pukul 18.30 WAS di bawah hotel untuk menghaturkan salam kepada Rasulullah SAW bersama-sama. Oleh karena mayoritas jamaah masih baru sampai, belum siap, dan belum bisa dikondisikan, maka rencana dimaksud ditunda keesokan harinya ba’da sholat Subuh berjamaah di masjid.
Sedangkan saya sendiri, setelah sholat Magrib di kamar, berangkat ke Masjid Nabawi untuk melaksanakan sholat Isya berjamaah. Oleh karena datang agak akhir, saya kebagian tempat di rooftop Masjid Nabawi. Selesai sholat, saya langsung menghaturkan salam kepada Baginda Nabi Muhammad SAW/Rasulullah SAW/Habibullah/Abi Qasim, serta kepada sahabat beliau, yaitu Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Sayyidina Umar bin Khattab RA, dengan hanya murur atau melintasi makbarah beliau yang sudah diatur oleh pihak keamanan Masjid Nabawi melalui Babussalam (Pintu Nomor 1) yang dibuka setelah selesai sholat fardu.

Makbarah Rasulullah SAW terletak di kompleks Masjid Nabawi, tepat di bawah Kubah Hijau (Green Dome). Makam beliau berada di area yang dulunya merupakan rumah beliau dan istri beliau, Sayyidah Aisyah RA. Di dalam bangunan makbarah tersebut juga bersemayam dua sahabat terdekat sekaligus khalifah pertama dan kedua umat Islam, yaitu Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dan Umar bin Khattab RA.
Saat kami “acabis” dengan hanya murur, terlihat jelas pada area dinding pembatas emas (muwajahah) Makbarah Rasulullah SAW terdapat tiga lubang bundar berpenutup emas, yaitu:
• Lubang Pertama (Paling Kiri): Lubang terbesar dan paling menonjol yang menjadi penanda posisi persis wajah Rasulullah SAW.
• Lubang Kedua: Berada di tengah sebagai penanda makam Abu Bakar Ash-Shiddiq RA.
• Lubang Ketiga (Paling Kanan): Sebagai penanda makam Umar bin Khattab RA.
Tiga lubang dimaksud sebenarnya dapat digunakan untuk memberi salam dan berdoa. Namun, makam di dalamnya tidak terlihat karena dinding tertutup rapat. Oleh karena situasinya tidak memungkinkan, saya tidak berhenti. Saya terus berjalan pelan di tengah padatnya jamaah, memperbanyak bacaan sholawat, sambil menghaturkan salam kepada Beliau, melambaikan tangan, dan berdoa dalam hati.



Berdasarkan referensi yang saya baca, di atas atap Makbarah Rasulullah SAW juga terdapat lubang yang pernah dipakai untuk meminta hujan saat kekeringan melanda Madinah. Ummul Mukminin Sayyidah Aisyah RA pernah memerintahkan untuk membuka atau membuat lubang di atap makam sehingga makam dan langit tidak terhalang atap. Hal ini dilakukan agar rahmat Allah SWT turun melalui celah tersebut dan hujan segera turun di Madinah.
Tiga Kegiatan Penuh Makna Satu Hari Setelah Tiba di Madinah
Satu hari setelah kedatangan, tepatnya pada Jumat, 12 Juni 2026 M / 26 Dzulhijjah 1447 H, jamaah Kloter SUB-74 yang bergabung dengan KBIHU Al-Mabrur mengadakan kegiatan penuh makna, meliputi:
Kegiatan Pertama, setelah sholat Subuh, rombongan jamaah KBIHU Al-Mabrur menghaturkan salam kepada Rasulullah SAW sebagaimana yang saya lakukan dan telah dijelaskan di atas.

Kegiatan Kedua, setelah menghaturkan salam kepada Rasulullah SAW dan dua sahabat beliau. Bapak Alwi membawa rombongan berziarah ke Kuburan Baqi atau yang lebih dikenal dengan Jannatul Baqi, yang merupakan kompleks pemakaman utama di Madinah, tempat peristirahatan terakhir lebih dari 10.000 sahabat, keluarga, dan kerabat Nabi Muhammad SAW.

Berdasarkan informasi dan sumber yang saya baca, ada sejumlah sahabat utama yang dimakamkan di Baqi, di antaranya Sahabat Utsman bin Affan (Khulafaur Rasyidin), Abdurrahman bin Auf (Sahabat dari kalangan saudagar dan merupakan salah satu dari 10 sahabat yang dijamin masuk syurga). Kemudian Sa’ad bin Abi Waqqash (sahabat yang terkenal sebagai pemanah hebat dan pembangun Kota Kufah), As’ad bin Zurarah (sahabat kaum Anshar yang menjadi orang pertama yang dimakamkan di Baqi’), Utsman bin Mazh’un (sahabat dari Kaum Muhajirin yang pertama kali dimakamkan di Baqi’), Abdullah bin Mas’ud (Ahli Alquran dan sahabat awal yang wafat pada masa kekhalifahan Usman Bin Affan), dan Abu Sa’id Al-Khudri (sahabat dari kalangan Anshar yang banyak meriwayatkan Hadits).


Sedangkan keluarga Nabi Muhammad SAW yang dimakamkan di Baqi antara lain istri-istri beliau, seperti Sayyidah Aisyah, Hafshah binti Umar, Ummu Salamah, Juwairiyah, dan Zainab, (kecuali Khadijah binti Khuwailid dan Maimunah binti Al-Harits). Selain itu, putri-putri Nabi, yaitu Fatimah Az-Zahra, Zainab, Ruqayyah, dan Ummu Kultsum, serta putra beliau (Ibrahim) dan cucu beliau Hasan bin Ali.
Kegiatan Ketiga, berziarah ke Raudhah yang merupakan kegiatan utama setelah menghaturkan salam kepada Rasulullah SAW dan memohon syafaat beliau. Semua jamaah haji dan umrah yang datang ke Madinah pada umumnya memiliki tujuan utama untuk berdoa dan melaksanakan sholat di Raudhah.
Raudhah adalah area istimewa di dalam Masjid Nabawi yang terletak di antara rumah (kini menjadi makbarah) dan mimbar Rasulullah SAW. Raudhah disebut sebagai taman surga yang diyakini sangat mustajab untuk berdoa. Akses masuk ke Raudhah diatur dan memerlukan izin resmi melalui aplikasi Nusuk. Sedangkan kami dapat masuk menggunakan tasyrih secara kolektif berkat pengondisian yang diupayakan oleh syarikah.

Area Raudhah di Masjid Nabawi ditandai oleh enam pilar atau tiang bersejarah yang dicat dengan corak emas dan hitam. Tiang-tiang ini memiliki keutamaan spiritual dan kisah sejarah masing-masing pada masa hidup Rasulullah SAW, meliputi:
1. Tiang Aisyah (Usthuwaanah Aisyah): Terletak di tengah Raudhah. Tiang ketiga dari makam dan mimbar ini sangat istimewa karena dinamai untuk menghormati Ummul Mukminin Aisyah RA.
2. Tiang Mukhallaqah: Berfungsi sebagai tempat bersandar Rasulullah SAW. Dinamai Mukhallaqah karena tiang ini sering diberi wewangian oleh para sahabat.
3. Tiang Taubat (Usthuwaanah At-Taubah): Tempat sahabat Abu Lubabah mengikat dirinya hingga dosanya diampuni. Di tiang ini umat Islam biasa bermunajat memohon ampun.
4. Tiang Sarir (Kasur): Terletak di sebelah Tiang Abu Lubabah. Dahulu Rasulullah SAW biasa meletakkan tempat tidur (sarir) di sini saat beri’tikaf.
5. Tiang Penjaga atau Ali (Usthuwaanah Al-Haras): Berada di bagian tengah, tempat para sahabat berjaga menjaga Rasulullah SAW.
6. Tiang Delegasi (Usthuwaanah Al-Wufuud): Tempat Rasulullah SAW biasa duduk untuk menerima tamu atau delegasi dari berbagai suku.
Mimbar Rasulullah SAW terletak di bagian depan area Raudhah, berada tepat di sebelah kiri makam Rasulullah SAW, membatasi area Raudhah di sebelah barat, dan menjadi salah satu titik paling bersejarah. Berikut adalah detail lokasi dan posisinya:

⁃ Sisi kanan mimbar adalah area Raudhah yang sering disebut sebagai “Taman Surga”.
⁃ Sisi kiri mimbar merupakan rumah dan makam Rasulullah SAW.
⁃ Tanda fisik: Saat ini, mimbar Nabi berada persis di sebelah barat mimbar marmer yang digunakan oleh imam saat ini.
Petugas PPIH Arab Saudi Daker Madinah Sektor Khusus Masjid Nabawi sangat terasa perannya saat kami dikondisikan bisa masuk ke Raudhah menggunakan tasyrih. Pemberitahuan tersebut diumumkan melalui grup WhatsApp sejak kami pertama kali tiba di Madinah oleh Bimbad Kloter, Bapak Prof. Dr. Imam Amruzi.
Jadwal jamaah perempuan Kloter SUB-74 pukul 06.30 WAS dikomandani oleh Kakloter dan Ny. Azizah, sedangkan jamaah laki-laki pukul 13.00 WAS (ba’da sholat Jumat) dikomandani oleh Bimbad Kloter dan dibantu oleh dua tenaga kesehatan kloter. Sementara itu, Bapak Alwi selaku pembimbing mengatur jamaah agar mengikuti arahan yang telah ditetapkan.
Setelah istri saya dan Emmak kembali dari Raudhah, pukul 10.00 WAS saya berangkat untuk bergabung dengan jamaah KBIHU Al-Mabrur yang sudah berkumpul di dalam pintu pagar nomor 310, kemudian berangkat menuju pintu nomor 37 yang berada dekat Kuburan Baqi. Kami semua duduk di halaman luar selama kurang lebih dua setengah jam menunggu pelaksanaan sholat Jumat.
Selesai sholat Jumat, kami dikondisikan untuk berbaris rapi oleh petugas dari Sektor Khusus Masjid Nabawi Daker Madinah PPIH Arab Saudi, kemudian diberangkatkan sesuai urutan barisan. Sedangkan pengguna kursi roda diberangkatkan lebih awal masuk ke Raudhah dengan tertib.

Sesampainya di dalam Raudhah, terlihat tempat Tahfidz Al-Qur’an (Babul Jibril) yang berada di samping makbarah, Ahlus Suffah, dan pelataran Sayyidah Aisyah yang berada di belakang makbarah tampak sangat lengang, tidak ada orang, karena diberi pembatas. Kami diarahkan ke kompleks Raudhah dengan tertib untuk melaksanakan sholat sunah dan berdoa dengan batas waktu maksimal 15 menit.
Selesai dari Raudhah, kami kembali ke hotel dengan membawa perasaan haru dan keyakinan bahwa doa-doa yang kami panjatkan selama berada di Raudhah akan dikabulkan oleh Allah SWT Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Kegiatan Ziarah ke Masjid Quba, Melintasi Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud
Sabtu, 13 Juni 2026 M / 27 Dzulhijjah 1447 H, pukul 07.00 WAS, sebanyak delapan bus yang disediakan oleh PPIH Sektor 5 Daker Madinah berangkat dari hotel membawa rombongan Kloter SUB-74 untuk berziarah ke Masjid Quba, melintasi Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud.
Sebelum ke Masjid Quba, rombongan dibawa terlebih dahulu ke kebun kurma yang sempat diprotes oleh kami karena tidak langsung menuju Masjid Quba terlebih dahulu. Sebab, mayoritas jamaah masih dalam keadaan suci dari hadats dan ingin segera melaksanakan sholat di Masjid Quba.

Selaku Karom 3, saya menginstruksikan bahwa waktu di kebun kurma hanya 15 menit karena tujuan utama hari itu adalah Masjid Quba. Sangat disayangkan jika wudu batal karena terlalu lama berada di kebun kurma. Setelah selesai berbelanja, jamaah langsung kembali ke bus walaupun waktunya sempat molor. Selanjutnya, rombongan langsung berangkat ke Masjid Quba dengan waktu tempuh sekitar 15 menit dari kebun kurma.
Masjid Quba
Sesampainya di Quba, sebelum turun saya mengumumkan bahwa waktu untuk sholat dan berdoa di dalam Masjid Quba maksimal 20 menit. Kemudian jamaah turun dari bus dan langsung menuju pintu masuk masjid sesuai jenis kelamin masing-masing karena seluruh jamaah sudah memiliki wudu.

Saya bersama H. Holis, Karu Regu 1 Rombongan 3, langsung masuk ke dalam masjid. Alhamdulillah, kami bisa melaksanakan Sholat Tahiyatul Masjid, dilanjutkan dengan sholat Dhuha. Setelah itu, kami berdoa di bawah kubah tengah Masjid Quba. Setelah selesai sholat dan berdoa, jamaah kembali ke bus sesuai instruksi yang telah diberikan.


Sekilas ingin saya sajikan sejarah tentang Masjid Quba sebagaimana saya ceritakan kepada jamaah Rombongan 3 di atas bus sebagai berikut:
Masjid Quba adalah masjid pertama yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW pada tahun 1 Hijriah (622 M). Rasulullah SAW meletakkan batu pertama dan ikut membangunnya bersama para sahabat saat beliau singgah di Quba dalam perjalanan hijrah dari Makkah ke Madinah. Masjid ini terletak sekitar 4 km di sebelah tenggara Masjid Nabawi di Madinah dan sangat istimewa karena sholat di dalamnya bernilai pahala setara umrah bagi orang yang bersuci dari rumah atau hotel sebelum mendatanginya, sebagaimana hadis yang menyatakan: “Barang siapa bersuci di rumahnya, kemudian mendatangi Masjid Quba dan sholat di dalamnya, maka baginya pahala seperti pahala umrah.”
Masjid Quba yang saat ini memiliki area sangat luas dan mampu menampung sekitar 66.000 jamaah, dilengkapi fasilitas yang nyaman dan sangat dicintai oleh Rasulullah SAW. Dalam beberapa riwayat, beliau memiliki rutinitas mengunjunginya setiap hari Sabtu, baik dengan berjalan kaki maupun berkendara.
Dari Masjid Quba, bus melaju menuju Gunung Uhud dan melewati Masjid Qiblatain dengan jarak tempuh sekitar 30 menit.
Masjid Qiblatain
Masjid Qiblatain (artinya: masjid dua kiblat) adalah masjid bersejarah di Madinah, tempat turunnya wahyu QS. Al-Baqarah ayat 144 yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW memindahkan arah kiblat dari Masjid Al-Aqsa (Yerusalem) ke Ka’bah (Makkah) pada tahun 2 Hijriah.
Turunnya ayat tersebut terjadi ketika Nabi Muhammad SAW sedang memimpin sholat Zuhur berjamaah. Beliau langsung memutar arah sholat sebesar 180 derajat dan diikuti oleh para sahabat.
Berikut adalah bacaannya dan artinya:
قَدْ نَرَىٰ تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ ۖ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا ۚ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ ۚ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ ۗ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ
Artinya: “Sungguh, Kami sering melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Kitab (Taurat dan Injil) tahu bahwa (pemindahan kiblat) itu adalah kebenaran dari Tuhan mereka. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan.”
Peristiwa perubahan kiblat terjadi ketika Nabi Muhammad SAW sedang mengunjungi Ummu Bisyr binti Al-Bara atau Bisyr bin Al-Bara bin Ma’rur dari Kabilah Bani Salamah di Madinah. Beliau datang untuk melayat dan menenangkan sang ibu yang sedang berduka.
Untuk mengenang peristiwa penting tersebut, lokasi bekas rumah dan tempat sholat Bani Salamah itu kemudian didirikan sebuah masjid bersejarah yang sekarang dikenal sebagai Masjid Qiblatain, yang berarti masjid dengan dua kiblat. Lokasinya berada di perkampungan Bani Salamah (Distrik Al-Baida), sekitar 7 km di barat laut Masjid Nabawi.
Bus terus melaju menuju Gunung Uhud. Selama perjalanan, jamaah menyimak cerita saya yang menjadi “mutawwif” tentang kisah Salman Al-Farisi yang dibebaskan dari perbudakan dan menjadi arsitek strategi Perang Khandaq, kisah Kurma Ajwa, serta Perang Uhud setelah Perang Badar.
Jabal (Gunung) Uhud
Pukul 09.30 WAS, bus yang membawa kami tiba di Jabal Uhud. Cuacanya sangat panas sehingga jamaah yang turun dianjurkan memakai payung dan kacamata hitam. Sepanjang perjalanan saya telah menceritakan kepada jamaah terkait sejarah Perang Uhud dan gugurnya 70 sahabat yang dimakamkan di kaki Gunung Uhud.
Pada saat itu, Rasulullah SAW menginstruksikan agar para syuhada yang gugur tidak dimandikan, tidak perlu dikafani, dan tidak perlu disholatkan. Mereka langsung dikuburkan sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan mereka sebagai syuhada Uhud.

Salah satu yang gugur dalam Perang Uhud adalah paman Nabi Muhammad SAW, Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib.
Jamaah kemudian menuju kompleks makam Syuhada Uhud yang berada di kaki gunung. Dari depan kompleks makam, tampak dengan jelas Jabal Rimah. Jamaah mengelilingi Bapak Alwi yang memimpin salam kepada para Syuhada Uhud sekaligus menceritakan secara singkat kisah Perang Uhud. Di samping kompleks makam yang dipagari tembok dan besi tersebut, jamaah hanya dapat melihat makam dari luar pagar. Setelah itu, kami langsung kembali ke bus setelah menyempatkan diri berfoto bersama.
Perjalanan dari Uhud menuju hotel ditempuh sekitar 30 menit. Pukul 11.30 WAS, bus yang kami tumpangi tiba lebih dahulu di hotel, kemudian disusul bus lain sekitar 15 menit setelahnya.
Sekilas saya sajikan sejarah Perang Uhud sebagaimana yang saya ceritakan kepada jamaah selama perjalanan:
Setelah kekalahan dalam Perang Badar yang terjadi pada 17 Ramadan tahun ke-2 Hijriah (bertepatan dengan 13 Maret 624 M), orang-orang Quraisy menyimpan dendam yang sangat besar kepada kaum Muslimin. Dalam Perang Badar, pasukan Muslim yang hanya berjumlah 313 orang berhasil mengalahkan sekitar 1.000 pasukan Quraisy. Perang yang terjadi di Lembah Badar ini, dimenangkan oleh pasukan muslim. Sekitar 70 tokoh Quraisy, termasuk pimpinan mereka (Abu Jahal), tewas. Adapun 70 lainnya ditawan. Sementara itu, 14 pejuang Muslim gugur sebagai syuhada.
Kaum Quraisy tidak menerima kekalahan tersebut. Oleh karena itu, Abu Sufyan bersama istrinya, Hindun, memimpin dan menghimpun kekuatan untuk membalas dendam, terutama karena mereka ingin membalas kematian anggota keluarga mereka.
Hindun dan Jubair bin Muth’im kemudian menyewa seorang budak bernama Wahsyi bin Harb untuk membunuh Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib, paman Nabi Muhammad SAW. Dari sinilah kemudian meletus Perang Uhud.
Perang Uhud merupakan pertempuran besar antara kaum Muslimin dan kaum Quraisy Makkah yang terjadi pada 15 Syawal tahun 3 Hijriah ( Maret 625 M) di sekitar Gunung Uhud, Madinah. Pasukan Quraisy berjumlah sekitar 3.000 orang di bawah pimpinan Abu Sufyan. Sementara itu, pasukan Muslim hanya berjumlah sekitar 700 orang dan dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW.
Strategi yang digunakan Rasulullah SAW adalah menempatkan 50 pasukan pemanah di atas Bukit Pemanah (Jabal Ar-Rumah), lalu memberikan instruksi tegas agar mereka tidak meninggalkan posisi dalam keadaan apa pun.
Pada awal pertempuran, kaum Muslimin berhasil mendominasi dan membuat pasukan Quraisy kocar-kacir. Namun, sebagian besar pasukan pemanah turun dari bukit karena mengira perang telah selesai dan tergiur oleh harta rampasan perang (ghanimah).
Melihat bukit penjagaan kosong, Khalid bin Walid yang saat itu masih berada di pihak kafir Quraisy memimpin pasukan berkuda memutar dari belakang dan menyerang barisan belakang pasukan Muslim. Serangan mendadak tersebut membalikkan keadaan. Sekitar 70 sahabat gugur sebagai syuhada, termasuk Sayyidina Hamzah bin Abdul Muthalib. Rasulullah SAW sendiri mengalami luka yang cukup parah. Wajah beliau terluka parah, salah satu gigi beliau patah, dan pipi beliau tertancap pecahan besi dari topi baja yang dikenakannya.
Sahabat utama yang gugur dalam Perang Uhud di antaranya:
⁃ Hamzah bin Abdul Muthalib: Paman Rasulullah SAW yang dijuluki As’adullah (Singa Allah).
⁃ Mush’ab bin Umair: Pemuda yang menjadi duta besar atau pendakwah pertama Islam di Madinah, pembawa panji bendera panji Islam dalam Perang Uhud, dan perisai Rasulullah SAW dengan mengorbankan dirinya.
⁃ Abdullah bin Jahsy: Salah satu sahabat Muhajirin generasi awal.
⁃ Hanzhalah bin Abi Amir: Sahabat yang dikenal dimandikan oleh para malaikat karena syahid saat baru saja menikah.
⁃ Amru bin Al-Jamuh dan Abdullah bin Amru bin Haram: Sahabat pemberani yang gugur sebagai syuhada dan jenazahnya ditemukan tetap utuh bertahun-tahun kemudian.
Gunung Uhud sangat dicintai oleh Rasulullah SAW. Beliau pernah bersabda bahwa Uhud adalah sebuah gunung yang kelak berada di Syurga. Beliau juga menganjurkan umat Islam untuk berziarah ke makam para syuhada guna mendoakan mereka serta mengingat kematian.
Saat berziarah, umat Islam disunahkan mengucapkan salam dan mendoakan keselamatan bagi para syuhada sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW:
أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَاعَــمَّ النَّبِـيِّ سَيِّدِنَا حَمْزَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ. أَلسَّلَامُ عَلَيكَ يَاأَسَدَاللهِ وَأَسَدَ رَسُوْلِ اللهِ، أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا سَيِّدِ الشُّهَدَاءِ، أَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَامُصْعَبَ بْنِ عُمَيْرٍ، يَا قَاعِدَ الْمُخْتَارِ، يَامَنْ أَثْبَتَ قَدَمَيْهِ عَلَى الرِّمَاهِ حَتَّى أَتَاهُ الْيَقِـيْنُ
Assalaamu’alaika yaa ‘ammannabiyyi sayyidinaa hamzatabni ‘abdil-muththalib. Assalaamu’alaika yaa asadallaahi wa asada rasuulillaah, assalaamu’alaika yaa sayyidisy-syuhadaa-i, assalaamu ‘alaika yaa mush’ababni Umair, yaa qaa’idal-mukhtaar, yaa man atsbata qadamaihi ‘alar-rimaahi hattaa ataahul-yaqiin.
أَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا شُهَدَاءَ أُحُدٍ، أَللّٰهُمَّ أَجْزِهِمْ عَنِ الْإِسْلَامِ وَأَهْلِهِ أَفْضَلَ الْجَزَاءِ، وَارْفَعْ دَرَجَاتِهِمْ وَأَكْرِمْ مَقَامَهُمْ بِفَضْلِكَ وَكَرَمِكَ يَا أَكْرَمَ الْأَكْرَمِينَ
Assalaamu’alaikum yaa syuhadaa-a Uhud. Allaahumma ajzihim ‘anil Islaami wa ahlihi afdhalal jazaa-i, warfa’ darajaatihim wa akrim maqaamahum bifadhlika wa karamika yaa akramal akramin.
Aktivitas Jamaah di Madinah Menjelang Kembali ke Tanah Air
Setelah berziarah ke tempat-tempat penuh makna di Madinah sebagaimana tersebut di atas, jamaah kembali melakukan aktivitas seperti biasa, yaitu melaksanakan sholat berjamaah lima waktu di Masjid Nabawi, mengaji di Masjid Nabawi, serta berziarah ke Raudhah secara mandiri dengan menggunakan aplikasi Nusuk melalui smart phone masing-masing.
Peran petugas Kloter SUB-74 tidak sebanyak ketika di Makkah. Terlihat dokter kloter aktif melayani dan mengobati jamaah yang sakit, mendampingi jamaah laki-laki saat ke Raudhah bersama Bimbad kloter yang sudah mulai aktif melayani jamaah, walau masih harus diingatkan untuk lebih aktif berkomunikasi dengan sesama petugas yang lain dan mengatur jamaah saat city tour.
Sedangkan Kakloter mendampingi jamaah perempuan ke Raudhah dan tidak ikut saat city tour ke Kebun Kurma, Masjid Quba, melintas Masjid Qiblatain, dan Jabal Uhud.
Selain aktivitas ibadah, para jamaah banyak yang memanfaatkan waktu luang dengan menambah oleh-oleh untuk sanak famili, kerabat, dan teman-teman mereka, sembari menunggu waktu kepulangan yang dijadwalkan hari Jum’at, tanggal 19 Juni 2026, pukul 23.55 WAS dari Bandara Madinah.
Penulis adalah Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan yang pada tahun ini menunaikan Ibadah Haji bersama Istri, Ibu dan Ibu Mertua







