Opini

Catatan Perjalanan Menunaikan Ibadah Haji 1447 H/2026 M (7): Catatan Evaluasi saat Kami Ikut Haji Reguler

*Oleh: Taufadi

Pada catatan (7) ini, saya ingin menyajikan evaluasi terkait fasilitas yang diberikan oleh Kemenhaj sejak keberangkatan, saat berada di asrama haji, di Bandara Juanda Surabaya, selama penerbangan, serta pelayanan PPIH Arab Saudi saat tiba di Bandara Jeddah, selama tinggal di Makkah, saat pelaksanaan Armuzna, hingga pelayanan yang kami rasakan sebelum berangkat ke Madinah.

Adapun catatan selama berada di Madinah belum dapat kami sajikan dalam tulisan ini karena keterbatasan waktu dan naskah ini harus segera dicetak dalam bentuk buku. Oleh karena itu, catatan tersebut akan disajikan dalam lembaran tersendiri yang nantinya akan disatukan dengan buku saat dibagikan kepada para peziarah dan handai tolan.

Secara umum, tata kelola pelaksanaan ibadah haji Tahun 1447 H/2026 M yang kami rasakan sudah cukup baik. Terdapat peningkatan kualitas pelayanan. Meminjam pernyataan dari Kementerian Haji Arab Saudi, penyelenggaraan haji tahun ini telah mengalami lompatan perbaikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Catatan ini saya sajikan dengan Nawaitu memberikan informasi berdasarkan fakta yang kami temui di lapangan, atau juga bisa dimaknai sebagai kritik konstruktif kepada para pemangku kebijakan di Kementerian Haji dan Umrah RI dan stakeholder terkait, agar pelayanan penyelenggaraan ibadah haji pada masa mendatang menjadi lebih baik.

Perkenankan saya menyampaikan beberapa catatan evaluasi, baik yang bersifat positif maupun negatif, yang kami alami, kami lihat dan jumpai, serta yang kami rasakan selama menjadi jamaah haji reguler Tahun 1447 H/2026 M yang tergabung dalam Embarkasi Surabaya Kloter SUB-74.

Tradisi Saat Keberangkatan dan Pemberangkatan

Sebagaimana telah saya ceritakan pada catatan (1), terdapat beberapa tradisi keberangkatan yang menurut hemat saya menjadi catatan positif, antara lain:
• Tradisi mengadakan acara walimatus safar atau walimatul hajj (sesuai kemampuan) sebagai forum silaturahmi, saling mendoakan, dan saling bermaafan.
• Tradisi saat keberangkatan dari rumah menuju lokasi pelepasan pemberangkatan jamaah haji yang diawali dengan salat safar dua rakaat.
• Talkin (dituntun) berdoa di dalam rumah, di luar rumah, saat duduk di kendaraan, maupun saat kendaraan mulai bergerak.
• Tradisi saling bersalaman dan bermaafan dengan keluarga, kerabat, dan tetangga.
• Pengumandangan adzan dan iqamah saat kami berangkat menuju lokasi pelepasan pemberangkatan.

Sesampainya di lokasi pelepasan (Masjid as-Syuhada’ Pamekasan), Pemerintah Daerah bersama Kementerian Haji Kabupaten melaksanakan upacara pelepasan jamaah haji menuju asrama haji sukolilo surabaya sesuai ketentuan dan tradisi. Selain itu, dilakukan pula doa bersama untuk keselamatan jamaah, disertai pengumandangan adzan dan iqamah ketika bus yang membawa kami mulai bergerak.

Hal positif lainnya adalah perputaran ekonomi yang terjadi saat pelepasan jamaah haji. Banyak pedagang musiman dan penyedia jasa layanan yang memadati area pelepasan. Kondisi ini turut memberikan dampak terhadap peningkatan pendapatan pedagang di sekitar lokasi maupun tempat penginapan.

Tradisi pengajian/mendoakan di rumah selama kami Berada di Tanah Suci

Tradisi lainnya yang masih kuat dijumpai di kalangan masyarakat Madura adalah tradisi mendoakan jamaah haji selama jamaah tersebut berada di Tanah Suci.

Tradisi ini juga dilaksanakan di rumah kami yang berada di Kelurahan Lawangan Daya, Kecamatan Pademawu, Kabupaten Pamekasan. Sejak kami berangkat menunaikan ibadah haji, keluarga, sanak saudara, kerabat, tetangga, teman-sahabat , serta masyarakat sekitar yang memiliki hubungan kekeluargaan dan kedekatan dengan kami secara bergantian hadir untuk mengikuti pengajian dan doa bersama.

Kegiatan tersebut diisi dengan pembacaan Surah Yasin, Shalawat Haji, dan doa-doa yang ditujukan untuk keselamatan, kesehatan, serta kelancaran ibadah jamaah yang sedang berada di Tanah Suci. Melalui doa-doa tersebut, mereka berharap agar kami diberikan kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji, memperoleh haji yang mabrur, serta dapat kembali ke tanah air dalam keadaan sehat dan selamat.

Berdasarkan informasi yang kami terima dari keluarga di rumah, kegiatan doa bersama tersebut berlangsung secara rutin selama kami berada di Tanah Suci. Tradisi seperti ini masih cukup kuat dijumpai di tengah masyarakat Madura, meskipun bentuk dan lamanya pelaksanaan berbeda-beda pada setiap keluarga. Ada yang melaksanakannya selama 40 hari sejak keberangkatan hingga kepulangan jamaah ke tanah air, ada yang melaksanakannya selama 20 hari, dan ada pula yang mengakhirinya setelah pelaksanaan puncak ibadah haji di Armuzna selesai.

Tradisi tersebut menunjukkan kuatnya ikatan sosial dan spiritual masyarakat Madura terhadap jamaah haji. Ketika seorang jamaah berada di Tanah Suci, sesungguhnya ia tidak pernah berjuang sendirian, karena di kampung halaman selalu ada keluarga, kerabat, tetangga, dan masyarakat yang terus memanjatkan doa untuk keselamatan dan keberhasilannya dalam menunaikan ibadah haji.

Setelah jamaah kembali ke tanah air, tradisi tersebut biasanya dilanjutkan dengan kegiatan silaturahmi atau berkunjung ke rumah jamaah yang baru pulang dari Tanah Suci. Masyarakat datang untuk mengucapkan syukur, mendengarkan cerita perjalanan haji, meminta doa, sekaligus mempererat hubungan kekeluargaan dan persaudaraan yang telah terjalin selama ini.

Menurut hemat saya, tradisi ini merupakan salah satu kearifan lokal yang patut dipertahankan, karena selain memperkuat ukhuwah dan solidaritas sosial, juga menjadi bentuk dukungan moral dan spiritual bagi jamaah yang sedang menunaikan ibadah haji jauh dari keluarga dan kampung halamannya.

Adapun catatan negatif yang kami temui antara lain:
• Jika tidak diatur secara ketat dan tidak disertai skema pengalihan lalu lintas yang memadai, tradisi mengantar jamaah haji berpotensi mengganggu pengguna jalan lainnya.
• Pengantar belum memiliki budaya tertib saat mengantar jamaah, sehingga pihak kepolisian harus menyediakan layanan ojek gratis untuk membantu jamaah dari lokasi parkir menuju bus.
• Minimnya kesadaran pengantar terhadap kebersihan mengharuskan pemerintah daerah menambah alokasi anggaran dan tenaga kebersihan untuk membersihkan area pelepasan.
• Kurang cermatnya pihak penyelenggara dalam memilih penyedia jasa transportasi menyebabkan salah satu bus mengalami mogok di tengah perjalanan saat mengantarkan jamaah dari Pamekasan menuju Asrama Haji.

Fasilitas dan Pelayanan Saat di Asrama Haji Sukolilo Surabaya

Catatan evaluasi mengenai Asrama Haji telah saya singgung dalam Catatan (2). Pada bagian ini saya ingin menyajikan secara spesifik beberapa catatan positif dan negatif sebagai berikut :

Catatan Positif

• Prosesi penerimaan jamaah, pembagian logistik dan perlengkapan jamaah sudah baik.
• Fasilitas yang kami terima selama berada di asrama haji dirasakan sesuai dengan kelas standart jamaah reguler, meskipun belum mencapai kategori medium, seperti konsumsi dan kamar asrama selama satu malam.
• Diberlakukannya larangan memasuki area asrama haji bagi selain jamaah dan petugas.
• Diadakan kegiatan pertemuan antara pihak Kementerian Haji, pengurus kloter, karom, dan karu. Honor yang diberikan kepada kami juga telah dipotong pajak sesuai ketentuan.
• Adanya karom dan karu sangat membantu, sehingga tahun berikutnya perlu adanya pelatihan bagi karom dan karu yang ditunjuk melalui KBIHU agar mereka bisa dan layak memberikan bimbingan dan pelayanan kepada jamaahnya.
• Proses pelepasan dari Asrama Haji menuju Bandara sudah sangat baik karena proses check-in dan pemeriksaan imigrasi dilakukan di asrama haji. Dengan demikian, jamaah dapat langsung masuk ke lounge bandara dan hanya menjalani pemeriksaan imigrasi Arab Saudi sebelum naik pesawat.

Sedangkan Catatan Negatifnya :

• Kondisi beberapa gedung asrama yang kami tempati, seperti Gedung F dan G Asrama Haji Sukolilo, memerlukan perawatan.
• Secara umum, gedung asrama masih belum sepenuhnya memenuhi standar ramah lansia dan penyandang disabilitas.
• Penempatan jamaah lansia tidak disatukan dengan pendampingnya (bagi yang membawa pendamping).
• Ketentuan penempatan jamaah pada kamar kategori medium menimbulkan pertanyaan bagi kami, khususnya jamaah Kloter SUB-74 yang ditempatkan di Gedung F dan G yang kondisinya jauh berbeda dibandingkan kamar di Gedung Zam-Zam dan Sofa.

Saat di Bandara Juanda Surabaya, Selama Penerbangan, dan Saat Tiba di Bandara King Abdul Aziz Jeddah

Catatan Positif:
• Sistem fast track yang diterapkan sudah sangat baik sehingga jamaah tidak direpotkan dengan berbagai prosedur pemeriksaan yang biasanya dilakukan di bandara.
• Ruang tunggu di bandara cukup nyaman dengan ketersediaan tempat duduk yang memadai, air minum gratis, serta lounge khusus perokok meskipun berbayar.
• Secara umum, maskapai yang dipilih oleh Kementerian Haji memberikan pelayanan sesuai dengan standar operasional yang berlaku.
• Konsumsi atau makanan yang disajikan oleh maskapai cukup sesuai dengan selera, meskipun tidak sepenuhnya mencerminkan cita rasa Indonesia.
• Pelayanan pramugari cukup cekatan dengan keramahan yang tidak sama dengan budaya kami.
• Waktu penerbangan sesuai dengan jadwal yang telah disampaikan kepada jamaah.
• Penyambutan petugas di Bandara King Abdul Aziz Jeddah yang membuat jamaah terkesima. Setibanya di bandara, jamaah langsung diarahkan menuju bus tanpa melalui proses pemeriksaan tambahan karena telah menggunakan sistem fast track.

Catatan Negatifnya :
• Tempat sholat yang disediakan di ruang tunggu sebelum masuk ke pesawat kurang luas.
• Penempatan tempat duduk jamaah lansia tidak berbasis data pendamping, sehingga sebagian lansia tidak duduk berdampingan dengan pendampingnya dan tidak ditempatkan pada area yang lebih ramah lansia maupun penyandang disabilitas.
• Sempat terdapat pengumuman dari pramugari yang melarang jamaah buang air besar di toilet pesawat, sebelum akhirnya pengumuman tersebut dibatalkan setelah mendapat protes dari jamaah.
• Pesawat Maskapai Saudi Airlines, sebagaimana telah saya ceritakan pada Catatan (2), tidak dilengkapi televisi sehingga kami tidak memiliki media untuk mengalihkan kejenuhan. Selain itu, jamaah juga tidak dapat mengetahui lokasi udara pesawat, dan tidak tersedia buku panduan doa.
• Maskapai yang digunakan untuk mengangkut jamaah haji sebaiknya menggunakan pilot muslim. Apabila hal tersebut tidak memungkinkan, setidaknya pramugari atau pramugara yang bertugas merupakan muslim atau muslimah sehingga dapat membantu mengingatkan jamaah ketika waktu sholat tiba maupun ketika pesawat sampai di udara daerah dimana kami akan miqat.
• Saat tiba di Bandara Jeddah, Jamaah tidak diperbolehkan berhenti sejenak untuk ke toilet, sehingga cukup menyulitkan jamaah yang kebelet.

Catatan Evaluasi Selama Tinggal di Makkah

Di Makkah, kami ditempatkan di Hotel Al-Ahbab Al-Kobra Makkah Nomor 412, Sektor 4, daerah Raudah selama kurang lebih 30 hari, terhitung sejak kami tiba pada hari Senin, 11 Mei 2026, pukul 01.00 Waktu Arab Saudi sampai dengan hari Kamis, 11 Juni 2026, Pukul: 10.00 WAS.

Selama tinggal di Makkah terdapat banyak catatan evaluasi, baik yang bersifat positif maupun negatif, yang ingin saya sajikan sebagai berikut:

Lokasi dan Fasilitas Hotel yang kami tempati

Catatan Positif:
• Kelas hotel, fasilitas, dan kecukupan kamar sesuai dengan kelas jamaah reguler yang di tempatkan di hotel bintang satu.
• Fasilitas ruangan hotel tergolong cukup memadai, meliputi ruang lobi, kafe, toko oleh-oleh, toilet, masjid, dan restoran yang sering digunakan untuk kegiatan pertemuan.
• Lokasi hotel yang berada di kawasan Syisyah-Raudah dapat dinilai cukup strategis karena berada di antara Masjidil Haram dan kawasan Mina/Jamarat, sehingga dalam kondisi mendesak bisa ditempuh dengan berjalan kaki.
• Seluruh jamaah Kloter SUB-74 ditempatkan dalam satu hotel sehingga memudahkan proses koordinasi dan pengkondisian jamaah.
• Hotel memiliki empat unit lift yang digunakan oleh jamaah untuk naik dan turun.
• Pada saat pembagian kamar tidak ada jamaah yang menyampaikan keberatan atau protes.
• Hotel menyediakan fasilitas air panas, mesin cuci pakaian dan area jemur di rooftop, tangga darurat, serta area lorong kamar yang bisa digunakan tempat nongkrong para perokok.
• Kebersihan hotel cukup terjaga dengan baik dengan petugas kebersihan yang bekerja secara berkala dan bersikap ramah.
• Di sekitar hotel ada masjid, toko kebutuhan harian, serta berbagai toko oleh-oleh yang memudahkan jamaah memenuhi kebutuhannya.

Catatan Negatif:
• Lift hotel yang kami tempati merupakan model lama dengan kapasitas sekitar enam hingga delapan orang, sehingga sering krodit pada waktu-waktu tertentu.
• Kebetulan kami menempati kamar yang sempit dengan kapasitas empat orang.
• Hotel tidak menyediakan handuk bagi jamaah.
• Pendingin ruangan (AC) di hotel sering mengeluarkan bau apek.

Bus Shalawat Beroperasi 24 Jam yang Disediakan Gratis

Catatan Positif

Bus Shalawat yang disediakan secara gratis beroperasi selama 24 jam. Bus diberi nomor dan penanda warna yang jelas sehingga memudahkan jamaah mengenali dan menaikinya. Informasi mengenai perubahan atau penghentian operasional bus juga disampaikan dengan baik, serta didukung petugas transportasi yang responsif dan cekatan.

Secara umum tidak terdapat catatan negatif yang signifikan. Namun, terdapat beberapa pengemudi bus yang cara mengemudinya menyebabkan sebagian penumpang merasa mual selama perjalanan.

Konsumsi/Jatah Makan Jamaah Haji Selama di Makkah

Catatan Positif
• Distribusi konsumsi tidak pernah terlambat dan selalu tepat waktu, dengan menu makanan yang disajikan memiliki cita rasa Indonesia, meskipun tentu tidak mungkin dapat memuaskan seluruh jamaah yang memiliki selera berbeda.
• Petugas PPIH bagian konsumsi terpantau bekerja dengan baik, disiplin, bertanggung jawab, dan melaksanakan tugas sesuai dengan fungsi serta tanggung jawabnya.

Catatan Negatif
Secara umum tidak ditemukan catatan negatif yang berarti terkait konsumsi selama berada di Makkah. Hanya saja, variasi menu yang relatif monoton. Meski demikian hal itu tak pernah dipersoalkan karena para jamaah memilih mengonsumsi lauk yang dibawa sendiri. Selain itu, diperkirakan sekitar 10–15 persen jamaah tidak mengonsumsi jatah makanan yang diberikan sehingga banyak makanan yang akhirnya mubazir karena dibuang setiap hari. Mudah-mudahan ada solusi yang lebih baik pada penyelenggaraan haji tahun-tahun berikutnya.

Petugas PPIH Arab Saudi Sektor 4

Catatan evaluasi mengenai petugas Pelayanan Sektor 4 PPIH Arab Saudi telah saya ceritakan pada Catatan (3) dan Catatan (4). Namun demikian, saya merasa perlu menyampaikan beberapa catatan tambahan sebagai bahan pertimbangan bagi para pemangku kebijakan dan stakeholder terkait dalam proses rekrutmen petugas PPIH Arab Saudi pada masa yang akan datang.

Pejabat Sektor 4 PPIH Arab Saudi

Sampai kami diberangkatkan ke Madinah, saya tidak pernah menjumpai secara langsung seperti siapa Kepala Sektor 4, sebagaimana telah saya ceritakan pada Catatan (3). Sedangkan untuk pejabat di bawahnya, saya hanya pernah melihat mereka saat mendampingi Irjen Kemenhaj yang datang ke hotel tempat kami menginap.

Keterangan foto: Petugas Sektor 4 PPIH Arab Saudi sedang menyalani kloter SUB-74 saat akan berangkat ke Madinah

Namun demikian, demi menjaga objektivitas catatan ini, perlu saya sampaikan bahwa menjelang keberangkatan Kloter SUB-74 menuju Madinah, kami melihat petugas Sektor 4 PPIH Arab Saudi hadir dan terlibat langsung dalam proses pelayanan jamaah. Mereka bahu-membahu mengangkat dan menaikkan koper jamaah ke kendaraan, membantu jamaah naik ke atas bus, serta mendorong dan mendampingi jamaah pengguna kursi roda saat proses keberangkatan. Kehadiran mereka pada saat itu cukup terlihat dan dirasakan oleh jamaah sehingga proses perpindahan dari Makkah menuju Madinah dapat berjalan dengan tertib dan lancar.

Petugas Bagian Landis/Lansia Sektor 4

Catatan Positif :
Catatan positif ini saya tulis berdasarkan informasi yang kami peroleh dari Kakloter, sedangkan saya sendiri tidak pernah melihat mereka secara langsung. Terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan oleh petugas Landis, antara lain:
• Membantu mendorong jamaah lansia menuju kamar hotel saat kedatangan.
• Mengadakan kegiatan senam lansia.
• Memasang stiker bertuliskan “Utamakan Lansia”.
• Melakukan visitasi terhadap jamaah yang diajukan untuk diikutkan Safari Wukuf.

Catatan Negatif :
Sebagaimana telah saya uraikan pada Catatan (3), hingga kami berangkat ke Madinah saya tidak mendengar maupun melihat di media sosial yang menginformasikan adanya pelayanan langsung dari petugas Landis kepada jamaah di hotel yang kami tempati. Alasan yang sering disampaikan adalah keterbatasan jumlah personel.

Jumlah petugas Landis pada setiap sektor rata-rata sama tujuh hingga delapan orang, sedangkan amaah lansia dan jamaah risiko tinggi (resti) di Kloter SUB-74 jumlahnya cukup banyak.

Petugas Bagian Kesehatan Sektor 4

Kami memahami dan memaklumi keterbatasan jumlah tenaga kesehatan yang tersedia di setiap sektor. Namun demikian, keberadaan dan kecukupan tenaga medis sangat diperlukan oleh jamaah yang mayoritas mengalami sakit dan kebanyakan termasuk kategori resti yang membutuhkan layanan kesehatan secara berkelanjutan, seperti di kloter SUB-74, mayoritas jamaah terserang batuk-pilek.

Saat kami duduk di depan hotel sering menjumpai petugas bagian kesehatan sektor 4 yang datang ke hotel membawa obat-obatan, membawa jamaah yang sakit ke Rumah Sakit menggunakan Ambulance, serta mendampingi jamaah gelombang pertama yang ada di hotel saat akan kembali ke Tanah Air

Petugas Bagian Akomodasi Sektor 4

Sebagaimana telah saya singgung pada Catatan (3), petugas bagian akomodasi dinilai kurang menjalankan tugas dan fungsinya secara optimal. Kehadiran mereka hanya terlihat pada saat pembagian kunci kamar ketika jamaah pertama kali tiba di hotel.

Petugas Bagian Bimbingan Ibadah (Bimbad) Sektor 4

Di Sektor 4, petugas yang paling terlihat aktif memberikan pelayanan kepada jamaah adalah petugas bagian Bimbingan Ibadah (Bimbad). Bahkan, dalam beberapa kesempatan saya melihat mereka mengerjakan dan membantu melayani kebutuhan jamaah yang sebenarnya berada di luar tugas dan fungsi pokoknya.

Petugas Kloter SUB-74

Petugas kloter adalah Petugas pelayanan yang ditempatkan pada setiap kloter, salah sarunya petugas kloter SUB-74 yang terdiri dari Ketua Kloter (Kakloter), tenaga kesehatan kloter (seorang dokter dan seorang perawat), serta petugas Bimbingan Ibadah (Bimbad).

Sebagaimana telah saya ceritakan dalam semua Catatan, mereka aktif memberikan melayani jamaah sejak manasik, di Asrama Haji, di bandara, saat penerbangan dan tiba di jeddah. selama perjalanan, saat sampai di hotel, ketika pelaksanaan umrah wajib, saat puncak Armuzna, hingga selama kami berada di Makkah, mereka terus memberikan pelayanan tanpa mengenal lelah.

Petugas kesehatan kloter yang terdiri atas seorang dokter dan seorang perawat juga aktif memberikan pelayanan dengan cara menjemput bola, memeriksa kondisi jamaah, memberikan pengobatan, serta turut membantu berbagai kebutuhan jamaah di luar tugas pokoknya.

Adapun petugas Bimbingan Ibadah (Bimbad) kloter, dalam beberapa kesempatan masih perlu diingatkan terkait tugas dan tanggung jawabnya sebagai petugas yang ditugaskan untuk memberikan pelayanan kepada jamaah.

PHD

PHD merupakan singkatan dari Petugas Haji Daerah, yaitu petugas yang dibentuk oleh pemerintah daerah tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dan ditugaskan khusus untuk mendampingi, melayani, serta membimbing jamaah haji selama berada di Tanah Suci.

PHD di Kloter SUB-74 berasal dari Provinsi Jawa Timur, keberadaannya sangat kami rasakan manfaatnya. Mereka benar-benar hadir untuk membimbing dan melayani jamaah sejak pelaksanaan manasik hingga seluruh rangkaian ibadah haji berlangsung.

Begitupun PHD Kabupaten pamekasan, berdasarkab pengamatan kami mereka yang di tempatkan di Kloter SUB-73, SUB-75, dan SUB-76 terlihat menjalankan tugas dan fungsinya dengan baik, diantaranya :
• Mendampingi dan melayani jamaah lansia sejak keberangkatan dari Pamekasan hingga berada di Makkah.
• Membimbing jamaah yang akan melaksanakan ibadah di Masjidil Haram.
• Memberikan pendampingan saat puncak pelaksanaan Armuzna.
• Memberikan berbagai bentuk pelayanan lain yang diperlukan jamaah selama menunaikan ibadah haji.

Catatan Evaluasi Selama Tinggal di Makkah

Untuk gambaran yang lebih lengkap mengenai kondisi selama tinggal di Makkah, dapat dibaca kembali Catatan (3), (4), dan (8) yang menggambarkan keadaan kami selama tinggal di Makkah.

Dalam bagian ini, saya ingin menyampaikan kutipan laporan yang disampaikan oleh Ibu Hj. Ansari, Anggota Komisi VIII DPR RI yang pada tahun ini juga menjadi jamaah haji reguler dan tergabung dalam Kloter SUB-74. Laporan tersebut disampaikan kepada Direktur Jenderal Haji dan Umrah Kementerian Haji terkait dengan cermin pelayanan dari petugas sektor 4 PPIH Arab kepada kami selama tinggal di Makkah. Beberapa poin yang disampaikan antara lain sebagai berikut:
• Saat tiba di hotel pada Selasa, 12 Mei 2026 sekitar pukul 01.30 WAS, kami tidak melihat PPIH bagian LANDIS yang secara khusus memberikan pelayanan kepada jamaah lansia. Yang tampak hanya beberapa petugas PPIH yang hadir menyambut dengan berbaris rapi layaknya pagar ayu saat kami tiba.
• Di hotel tidak tersedia informasi mengenai PIC atau koordinator PPIH Arab Saudi bagian LANDIS yang dapat dihubungi apabila diperlukan. Nomor kontak mereka baru kami peroleh setelah menanyakan kepada salah satu PPIH Arab Saudi bagian Bimbingan Ibadah.
• Selama tiga hari pertama di Makkah, kami tidak pernah melihat PPIH bagian LANDIS yang mengunjungi atau bahkan sampai standby di Hotel Nomor 412. Saat kami melaksanakan umrah wajib pun tidak ada petugas LANDIS yang menyapa kami apalagi sampai memberikan pelayanan. Pelayanan lebih banyak dilakukan oleh Kakloter, dokter, perawat, dan PHD yang saling bahu-membahu melayani kami.
• PPIH Arab Saudi bagian akomodasi hanya terlihat saat menyerahkan kunci kamar pada saat kami tiba. Setelah itu mereka menghilang tanpa kabar dan tidak meninggalkan informasi terkait PIC atau koordinator yang bisa kami hubungi apabila terjadi masalah terkait hotel, seperti kerusakan kamar, kebocoran, kerusakan kran air hingga mengakibatkan salah satu kamar banjir, kartu akses kamar, dan permasalahan lainnya. Resepsionis hotel juga tidak menerima penitipan kunci kamar dan tidak memegang master card. Setelah kami telusuri master card tersebut justru berada pada petugas transportasi.
• Hal ini menimbulkan pertanyaan di kalangan jamaah, apakah petugas transportasi juga merangkap sebagai petugas akomodasi? Penitipan kunci kamar dan semua permasalahan kunci kamar ditangani oleh bagian transportasi yang aktif mengatur bus sholawat Nomor 10 warna pink yang kami tumpangi.
• Oleh karena itu, diharapkan pihak Daker dapat memberikan perhatian terhadap PPIH Arab Saudi bagian LANDIS/Lansia yang zero pelayanan terhadap jamaah lansia. Sebab kami khawatir terhadap kondisi para jamaah lansia ketika pelaksanaan Armuzna. Demikian juga petugas bagian agar senantiasa berkordinasi dengan pihak hotel terkait permasalahan yang terjadi di sektor 4 Hotel Al-Ahbab Nomor 412.

Sebagai perbandingan, Ibu Hj. Ansari juga menyampaikan informasi mengenai pelayanan tim LANDIS di sektor lain yang menurut berbagai laporan berjalan lebih baik.
Beberapa catatan yang dia sampaikan antara lain:
• Tak seperti di sektor 4, di sektor lainnya pelayanan kepada jamaah sangat baik. Pun demikian, saya juga mendengar di sektor lain, pelayanan kepada lansia dilakukan secara secara bergantian dengan visitasi ke setiap hotel yang menjadi tanggung jawab mereka.
• Namun yang saya ketahui, mendengar dan menyaksikan sendiri, di sektor 4 khususnya kloter SUB-74, pelayanan terhadap jamaah lansia sebagaimana yang sering diberitakan di media sosial belum dirasakan secara nyata. Bahkan sampai Jumat (15 Mei 2026) belum ada petugas yang melakukan visitasi ke hotel kami.
• Kakloter menginformasikan kepada kami melalui karom, bahwa tim LANDIS akan mengadakan kegiatan senam lansia.
• Berbagai laporan evaluasi telah disampaikan kepada Komisi VIII DPR RI dan Pak Puji sebagai Direktorat Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj agar menjadi bahan perbaikan.
• Semoga menjadi bahan evaluasi agar PPIH Lansia maupun petugas lainnya dapat memberikan pelayanan yang yang lebih baik, khususnya saat pelaksanaan puncak Armuzna.
• Hotel Al-Ahbab yang ditempati dinilai termasuk kategori standar minimal dibandingkan hotel lain di Sektor 4. Lift yang tersedia hanya empat unit dengan kapasitas kecil dan kondisi yang sudah cukup tua sehingga beberapa kali mengalami gangguan. Selain itu, kamar yang saya tempati terasa sesak karena berukuran sempit (4×4) m untuk empat orang. (diisi 3 tempat tidur, lemari, meja rias kecil). Belum lagi, kulkas yang diletakkan di atas meja rias, lampu tidur yang disusun di atas kulkas. Bahkan di kamar kami tak sediakan handuk.

Selama kurang lebih 30 hari kami berada di Makkah, kalau tidak salah dengar, sekitar 2-3 kali ada kegiatan visitasi dari sektor, hanya saja saya tidak pernah mengikutinya, info pertama saya lagi di Masjidil Haram dan info kedua saya tertidur karena kondisi lagi drop.

Saya pernah menanyakan via chat wa kepada kakloter perihal kegiatan apa saja yang dilakukan oleh Sektor 4 di kloter yang dipimpinnya, namun hingga materi catatan inj saya kirim untuk dicetak jawabannya disuruh menunggu.

Catatan Evaluasi selama Pelaksanaan Pelaksanaan Armuzna

Sebagaimana telah saya ceritakan pada Catatan (5), sebanyak 379 jamaah Kloter SUB-74 menempati Tenda Nomor 6 Markas 70 di Arafah selama satu malam, Maktab di Mina kami menempati Tenda Nomor 1 Markas 614 Nomor 70 selama tiga malam empat hari, yaitu sejak 10 Dzulhijjah hingga 13 Dzulhijjah.

Dalam pelaksanaan Armuzna, terdapat beberapa catatan evaluasi yang berkaitan dengan pelayanan transportasi dari syarikah, distribusi konsumsi di Mina yang tidak berbasis kloter, serta fasilitas tenda/maktab yang tidak seimbang dengan jumlah jamaah yang tinggal (tenda di Arafah lebih luas dari tenda di Mina).

Catatan Positif
1. Tenda yang kami tempati di Arafah dan Mina dipaksakan bisa menampung seluruh jamaah Kloter SUB-74 dengan fasilitas yang sesuai dengan kelas standart jamaah reguler, sehingga kami dapat melaksanakan wukuf dengan khusus’ dan khidmat, serta bisa mabit di Mina dengan aman.
2. Konsumsi yang diberikan di Arafah berupa tiga kali makan per hari, air mineral, air panas lengkap dengan teh dan gula, minuman ringan, serta makanan pendamping lainnya. Seluruhnya tersedia tepat waktu dan dalam jumlah yang sangat mencukupi.
3. Fasilitas toilet/MCK di Arafah maupun Mina sudah cukup layak dan bersih, meskipun masih belum memenuhi standar ramah lansia dan penyandang disabilitas. Ada juga toilet standart lama yang dipakai oleh jamaah lansia dan disabilitas walaupun kelayakannya dipaksakan.
4. Di Arafah tersedia taman dengan alas rumput sintetis yang dapat digunakan jamaah untuk bersantai. Sementara di Mina, jamaah banyak memanfaatkan jalan raya mina maupun lorong-lorong tenda sebagai tempat bersantai
5. Batu untuk melontar jumrah dibagikan saat jamaah berada di Arafah sehingga memudahkan jamaah kloter SUB-74 yang akan murur di Muzdalifah.

Catatan Negatif
1. Buruknya pelayanan transportasi yang diberikan oleh syarikah masih menjadi persoalan utama. Permasalahan yang terjadi antara lain:
◦ Kurangnya armada untuk memobilisasi jamaah dari hotel menuju Arafah.
◦ Keterbatasan armada dari Arafah menuju Mina bagi jamaah yang melaksanakan murur.
◦ Keterbatasan armada dari Muzdalifah menuju Mina yang sempat memicu ketegangan antarjamaah.
◦ Keterbatasan armada dari Mina menuju hotel, baik bagi jamaah nafar awal maupun nafar tsani.
◦ Kondisi sebagian armada yang kurang layak sehingga terdapat bus yang mengalami mogok.
◦ Syarikah tidak menyediakan armada pengganti saat terjadi kendala di lapangan.
◦ Manajemen sirkulasi penjemputan yang belum diperhitungkan secara optimal.

2. Sejak awal kami tiba, distribusi konsumsi di Mina tidak berbasis kloter. Syarikah membagikan Makanan langsung kepada jamaah tanpa menghitung jumlah jamaah di masing-masing tenda sehingga ada jamaah yang tidak memperoleh jatah makan. Selain itu, makanan Ready to Eat (RTE) yang dibagikan kurang diminati sehingga banyak yang terbuang. Sehingga untuk tahun-tahun berikutnya makanan RTE yang diberikan harus disesuaikan dengan kondisi jamaah yang kelelahan.
3. Skema tanazul yang tidak terkoordinasi dan terlaksana secara optimal sehingga terdapat jamaah yang tidak kebagian tenda di Mina.
4. Skema nafar awal dan nafar tsani yang direncanakan oleh pemerintah belum tersosialisasi dengan baik kepada jamaah serta tidak berbasis kloter, sehingga menimbulkan permasalahan tidak tersedianya armada bus yang akan mengantar jamaah ke hotel bagi jamaah yang mengambil nafar awal dan kebagian jadwal terakhir.
5. Empat point di atas, bagi jamaah yang hotelnya dekat dengan mina (yang berasa di wilayah Syisyah dan Raudah), masih memungkinkan ditempuh dengan berjalan kaki bagi jamaah yang kondisi fisiknya memungkinkan. Bagi jamaah lansia maupun jamaah yang hotelnya jauh (yang ada dii wilayah Aziziyah dan Misfalah) tetap menginap mengambil nafar tsani.

Setelah menyajikan berbagai catatan evaluasi berdasarkan pengalaman yang kami alami selama menunaikan ibadah haji Tahun 1447 H/2026 M, mulai dari keberangkatan, pelayanan di asrama haji, bandara, penerbangan, pelayanan selama di Makkah, pelayanan petugas, hingga pelaksanaan Armuzna yang kami rasakan juga menjadi perhatian Tim Amirul Hajj Republik Indonesia.

Sebagaimana diberitakan dalam Exit Meeting Amirul Hajj Tahun 2026, terdapat sejumlah rekomendasi yang disampaikan kepada pemerintah sebagai bahan perbaikan penyelenggaraan ibadah haji pada tahun-tahun berikutnya.

Jika dicermati, beberapa rekomendasi tersebut memiliki keterkaitan dengan berbagai persoalan yang kami alami di lapangan, khususnya saat pelaksanaan Armuzna.

Di antara rekomendasi tersebut adalah perlunya peningkatan kualitas layanan di Mina, terutama terkait kapasitas tenda, penyediaan ruang yang lebih memadai bagi jamaah perempuan, peningkatan ketepatan waktu layanan transportasi, percepatan operasional Bus Shalawat setelah Armuzna, peningkatan kualitas akomodasi, penguatan pelayanan kesehatan, peningkatan kompetensi petugas, serta perhatian yang lebih besar kepada jamaah lansia dan jamaah risiko tinggi.

Rekomendasi tersebut sejalan dengan beberapa catatan yang kami sampaikan dalam tulisan ini, terutama terkait pelayanan transportasi syarikah yang dikeluhkan oleh mayoritas jamaah, skema pergerakan jamaah saat Armuzna, pelayanan bagi jamaah lansia, kecukupan fasilitas tenda, serta pentingnya penguatan koordinasi antar petugas di lapangan.

Selain itu, rekomendasi mengenai layanan haji yang ramah lingkungan, penguatan layanan jasa dorong yang terintegrasi bagi lansia dan jamaah risiko tinggi, serta kajian pemanfaatan Bandara Taif sebagai alternatif layanan penerbangan haji juga patut mendapat perhatian sebagai upaya peningkatan kualitas pelayanan di masa mendatang.

Bagi kami sebagai jamaah, rekomendasi yang disampaikan Amirul Hajj tersebut menjadi sinyal positif bahwa berbagai persoalan yang terjadi di lapangan tidak luput dari perhatian pemerintah dan diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi bersama.

Mudah-mudahan berbagai catatan yang kami sampaikan dalam tulisan ini, ditambah dengan rekomendasi yang disampaikan oleh Amirul Hajj Republik Indonesia, dapat menjadi bahan pertimbangan bagi para pemangku kebijakan untuk terus melakukan perbaikan dan penyempurnaan penyelenggaraan ibadah haji pada masa yang akan datang.

Wallahu a’lam bish-shawab.

*Penulis adalah Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji bersama Istri, Ibu dan Mertua

Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *