Opini

Catatan Perjalanan Menunaikan Ibadah Haji 1447 H/2026 M (8): Berziarah ke Tempat Penuh Makna di Makkah Sebelum Bertolak ke Madinah

*Oleh: Taufadi

Dalam catatan (8) ini saya ingin menyajikan cerita kegiatan ziarah ke tempat penuh makna di sekitar Makkah pasca Armuzna yang dikoordinir oleh KBIHU al-Mabrur, di antaranya: ke Jabal Tsur, Jabal Nur/Gua Hira, Jabal Rahmah, Ji’rana, Museum al-Moudi, Hudaibiyah, Museum Haramain, ke Kota Tha’if ziarah ke Masjid Sayyidina Abbas, Melihat Masjid Kuk, Masjid Addas dan tempat miqat Qornul Manazil, mendapat pengetahuan tentang tempat bersejarah sekitar masjidil Haram dan Ka’bah, serta Wisuda Haji ala KBIHU al-Mabrur.

Ziarah ke Jabal Tsur, Tempat Persembunyian Rasulullah SAW saat Dikejar Orang Kafir Quraisy

Selasa, 02 Juni 2026 / 17 Dzulhijjah 1447 H setelah seharian istirahat pasca tawaf ifadah dan sa’i, jamaah yang bergabung dalam KBIHU al-Mabrur mengawali kegiatan ziarah ke Jabal Tsur. Lokasinya sekitar 7 kilometer di sebelah selatan Masjidil Haram. Gunung ini memiliki ketinggian sekitar 1.405 meter di atas permukaan laut.

Di puncaknya terdapat Gua Tsur, tempat bersejarah di mana Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ash-Shiddiq bersembunyi saat dikejar dan hendak dibunuh oleh orang-orang kafir Quraisy.

Menurut riwayat, Beliau berdua bersembunyi di dalam Gua Tsur selama tiga malam sejak hari Jum’at sampai hari Senin, sampai akhirnya hijrah ke Yatsrib (madinah) yang ditempuh selama 7 hari (1 minggu) dengan menaiki Unta.

Setiap hari yang mengantarkan makanan untuk Beliau berdua adalah Asma binti Abu Bakar, yang bekerja sama dengan saudaranya Abdullah yang mencari informasi mengenai situasi kaum Quraisy dan seorang penggembala bernama Amir bin Fuhairah yang bertugas menggembalakan kambing untuk menutupi jejak langkah kaki mereka menuju gua.

Atas dedikasinya itu Rasulullah SAW memujinya dan memberinya gelar Dzatun Nithaqain, dimana saat membawa perbekalan karena tidak ada tali untuk mengikat wadah perbekalan tersebut, Asma merobek ikat pinggangnya menjadi dua bagian, satu bagian digunakan untuk mengikat perbekalan, dan bagian lainnya dipakai seperti biasa.

Menurut beberapa riwayat, terjadi peristiwa menakjubkan saat Rasulullah SAW dan Abu Bakar bersembunyi di dalam Gua tsur, di antaranya: kaki Sayyidina Abu Bakar dipatuk oleh seekor ular yang menunggu ribuan tahun untuk bertemu Rasulullah Saw, karena menghalanginya. Peristiwa menakjubkan lainnya adalah laba-laba yang membuat sarang untuk menutup pintu gua, burung merpati bertelur di dalam gua, dan rumput-rumput yang ada di depan gua tumbuh baru untuk mengelabui para pengejar bahwa tidak ada Beliau berdua di dalamnya.

Untuk mencapai Gua Tsur, membutuhkan waktu sekitar 2 – 3 jam dengan berjalan kaki. Saat kami melintasinya tampak terlihat sudah ada jasa transportasi menggunakan mobil kecil yang bisa mengantarkan peziarah sampai di tengah-tengah gunung. Menurut mutawwif yang membersamai kami, tarifnya berbayar 25 – 30 Riyal per jamaah.

Ziarah ke Gua Hira/Jabal Nur, tempat turunnya Wahyu pertama

Gua Hira merupakan tempat favorit Nabi Muhammad SAW mengasingkan diri (berkhalwat) dari hiruk pikuk kehidupan jahiliyah sebelum diangkat menjadi Rasul. Terletak sekitar 5 km dari Masjidil Haram, di ketinggian 640 meter di atas permukaan laut dengan akses jalur pendakian yang curam. Gua Hira hanya cukup menampung maksimal 2 orang dengan ukuran panjang sekitar 3,7 meter dan lebar 1,6 meter.

Gua Hira yang berada di puncak gunung, membutuhkan waktu tempuh sekitar 1 jam untuk mencapainya dengan berjalan kaki. Gua itu merupakan tempat pertama kali Rasulullah SAW menerima Wahyu (QS. al-Alaq ayat 1-5) melalui Malaikat Jibril, di pertengahan bulan Ramadan, saat beliau berusia 40 tahun, yang menandai Beliau telah diangkat menjadi Rasul.

Di bawah gunung ada museum wahyu yang sudah kami datangi sebelum Armuzna sebagaimana diceritakan pada catatan Perjalanan menunaikan Ibadah Haji (4).

Saat Berziarah ke Jabal Rahmah Kami Mengetahui Tempat-tempat Bersejarah di Muzdhalifah dan di Mina

Jabal Rahmah yang berada di Padang Arafah tempat kami wukuf tanggal 09 Dzulhijjah, merupakan saksi bisu tempat Nabi Ibrahim AS mendapatkan perintah Allah SWT melalui mimpi untuk mengorbankan putra tercintanya, Nabi Ismail AS selama tiga malam berturut-turut.

Lokasi Jabal Rahmah terletak sekitar 20 hingga 25 kilometer di sebelah tenggara Kota Mekah. Tampak terlihat dengan jelas di atas bukit batu setinggi kurang lebih 70 meter ada tugu putih yang merupakan tempat bersejarah lokasi bertemunya Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah terpisah lama saat mereka diturunkan ke bumi.

Setelah dari Jabal Rahmah, kami melewati Muzdhalifah dan Mina, dua tempat yang pada saat melaksanakan Ibadah Rukun haji, kami tidak melihatnya, di antaranya : melewati Jabal Qurban yang merupakan tempat penyembelihan Nabi Ismail AS. Di sampingnya dibangun istana Raja yang dipergunakan untuk tempat mabit tamu kehormatan raja yang sedang melaksanakan ibadah haji.

Sebelum melewati jabal qurban, kami melewati Masjid Mash’aril Haram yang merupakan tempat Rasulullah SAW bermalam/mabit di Muzdhalifah ketika melaksanakan Haji Wada’. Kemudian melewati perbatasan muzdhalifah dan Mina, tempat Raja Abrahah dan tentara gajahnya dimusnahkan. Selanjutnya kami melewati Mina yang tampak jelas jika Mina benar-benar seperti Rahim, luasnya tidak seberapa tapi dapat menampung jutaaan jamaah haji.

Saat melintasi Mina tampak terlihat Masjid al-Khayf yang sangat sakral, dikenal dengan “Masjid Para Nabi”, diyakini sebagai tempat di mana Nabi Muhammad SAW dan sekitar 70 Nabi lainnya pernah melaksanakan Sholat. Perjalanan kemudian berlanjut menuju Ji’rana untuk mengantarkan miqot jamaah yang akan melaksnaakan umrah Sunnah.

Ziarah ke Ji’rana Tempat Miqat Rasulullah SAW Setelah Perang Hunain

Masjid Ji’ronah merupakan salah satu lokasi bersejarah sekaligus titik awal (miqat) ihram umrah yang sangat dianjurkan. Hal ini karena Rasulullah SAW pernah mengambil miqat di tempat ini setelah Perang Hunain dan tempat Rasulullah SAW membagikan Ghanimah.

Diriwayatkan, Air sumur Ji’rana pernah diberikan racun oleh orang kafir Quraisy, kemudian Rasulullah SAW meludahinya sehingga airnya bisa diminum oleh para sahabat. Sebelum sumur ji’rana ditutup oleh Pemerintah Kerajaan Arab Saudi, orang-orang berebut mengambilnya yang diyakini bisa menjadi obat, terutama untuk wanita yang sulit melahirkan.

Lokasi Ji’ranah terletak di sebelah timur laut Kota Makkah, berjarak sekitar 24 kilometer dari Masjidil Haram, wilayah ini berada di Jalan Raya Makkah-Thaif dan dikenal sebagai lokasi miqat yang paling utama untuk melaksanakan ibadah umrah. Lokasinya bisa dijangkau menggunakan taksi atau bus dengan waktu tempuh sekitar 30–40 menit dari Masjidil Haram.

Setelah dari Ji’rana kami kembali ke Hotel. Jamaah yang melaksanakan umrah sunnah ada yang langsung berangkat ke Masjidil Haram untuk tawaf, sa’i dan tahallul. Sedangkan bagi jamaah yang tidak melaksanakannya, memilih menuju kamar masing-masing.

Miqat di Hudaibiyah saat Kegiatan City Tour Hari Kedua

Kamis, 04 Juni 2026, bertepatan dengan tanggal 19 Dzulhijjah 1447 H, kegiatan City Tour kedua pasca Armuzna direncanakan akan berakhir ke Hudaibiyah untuk memfasilitasi Miqat jamaah yang akan melaksanakan umrah sunnah lagi. Kami berangkat dari hotel pukul 07.00 WAS dengan menggunakan 8 armada bus yang disewa oleh KBIHU al-Mabrur.

Sebelum ke Hudaibiyah, kami mengunjungi Museum Al-Amoudi yang berlokasi di pinggir Kota Mekkah, tepatnya di wilayah El Shimeisi. Museum ini dapat ditemukan dengan mudah karena lokasinya yang strategis dan berada di ruas jalan antara Mekkah dan Jeddah.

Lokasinya dikelilingi gurun pasir tanpa bangunan apa pun di sekitarnya, menambah kesan Arab kuno yang gersang dan panas. Bentuk bangunan museum menyerupai benteng, terbuat dari perpaduan lumpur dan jerami yang membuat kami bisa membayangkan tempat tinggal warga Arab pada masa lalu. Museum Al-Amoudi dilengkapi beragam barang-barang klasik yang sangat kental dengan peradaban Arab kuno, seperti baju zirah, pedang, tombak, perisai, tutup kepala tentara dan senapan yang digunakan untuk berperang, peralatan rumah tangga kuno, ornamen yang berhubungan dengan kerajaan Arab, dan tersedia juga patung miniatur raja Arab. Di salah satu ruangan museum, saya melihat ada patung yang menyerupai laki-laki dan wanita Arab yang sedang duduk bersimpuh di atas sajadah.

Di Museum ini juga ada replika Hajar Aswad yang diminati oleh Jamaah yang tidak sempat menyentuh Hajar Aswad saat di Baitullah. Usai melihatnya, saya sempat berbisik pada Bapak Alwi: “Bang Makkah sekarang sudah mau dengan Patung…”. Dia hanya membalas dengan senyuman dan menyipitkan matanya.

Ziarah ke Hudaibiyah,Tempat yang Menjadi Saksi Kecerdasan Syiyasah Rasulullah SAW

Saat sampai di Hudaibiyah, saya yang saat ini belajar berpolitik berkata dalam hati, “seandainya tidak ada perjanjian Hudaibiyah, Fathul Makkah tidak mungkin akan terjadi”. Hudaibiyah merupakan lokasi Nabi Muhammad SAW dan para Shabat melakukan sumpah setia di bawah sebuah pohon saat mendapat ‘kabar burung’ bahwa Sahabat Utsman bin Affan terbunuh. Peristiwa tersebut diabadikan dalam al-Qur’an sebagai Bai’at Ar-Ridwan.

Dikisahkan, pada tahun 6 Hijriyah (628 M) Nabi Muhammad SAW bersama 1.400 Sahabat berangkat dari Madinah menuju Makkah untuk melaksanakan Ibadah Umrah dan bukan untuk berperang. Namun sesampainya di lokasi Hudaibiyah, rombongan Nabi Muhammad dihadang oleh kaum Quraisy yang dipimpin oleh Suhail bin Amr agar tidak memasuki kota Makkah. Negosiasi damaipun dilakukan sehingga melahirkan perjanjian Hudaibiyah yang menghasilkan kesepakatan gencatan senjata selama 10 tahun. Umat Islam tidak diizinkan masuk ke Makkah pada tahun tersebut, namun diperbolehkan kembali pada tahun berikutnya selama tiga hari. Meskipun perjanjian ini sempat dianggap berat sebelah dan merugikan oleh sebagian sahabat, jeda waktu damai ini memungkinkan Islam menyebar dengan sangat pesat yang berujung pada peristiwa pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah).

Hudaibiyah (juga dikenal sebagai As-Syamsiyah) adalah desa dan sumur bersejarah yang berjarak sekitar 22 kilometer dari arah barat daya Kota Makkah. Tempat ini berada di perbatasan wilayah Tanah Haram, menjadikannya salah satu titik miqat terdekat bagi jamaah yang ingin mengambil niat (ihram) untuk ibadah umrah.

Setelah jamaah yang akan melaksanakan umrah sunnah melakukan miqot, dari Hudaibiyah kami dibawa ke Museum Haramain untuk melihat miniatur dua masjid suci kebanggaan umat islam.

Berkunjung ke Museum Haramain setelah Miqat di Hudaibiyah

Museum Haramain (secara resmi dikenal sebagai Pameran Arsitektur Dua Masjid Suci) terletak di kawasan Al-Hukman, Makkah, tepatnya, di perbukitan Ummul Joud (di tengah-tengah antara Hudaibiyah dan Makkah). Lokasinya berdekatan dengan pabrik Kiswah Ka’bah di Makkah. Museum ini menyimpan koleksi artefak bersejarah, manuskrip langka, dan elemen arsitektur bersejarah dari Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, termasuk kiswah lama dan pilar-pilar kuno.

Museum yang dibangun Raja Fahd bin Abdul Aziz ini juga dikenal dengan sebutan Exibition Two Holy MosqueArchitecture. Mengunjungi museum ini berarti kita mempelajari kilasan peristiwa dan sejarah dua masjid mulia umat Islam. Museum terdiri dari 7 (tujuh) bagian.

Tiga yang pertama adalah foto dan model bangunan dua masjid suci, kekhasan dan keterangan terkait Masjidil Haram, serta tentang Ka’bah dan segala yang terkait seperti kiswah (penutup), pintu lama dan segala perniknya.

Kemudian foto-foto dua masjid berikut dengan detail interior dan eksterior dua masjid yang menawan, manuskrip kuno yang dimiliki perpustakaan keduanya termasuk salinan al-Qur’an mushaf Usman bin Affan.

Juga ada keterangan terkait pembangunan Sumur Zamzam berikut foto dan alat pemompa air zamzam; dan yang terakhir, museum ini menyajikan model dan contoh arsitektur Masjid Nabawi dilengkapi koleksi foto. Dari Museum Haramain, rombongan kembali ke Hotel, bagi jamaah yang melaksanakan Ibadah umrah sunnah langsung berangkat ke masjidil haram.

Ziarah ke Masjid Abdullah Ibnu Abbas Mengawali Kegiatan Zarah Ketiga ke Kota Tha’if

Hari Sabtu, 06 Juni 2026 / 21 Dzulhijjah 1447 H, Jamaah KBIHU al-Mabrur dibawa ke Masjid Abdullah Ibnu Abbas yang ada di kota Thaif, kota terbesar ketiga setelah Makkah dan Madinah. Setelah itu kami mengunjungi tempat pembuatan minyak mawar, dilanjutkan makan nasi mandi lauk ayam panggang bersama. Dari Thaif kami dibawa ke Masjid Qornul Manazil untuk miqat umrah sunnah. Ada sebagian jamaah disatukan dalam 1 bus yang ingin menikmati dan merasakan naik kereta gantung yang ada di Tha’if. Sepanjang perjalanan pulang-pergi kota thaif, tampak tempat rekreasi dan tempat nyantai yang beroperasi pada sore-malam hari, seperti kafe pinggir jalan, tempat permainan anak, dan tempat rekreasi lainnya.

Ke Masjid Abdullah Ibnu Abbas

Dari Kota Makkah kami langsung menuju Masjid Abdullah Ibnu Abbas. Berdasarkan penjelasan dari Bapak Alwi saat berada di depan Masjid Abdullah Ibnu Abbas yang dikomparasikan dengan sumber referensi yang saya baca, Abdullah Ibnu Abbas adalah sepupu sekaligus sahabat Nabi Muhammad SAW yang lahir di Makkah tiga tahun sebelum peristiwa Hijrah dan wafat pada 68 H/687 M. Beliau sangat dihormati dalam Islam karena kedalaman ilmunya dan dikenal sebagai ulama besar, ahli tafsir, serta salah satu perawi hadis terbanyak.

Julukan yang disematkan kepada Beliau karena keistimewaannya, diantaranya :

⁃ Nabi Muhammad SAW menjulukinya dengan Tarjuman al-Qur’an (penerjemah al-Qur’an), serta mendoakannya agar Ibnu Abbas diberi pemahaman mendalam tentang agama dan ilmu tafsir.
⁃ Beliau cerdas, berwawasan luas, tajam dalam berfikir dan haus akan ilmu, sehingga dijuluki Habr al-Ummah (Cendekiawan Umat) dan al-Bahr (Lautan Ilmu)
⁃ Khalifah Umar Bin Khattab menjulukinya “Pemuda Tua”, karena Ibnu Abbas memiliki kedalaman ilmu dan pemikiran yang bijaksana layaknya sahabat senior, padahal usianya masih sangat muda.

Saat kami sampai di Masjid Abdullah Ibnu Abbas suasananya sangat ramai, banyak peziarah dari manca negara yang datang berziarah. Di sekitar halaman banyak pedagang buah, oleh-oleh dan barang aksesoris haji. Saya membeli juz Delima karena terkesan saat Haji Tahun 2019 bersama almarhum KH. Imam Mawardi.

Melintasi Masjid Kuk dan Masjid Addas, Hati Sangat Teriris Membayangkan Betapa Sakitnya Rasulullah SAW saat Dilempari Batu oleh Orang-orang Kafir Bani Tsaqif

Setelah dari Masjid Abdullah Ibnu Abbas kami menuju Masjid Kuk dan Masjid Addas yang berada di Kota Tha’if. Masjid Kuk yang terletak di kaki gunung Abi Zubaida merupakan situs yang dibangun untuk mengenang Rasulullah SAW saat beristirahat dan menyandarkan sikunya (al-Kuu’) pada sebuah batu setelah dilempari batu oleh penduduk Thaif (Tsaqif). Di lokasi titik bangunan Masjid Kuk, batu tersebut diyakini amblas karena menahan beban tubuh Nabi. Kami hanya melihatnya dari atas bus karena tidak bisa turun. Tampak Bangunan masjid kuk direnovasi. Bangunannya sangat sederhana dan terbuat dari susunan batu bata merah. Ukurannya kecil menyerupai Musholla di kampung saya, dan hanya cukup untuk menampung beberapa jamaah.

Setelah dari masjid kuk, bus terus melaju pelan. Tidak jauh dari masjid kuk (sekitar 1 km), kami melewati Masjid Addas yang merupakan salah satu situs bersejarah pada saat Rasulullah SAW berlindung dan beristirahat setelah dilempari batu oleh penduduk Thaif (Bani Tsaqif). Dahulu Masjid Addas merupakan rumah dan kebun anggur milik Utbah bin Rabi’ah, seorang budak Nasrani bernama Addas yang memberi Nabi segenggam anggur dan memeluk Islam setelah percakapan mengenai Nabi Yunus AS.

Masjid Addas terlihat sangat sederhana, berbentuk kotak kubus dengan luas bangunan masjid sekitar 10 m x 10 m. Dari atas bus tampak ada peziarah yang mendatanginya dan duduk santai menikmati suasana di sekitarnya.

Sekilas Cerita Rasulullah SAW yang Ditolak saat Berdakwa ke Thaif

Setelah wafatnya Abu Thalib dan Sayyidah Khadijah RA (Dua tokoh Makkah yang menjadi pelindung utama Beliau), pada tahun ke-10 Kenabian, atas inisiatifnya sendiri sebab tekanan dari kaum Quraisy di Makkah semakin meningkat dan dakwah menemui jalan buntu, Rasulullah SAW ditemani sahabat Zaid bin Haritsah (budak beliau yang kemudian diangkat menjadi anak angkat) berjalan kaki sejauh kurang lebih 80 km ke Tha’if untuk mencari perlindungan dan dukungan dari Bani Tsaqif. namun sayang, respon mereka sangat mengecewakan. Mereka menolak mentah-mentah, menghina, mengancam, bahkan menyakiti Rasulullah SAW secara fisik.

Saat Rasulullah SAW tiba di Tha’if, beliau menemui tiga pemimpin Bani Tsaqif (kabilah kuat yang menguasai kota). Mereka menolak mentah-mentah ajaran Islam dan bahkan mengejek Beliau. Para pemimpin tersebut menghasut penduduk, budak, pemuda dan anak-anak untuk menyerang Rasulullah SAW. Mereka mengusir Rasulullah SAW dari Thaif, sepanjang perjalanan keluar dari kota. Beliau dilempari batu hingga tubuh dan kaki Beliau terluka dan berdarah, hingga Terompah (sandal) Beliau melekat pada kulit karena darah yang mengering. Sahabat Zaid bin Haritsah melindungi beliau menggunakan tubuhnya sendiri sampai mengalami luka di bagian kepalanya. Untuk mengenang peristiwa itu dibangunlah masjid Kuk.

Ketika Rasulullah SAW beristirahat di sebuah kebun dalam keadaan sedih dan terluka, Malaikat Jibril datang bersama Malaikat Penjaga Gunung. Malaikat tersebut menawarkan untuk menimpakan dua gunung ke atas kota Thaif sebagai balasan. Akan tetapi, dengan kelembutan hati dan kasih sayangnya, Rasulullah SAW menolak dan justru berdoa agar keturunan penduduk Thaif kelak menjadi umat yang menyembah Allah SWT, dan untuk mengenang jasa Addas dibangunlah Masjid Addas.

Doa yang dipanjatkan Rasulullah SAW ketika diusir dan disakiti di Kota Thaif adalah doa pengaduan kelemahan dan kepasrahan kepada Allah SWT. Doa ini diabadikan di masjid Kuk. Berikut adalah lafal doa yang dipanjatkan oleh Nabi Muhammad SAW:

اللَّهُمَّ إِلَيْكَ أَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِي، وَقِلَّةَ حِيلَتِي، وَهَوَانِي عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ وَأَنْتَ رَبِّي، إِلَى مَنْ تَكِلُنِي؟ إِلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنِي أَوْ إِلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرِي؟ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلَا أُبَالِي، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لِي. أَعُوذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ، وَصَلَحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِي غَضَبَكَ أَوْ يَحِلَّ عَلَيَّ سَخَطُكَ، لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِكَ

Artinya: Ya Allah, kepada-Mu aku mengadukan kelemahanku, kekurangan daya upayaku, dan kehinaanku di mata manusia. Wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara para penyayang, Engkaulah Tuhan orang-orang yang lemah dan Engkaulah Tuhanku. Kepada siapakah hendak Engkau serahkan diriku? Kepada orang jauh yang berwajah muram kepadaku, ataukah kepada musuh yang Engkau kuasakan urusanku? Jika Engkau tidak murka kepadaku, aku tidak peduli. Akan tetapi, perlindungan-Mu adalah yang paling luas bagiku. Aku berlindung kepada cahaya wajah-Mu, yang menyinari kegelapan dan yang mendatangkan kebaikan di dunia maupun akhirat, dari kemurkaan-Mu yang Engkau timpakan kepadaku. Kepada Engkaulah aku adukan kerinduanku agar Engkau rida. Dan tiada daya serta kekuatan melainkan hanya dengan pertolongan-Mu.

Membeli Minyak di Pusat Penjualan Minyak Mawar yang Ada di Kota Tha’if, Makan Bersama dan Miqat di Masjid Qornul Manazil

Dari Masjid Addas, bus melaju menuju tempat produksi minyak mawar yang ada di kota Tha’if. Di tengah perjalan bus berhenti di toko buah yang disangka tempat produksi minyak mawar oleh jamaah yang langsung turun dengan tergesa-gesa karena banyak yang kebelet. Setelah berhenti sejenak, bus berangkat lagi menuju tempat Produksi minyak Mawar.

Sesampainya di lokasi kami langsung turun. Ada yang langsung menuju tempat penjualan minyak, dan ada yang menuju toilet. Di pusat penjualan minyak mawar tersebut kami membeli beberapa minyak untuk oleh-oleh. Sedangkan harapan untuk melihat secara langsung proses pembuatan minyak mawar diganti dengan pemutaran videonya saja.

Setelah itu rombongan dibawa ke rumah makan Kabsat yang berlokasi di pinggir jalan menuju Masjid Qornul Manazil. Sekitar 280 jamaah KBIHU al-Mabrur duduk lesehan berkelompok memanjang berseragam biru sambil menikmati Nasi Mandi dengan lauk ayam panggang empuk yang menjadi menu andalan rumah makan Kabsat yang bisa menampung rombongan dalam jumlah banyak.

Selesai makan, rombongan menuju Masjid Qornul Manazil untuk miqat umrah sunnah. Sesampainya di lokasi kami langsung menuju toiltet/tempat wudu’ untuk mandi ihram dan berwudu’, kemudian sholat jamak taqdim dzuhur-ashar serta sholat sunnah ihram di dalam masjid. Setelah itu bus bertolak kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan lantunan bacaan talbiyah (setelah membaca niat ihram) mengiringi lajunya bus dengan sopir yang berasal dari Bangladesh dan tampak berwajah sangar.

Jamaah Dibawa ke Tempat Bersejarah Sekitar Masjidil Haram dan Ka’bah sebagai Penutup Kegiatan Ziarah ke Tempat Penuh Makna Sekitar Makkah

Setelah berziarah ke tempat-tempat penuh makna, keesokan harinya jamaah KBIHU al-Mabrur dibawa ke tempat-tempat bersejarah yang ada di sekitar Masjidil Haram. Rombongan dibagi menjadi dua. Rombongan pertama berangkat pagi yang dikomandani oleh KH. Moh. Taufiq dan Ning Azizah. Rombongan kedua berangkat siang hari dikomandani oleh Bapak Alwi.

Hari Ahad, tanggal 07 Juni 2026 / 22 Dzulhijjah 1447 H, jamaah dibawa berjalan-jalan ke Masjidil Haram untuk diperlihatkan dan diterangkan tempat penuh makna yang ada di sana. diantaranya : Rumah lahirnya Nabi Muhammad SAW (Maulidul Rasul) yang saat ini dijadikan perpustakaan, rumah Sayyidah Siti Khadijah yang selama 28 tahun Nabi Muhammad menempatinya dan saat ini menjadi plataran masjidil haram dikenal dengan Jalur Zuqaq al-Hajar (Jalur batu) posisinya dekat dengan rumah Abu Lahab. Selanjutnya, diterangkan rumah Sayyidina Abbas yang terletak di dekat kawasan Mas’aa (tempat Sa’i) di luar dinding Masjidil Haram. Letak rumah paman Nabi SAW ini berada dekat dengan lokasi kelahiran Rasulullah SAW. Lalu diterangkan tentang Rumah Abu Lahab yang berlokasi di Area Selokan atau WC 9, tidak jauh dari posisi rumah Sayyidah Khadijah RA, diterangkan rumah Abu Jahal yang terletak di area dekat pintu keluar Marwa yang telah dialihfungsikan menjadi fasilitas toilet dan WC umum (dikenal jemaah sebagai WC 9) di luar kompleks Masjidil Haram. Setelah itu jamaah diperlihatkan Jabal Qubais yang sekarang berdiri istana raja.

Dari luar Masjidil Haram, rombongan dibawa memasuki masjidil haram dan dibawa ke Ka’bah untuk diterangkan hal-hal penuh makna tentang Ka’bah. Di antaranya : diterangkan sudut/rukun ka’bah yang terdiri dari Rukun Hajar Aswad, Rukun Mesir, Rukun Iraqi dan Rukun Yamani. Adapun Rukun Yamani merupakan sudut yang mengarah ke Asia termasuk Indonesia. Selanjutnya kami menyimak penjelasan tentang Multazam, area antara hajar aswad dan pintu Ka’bah sekaligus mendapatkan bimbingan cara berdo’a dengan bersandar ke dinding multazam. Kami juga menyimak penjelasan soal Hijir Isma’il yang saat ini tidak boleh dimasuki. Kami hanya diberi tahu soal anjuran untuk sholat sunnah mutlak saat di dalamnya. Lalu ada Pancoran Air Hujan yang dilapisi emas, dikenal dengan pancoran emas yang berada di dalam area Hijir Ismail dan kita dianjurkan untuk bisa sholat di bawahnya dan dianjurkan menyandarkan diri ke dinding Ka’bah saat berdoa di bawahnya. Lalu ke Maqom Nabi Ibrahim AS, berupa situs jejak kaki beliau yang melekat dibatu saat membangun ka’bah, diperlihatkan Syadzarwan yang berupa batu bata merah yang berada di pondasi dekat pintu ka’bah, dan merupakan situs saat Malaikat Jibril mengajari Nabi Muhammad SAW cara berwudu’, gerakan sholat dan mengimami Rasulullah SAW sholat lima waktu selama dua hari berturut-turut.

Selesai di sekitar Ka’bah, rombongan diperlihatkan Tiang yang diyakini sebagai tempat Malaikat Jibril menambatkan Buraq saat Rasulullah SAW memulai perjalanan Isra Mikraj. Lokasinya berada di area pelataran Ka’bah, baris kedua di dekat tempat sholat wanita, arah pintu masuk utama. Di antara deretan pilar lain yang berwarna putih atau keabu-abuan, tiang ini menonjol dengan warna cokelat dan memiliki lingkaran cincin logam.

Setelah itu rombongan masih menetap di dalam Masjidil Haram untuk beribadah dan kembali ke hotel bersama-sama sesuai rombongannya dengan membawa oleh-oleh tambahan pengetahuan yang bisa diceritakan kepada peziarah saat pulang ke tanah air.

Wisuda Haji ala KBIHU al-Mabrur yang Membuat Kami Terkesan

Ada hal menarik yang perlu saya sajikan dalam catatan ini saat menunaikan ibadah haji reguler 1447 H / 2026 M bergabung dengan KBIHU al-Mabrur, yaitu Wisuda bagi Jamaah Haji.

Menurut Bapak Alwi hal semacam ini rutin dilaksanakan setiap tahun saat musim haji dengan maksud untuk memberikan kesan bagi Jamaah yang sudah menunaikan seluruh rangkaian Ibadah Haji dengan penuh kesabaran, keikhlasan, perjuangan dan ketahanan fisik yang prima.

Senin, 08 Juni 2026 / 23 Dzuhijjah 1447 H, Pukul 08.30 WAS, seluruh jamaah Haji Reguler Kloter SUB-74 yang bergabung dengan KBIHU al-Mabrur sudah berkumpul di Masjid Hotel al-Ahbab Alkobra Makkah, Lantai MS untuk mengikuti prosesi wisuda jamaah haji. Kegiatan dibuka dengan pembacaan Ummul Kitab, dilanjutkan membaca QS. al-Mulk dan Tahlil. Setelah itu Bapak Alwi selaku penanggung jawab KBIHU al-Mabrur memberikan sambutan dan bimbingan sebagai persiapan saat nanti di Madinah. Acara dilanjutkan dengan pengalungan surban kepada para jamaah yang menandakan bahwa mereka di Wisuda dan sudah layak menyandang status Haji dan Hajjah.

Pengalungan surban dilakukan oleh Bapak Alwi dimulai dari Kakloter, Ketua Rombongan dan Jamaah Laki-laki. Sedangkan pengalungan surban kepada jamaah perempuan dipimpin oleh Ning Azizah selaku Pembina/Owner KBIHU al-Mabrur yang diurut dari rombongan satu sampai delapan. Surban dimaksud disediakan dan diberikan secara gratis oleh KBIHU al-Mabrur. Kegiatan prosesi wisuda berlangsung dengan khidmat dan berkesan walaupun dikemas dengan sangat sederhana. Acara kemudian ditutup dengan makan bersama “MBG” ditambah lauk telor mata sapi, tempe, tahu dan sambal yang disediakan oleh KBIHU al-Mabrur.

Di sela-sela acara, Bapak Alwi mengumumkan bagi jamaah yang ingin mengubah nama haji dan hajjah-nya agar menyetorkannya ke Karom masing-masing untuk disetorkan kepada Beliau yang kemudian akan diteruskan ke Admin KBIHU al-Mabrur di Pamekasan untuk dicetak sertifikatnya secara paralel, dan akan diserahkan kepada semua jamaah saat mengantarkan undangan penjemputan.

*Penulis adalah Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Pamekasan yang tahun ini sedang menunaikan Ibadah haji bersama Istri, Ibu dan Ibu Mertua

Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *