Oleh: Taufadi*
Catatan perjalanan haji (4) ini berisi kisah selama kurang lebih dua pekan kami di Makkah, serta berbagai persiapan jamaah menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji (Armuzna).
Kegiatan Setelah Melaksanakan Umrah Wajib
Selesai umrah wajib, kami beristirahat penuh semalaman. Keesokan harinya dan seterusnya hingga H-1 keberangkatan ke Arafah, jamaah mengisi waktu dengan memperbanyak ibadah dan tawaf di Masjidil Haram. Banyak juga jamaah memilih salat di masjid hotel atau masjid sekitar hotel untuk menjaga stamina menjelang Armuzna.

Armuzna sendiri adalah istilah yang digunakan jamaah haji Indonesia untuk menyebut rangkaian puncak ibadah haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Pada fase ini jamaah melaksanakan wukuf di Arafah, mabit di Muzdalifah, hingga melempar jumrah di Mina, yang menjadi inti pelaksanaan ibadah haji.

Selain memperbanyak Ibadah, kegiatan jamaah yang saya ketahui, diantaranya : Umrah mandiri dengan mengambil Miqot di Tan’im, Silaturrahmi/mengunjungi sanak-famili, teman dan sahabat yang berada di hotel lain, menerima kunjungan teman di hotel, berdiskusi sambil merokok di depan hotel saat malam hari, berbelanja di sekitar hotel, berkeliling sekitar masjidil haram setelah sholat, shoping dan makan di restaurant indonesia di mall sekitar masjidil haram (ke tower zam-zam atau ke mall tower mekkah), dan banyak kegiatan lainnya yang dilakukan oleh jamaah secara mandiri sambil menunggu pelaksanaan Armuzna.
Selain itu, terdapat pula kegiatan yang dikoordinir KBIHU, seperti rencana city tour sekitar Makkah yang ditunda setelah Armuzna, serta kunjungan ke Museum Wahyu yang ada di bawah Gua Hira.
Gagalnya City Tour Sekitar Kota Makkah
Kamis, 14/05/2026, setelah salat Subuh di Masjidil Haram, kami kembali ke hotel karena jamaah yang bergabung dengan KBIHU Al-Mabrur akan melaksanakan city tour sekitar Makkah. Rencana kunjungan meliputi Mahbas Jin, Masjid Sajarah, Ma’la, lokasi Armuzna (Arafah, Mina, Muzdalifah), Gua Hira, Gua Tsur, dan terakhir ke Tan’im untuk miqat umrah sunnah.




Sesampainya di hotel, jamaah sudah berkumpul dengan seragam lengkap Al-Mabrur. Delapan bus yang disewa KBIHU telah siap di depan hotel, dan petugas kloter (kakloter, petugas kesehatan, Bimbad kloter, dan PHD) juga telah bersiap mendampingi.

Namun pihak sektor tidak memperbolehkan kegiatan city tour tersebut, meskipun masih berada di dalam kota Makkah. Padahal kegiatan itu tidak melanggar Surat Edaran Kemenhaj Nomor S-88/BN/2026 tanggal 30 April 2026 yang ditandatangani Dirjen Bina Penyelenggaraan Haji dan Umrah, yang hanya melarang city tour ke luar kota Makkah.
Bahkan istri saya, Hj Ansari, salah satu anggota Komisi VIII DPR RI yang turut bersama kami berusaha mengonfirmasi langsung kepada Dirjen terkait, yang menyampaikan bahwa city tour dalam kota Makkah diperbolehkan selama menjaga keamanan dan keselamatan jamaah.
Selain adanya perbedaan pemahaman terhadap surat edaran tersebut, pihak sektor juga menyampaikan bahwa lokasi Armuzna sudah tidak bisa dimasuki, dan hanya diperbolehkan melintas tanpa menurunkan jamaah dari bus. Padahal niat KBIHU hendak membawa jamaah ke Armuzna, agar mereka mengetahui lokasi pelaksanaan Puncak Ibadah Haji. Begitu juga saat ke gua hira dan Gua Tsur, para jamaah disarankan untuk tidak turun dari bus.
Akhirnya kegiatan city tour dibatalkan, dan hanya dilaksanakan perjalanan ke Tan’im/Masjid Siti Aisyah untuk miqat umrah sunnah, karena bus sudah terlanjur siap dan jamaah sudah sangat antusias.
Meskipun jamaah memahami keputusan tersebut, rasa kecewa tetap terlihat, terutama bagi jamaah yang baru pertama kali menjadi Dhuyufur Rahman, karena City Tour itu tidak hanya sekadar hiburan, melainkan untuk mengetahui dan mempejari situs-situs sejarah peradaban Islam di Makkah.
Karena kegitan City Tour ditunda setelah Armuzna, sebagai pengganti – untuk mengobati kekecewaan jamaah – pada Rabu 20/05/2026 pukul 07.00–11.00 WAS, KBIHU Al-Mabrur mengajak jamaah mengunjungi Museum Wahyu di sekitar Gua Hira.
Kunjungan ke Museum Wahyu

Para jamaah KBIHU al-Mabrur berangkat ke Musem Wahyu dengan menyewa 8 bus. Sesampainya di lokasi, kami dipandu untuk masuk ke dalam dengan tertib dan rapi yang diatur dalam 2 baris (laki-laki & perempuan). Di dalam museum, kami disuguhi dengan pemutaran film menggunakan LED yang canggih tentang proses turunnya wahyu, kisah Nabi Ibrahim, Nabi Isa, Nabi Musa, masa setelah Nabi Isa diangkat ke langit yang disebut jaman Fatrah, serta replika Gua Hira yang dimanfaatkan oleh jamaah untuk berfoto ria. Juga ditampilkan teks Asli mushaf usman, kitab asli hadis Imam Bukhari, dan kami melewati toko penjualan Assesoris sebelum ke luar. Kami duduk sebentar menunggu lengkapnya jamaah untuk naik ke bus sesuai rombongan masing-masing.





Saat hendak kembali ke hotel, kami diajak mampir ke Pasar Ka’kiyah (pasar grosir di Makkah). Jamaah diberikan sekitar 1,5 jam untuk berbelanja oleh-oleh yang akan dibawa ke tanah air. Saya bersama istri membeli jubah wanita dan songkok putih sebagai oleh-oleh. Saya juga meminta Ibu dan ibu mertua untuk beristirahat duduk agar tidak kelelahan. Setelah seluruh jamaah selesai berbelanja dan kembali ke bus masing-masing, kami pun kembali ke hotel.
Saya berhusnudzon bahwa sikap tegas sektor 4 ini bertujuan agar jamaah tidak kelelahan sebelum Armuzna, sehingga dapat lebih maksimal dalam menjalankan puncak ibadah haji.
Manfaat Bergabung dengan KBIHU dalam Menunaikan Ibadah Haji
Seperti yang saya ceritakan dalam catatan sebelumnya , Mayoritas jamaah yang bergabung dengan KBIHU Al-Mabrur masih tergolong awam. Selain kendala komunikasi, banyak yang belum memahami kondisi geografis, budaya, dan aturan pemerintahan di tanah haram. Yang ada di benak mereka hanyalah ingin menunaikan ibadah haji, melaksanakan rukun Islam kelima, walaupun harus menunggu sampai 14 tahun. Untuk saat ini, masa tunggu haji telah diseragamkan oleh pemerintah menjadi 26 tahun untuk calon jamaah di seluruh Indonesia.

Mayoritas jamaah mendaftar haji melalui atau meminta petunjuk kepada KBIHU yang umumnya dikelola tokoh masyarakat setempat. Mulai dari proses pendaftaran, pelunasan, pengurusan administrasi keberangkatan, tes kesehatan, manasik haji hingga keberangkatan. Sebagian besar jamaah sangat bergantung kepada KBIHU, meskipun ada sebagian kecil yang mampu mengurus sendiri tanpa bimbingan KBIHU.
Eksistensi KBIHU sudah ada sejak tahun 2001. Namun entah mengapa, keberadaannya sekarang seperti menjadi “batu sandungan” bagi Kemenhaj yang masih seumur jagung dalam tata kelola urusan haji. Hemat saya, keberadaan KBIHU sangat membantu dalam membimbing, melayani dan melindungi jamaah haji. Bahkan, KBIHU bisa menjadi bagian penting dalam menyukseskan tata kelola penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M yang mengusung tagline “ramah lansia, disabilitas dan perempuan”. Kenyataan saat ini memang ada beberapa oknum oknum KBIHU “nakal” yang tidak mengindahkan pemerintah. Sebagian juga ada yang menipu jamaah. Hal ini tentunya harus ditindak tegas oleh pemerintah dengan mencabut izin operasionalnya atau dibawa ke ranah pidana.
Berdasarkan pengalaman kami yang menunaikan ibadah haji melalui jalur reguler yang melihat dan merasakan langsung kondisi di lapangan, untuk musim haji tahun ini petugas yang disediakan Kemenhaj di lapangan sangat terbatas dan belum mampu mengakomodir seluruh kebutuhan jamaah haji Indonesia.
Berdasarkan data yang kami ketahui dari berbagai informasi, tahun ini, jumlah jamaah Indonesia sekitar 221.000 orang yang disebar ke 10 sektor di Makkah. Lima wilayah utama penempatan jamaah meliputi Syisyah, Raudhah, Misfalah, Jarwal, dan Aziziyah. Setiap wilayah menaungi jamaah berbasis embarkasi.
Jamaah haji yang tidak bergabung dengan KBIHU atau berangkat sendiri sering merasa seperti tidak punya induk. Mereka kebingungan, tidak ada yang memandu, dan tidak tahu harus bagaimana ketika tiba di Makkah. Syukur jika mereka berangkat bersama jamaah yang tergabung dalam KBIHU sehingga masih bisa mengikutinya. Saya pribadi tidak bisa membayangkan bagaimana kondisi jamaah yang tidak tergabung dengan KBIHU mereka nanti saat Armuzna. Selain membutuhkan fisik prima, rangkaian puncak ibadah haji juga harus memenuhi syarat dan rukun yang membutuhkan bimbingan secara berkala.
Ada juga beberapa jamaah yang tidak bergabung dengan KBIHU. Mereka berpendidikan cukup, berpengalaman, dan bisa berkomunikasi, serta bisa mengerjakan seluruh rangkaian kegiatan ibadah hajinya secara mandiri di Haramain. Bahkan dari mereka ada yang dijadikan “leader” oleh jamaah lain yang tidak bergabung dengan KBIHU.
Bapak Alwi Beiq, selaku pembimbing dan penanggung jawab KBIHU Al-Mabrur, selalu memberikan bimbingan kepada jamaah sejak manasik di tanah air, di asrama haji, saat tiba di Makkah, hingga menjelang puncak haji. Beliau juga terus mengingatkan jamaah agar tidak memforsir tenaga sebelum pelaksanaan Armuzna.
Setiap hari beliau memanggil karom dan karu untuk berdiskusi bersama petugas kloter terkait persiapan dan menyusun strategi terbaik demi kenyamanan dan keamanan jamaah selama pelaksanaan Armuzna.
Peran Petugas Kloter SUB-74 Sejak Kami Tiba di Makkah hingga Menjelang Armuzna
Berdasarkan pengamatan dan pengalaman kami sejak dari Asrama Haji hingga tiba di Makkah, hampir seluruh persoalan jamaah ditangani oleh KBIHU bersama petugas kloter yang terdiri dari kakloter, dokter, perawat, TPHD, dan Bimbad kloter.
Untuk musim haji tahun ini, peran kakloter yang berada di dalam garis komando sektor sangat besar dalam mengakomodir, mengkoordinasikan, dan memenej tata kelola pelaksanaan haji sesuai kebijakan pemerintah melalui daker (daerah kerja) yang meneruskannya ke sektor.
Kakloter SUB-74 bernama Ibu Hajar yang bertanggung jawab memimpin 380 jamaah yang berasal dari dua KBIHU, yakni KBIHU Al-Mabrur Pamekasan dan KBIHU Darus Syifa’ Surabaya. Kebetulan di Kloter SUB-74 tidak ada jamaah yang berangkat secara mandiri. Walaupun perempuan, dia tegas dan humble, sigap melayani berbagai persoalan jamaah, cekatan menyampaikan kebutuhan jamaah kepada pihak sektor, dan terus berkoordinasi dengan kami melalui rapat bersama saat ada hal-hal yang perlu disampaikan dan didiskusikan. Bahkan, saat awal kami tiba di Makkah ketika keadaan masih belum kondusif, dia bolak-balik berjalan kaki sekitar dua kilometer pulang-pergi ke kantor sektor dalam cuaca panas yang bisa mencapai 49 derajat Celsius.
Dokter kloter yang hanya satu orang bernama dr. Haris. Dia dibantu oleh satu perawat bernama Ansor. Keduanya memiliki peran yang sangat signifikan bagi 380 jamaah kloter SUB-74. Dengan keterbatasan tenaga dan waktu, keduanya sabar dan telaten naik turun lift yang sering krodit untuk memeriksa, melayani, dan mengobati jamaah. Keduanya melayani mayoritas jamaah yang terserang influenza dan penyakit lain akibat perbedaan iklim Makkah dengan tanah air. Terkadang mereka harus bolak-balik berjalan kaki menuju kantor sektor untuk mengambil obat-obatan ketika stok obat yang dibutuhkan tidak tersedia.
Dua orang TPHD dari provinsi bernama Ning Azizah dan Mas Faizal membaur bersama jamaah. Mereka melayani dan membimbing jamaah dengan penuh ketabahan dan keikhlasan. Bersama penanggung jawab KBIHU dan petugas kloter, mereka selalu memikirkan bagaimana memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah. Peran mereka sangat terasa ketika pelaksanaan umrah wajib. Mereka bersama kakloter dan dokter kloter menjadi pendorong kursi roda sekaligus mencari jamaah yang tersesat. Tidak ada satu pun dari mereka yang kembali ke hotel sebelum memastikan seluruh jamaah kembali dengan selamat.
Begitu pula peran petugas Bimbad kloter yang sesekali memberikan motivasi kepada jamaah saat pertemuan dan selalu membersamai jamaah menuju Masjidil Haram. Dan ketika rapat pertemuan terakhir menjelang Armuzna, petugas Bimbad juga memastikan kecukupan batu yang akan digunakan untuk lempar jumrah telah disiapkan dan didistribusikan kepada seluruh jamaah di tenda Arafah, sehingga tidak ada jamaah yang sampai tidak menerima atau kekurangan batu tersebut

Menjelang pelaksanaan Armuzna, peran seluruh petugas sangat dirasakan oleh jamaah. Mereka bahu-membahu membantu pemerintah dalam mewujudkan tata kelola haji yang “ramah terhadap lansia, disabilitas, dan perempuan”.
Kami Mengapresiasi Petugas Bagian Konsumsi yang Ditugaskan di Kloter SUB-74
Saya salut dengan petugas PPIH bagian konsumsi yang ditugaskan di Kloter SUB-74. Tegas, disiplin, tepat waktu, administratif, dan tidak abai dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya.

Selama kurang lebih dua pekan kami di Makkah, dia tidak pernah absen duduk di kursi meja kerjanya yang berada di restoran hotel, mengatur dan membagikan jatah makan jamaah, serta tidak pernah lupa mewajibkan karu/karom untuk membubuhkan tanda tangan saat mengambilnya. Setiap hari dia menginformasikan bahwa makan pagi, siang, dan malam sudah siap untuk diambil. Selain karom dan karu tidak boleh mengambilnya. Jika ada rombongan yang belum mengambilnya, dia meminta kakloter untuk mengkondisikannya.
Ketepatan Kemenhaj dalam Merekrut Petugas Bagian Transportasi
Sebagaimana saya ceritakan dalam catatan (3), setiap hari kami melihat petugas bagian transportasi yang disiplin dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya, tanpa menghiraukan teriknya matahari yang bisa mencapai 49 derajat Celsius. Mereka tetap tidak mengeluh dan tetap fokus pada tugasnya, meskipun juga mendapat limpahan tugas sebagai petugas akomodasi hotel, memegang master card kunci kamar, serta mengurus kamar yang bermasalah.

Keberadaan mereka juga sangat membantu jamaah dalam berkomunikasi dengan sopir bus shalawat yang mayoritas berasal dari Mesir. Mereka juga sering membantu jamaah saat berurusan dengan petugas Kementerian Haji Kerajaan Arab Saudi, terutama bagi jamaah yang mengalami kendala pada kartu Nusuk. Mereka juga mendampingi jamaah ketika berhadapan dengan petugas kepolisian Arab Saudi, serta membantu jamaah yang berkepentingan dengan penduduk lokal.
Hemat saya, Kemenhaj sudah tepat dalam merekrut petugas bagian transportasi, yaitu dengan merekrut WNI mukimin dan mahasiswa Indonesia yang kuliah di negara berbahasa Arab. Seperti petugas transportasi hotel 412 dan 413 merupakan mukimin asal Sampang, Madura yang sudah 25 tahun tinggal di Makkah, serta seorang mahasiswa S2 di Maroko yang berasal dari Jawa Barat.
Sistem kerja mereka menggunakan sistem shift, setiap shift berlangsung selama 12 jam, dari pukul 08.00 WAS hingga 20.00 WAS, dengan sistem pengupahan sesuai ketentuan yang berlaku.
Anekdot “MBG” dari Jamaah yang Mendapatkan Jatah Makan 3 Kali Sehari
Seperti cerita (2), saat kami di Hotel Makkah, kami mendapatkan jatah makan dan “snack kedatangan”. Hari berikutnya, kami mendapatkan jatah 3 kali makan setiap hari yang disediakan oleh PPIH Arab Saudi. Pembagiannya berbasis rombongan sesuai dengan jadwal tanpa ada keterlambatan.
Dalam pembagian makan ini muncul anekdot jatah “MBG” — lucu, tetapi mengandung pesan tersirat. Jatah makan yang diberikan kepada jamaah bercita rasa ala Indonesia dengan menu yang relatif stagnan setiap hari.
Selama kurang lebih dua pekan kami di Makkah, menu makan dapat digambarkan sebagai berikut: menu pagi berupa nasi goreng, ikan, telur dadar, dan oseng sayuran. Menu siang berupa nasi putih, daging atau ayam masak kecap, oseng sayuran, ditambah buah (pisang, jeruk, atau apel). Menu malam berupa nasi putih, ikan laut (kadang ikan patin, ikan fillet gurami masak asam manis, dan yang saya suka ikan tuna dalam minyak). Sesekali ada tambahan puding, dan setiap kali pembagian konsumsi selalu disertai air mineral 600 ml.
Jatah makan yang disediakan oleh PPIH Arab Saudi musim haji tahun ini sebenarnya sudah bagus. Proporsinya sesuai dan pengelolaannya tertib. Namun, sebagian jamaah masih ada yang merasa kurang puas, meski lebih banyak jamaah yang merasa puas dan mengapresiasi menu ala Indonesia serta manajemen distribusinya yang tidak pernah terlambat.
Terkait makan, banyak jamaah Kloter SUB-74 membawa lauk sendiri. Bahkan ada yang membawa beras jagung lengkap dengan rice cooker untuk memasak di kamar hotel. Ada yang membawa cabai, garam, penyedap rasa lengkap dengan cobek, ikan teri kering, sambal terasi, sambal kelapa, sambal petis, abon sapi, gorengan tempe, dan berbagai lauk lainnya, untuk sekadar menggugah selera makan selama menunaikan ibadah haji.
Terkait dengan jatah makan jamaah menjelang keberangkatan ke Armuzna dan saat Armuzna, Kakloter menjelaskannya saat rapat pertemuan menjelang Armuzna, hari Sabtu, 23/05/2026. Kakloter menjelaskan bahwa Jamaah akan mendapatkan jatah makan RTE (Ready to Eat) sebanyak 6 boks per jamaah menjelang Armuzna. Kami menyarankan jamaah agar makanan RTE tersebut dimakan 2 book pada hari Ahad, 2 books pada hari Senin, dan 2 books sisanya dimakan saat mereka kembali dari Mina. Kakloter menambahkan penjelasan bahwa terkait dengan konsumsi masih menunggu informasi dari Bapak Andik, selaku petugas bagian konsumsi kloter SUB-74.
Hari Ahad, 24/05/2026, kami masih mendapatkan jatah makan 3 kali sehari dengan menu pagi-siang-malam yang relatif sama, yaitu nasi putih, paha ayam goreng 2 potong dan kentang goreng yang renyah dan gurih. Ada tambahan ransum konsumsi, makan pagi ditambah pop mie, makan siang ditambah pop mie, roti dan puding, sedangkan makan malam ditambah buah pisang dan susu milk kotak. Kemungkinan tambahan ransum tersebut diberikan oleh pemerintah agar gizi jamaah semakin membaik menjelang pelaksanaan Armuzna.
Alhamdulillah, informasi saat rapat sebelumnya bahwa hari Ahad dan Senin jamaah akan mendapat makan RTE ternyata tidak terealisasi. Jamaah tetap mendapat jatah makan sebagaimana mestinya.
Pada saat rapat koordinasi terakhir terkait dengan persiapan Armuzna, petugas bagian Kesehatan membagikan Oralit pada jamaah melalui karom/karu. Masing-masing mendapatkan 3 sachet untuk diminum saat di Armuzna.
Para Petinggi PPIH Sektor 4 yang Tidak Bisa Disapa Apalagi Menyapa
Tema tersebut mungkin terasa kurang enak dibaca, namun begitulah kenyataan yang kami rasakan sebagai jamaah haji yang berada di sektor 4. Mereka tidak bisa disapa, apalagi menyapa kami.
Sejak dari tanah air, saya membayangkan akan ada semacam seremoni penyambutan kedatangan kami ketika tiba di Makkah sektor 4. Jika tidak resmi seperti penyambutan di Asrama Haji, setidaknya ada perkenalan dari sektor 4 kepada kami.
Soal pelayanan kepada jamaah, sempat beredar informasi mengenai rencana visitasi jamaah lansia. Hal itu saya ketahui dari Ibu Hajar, selaku kakloter SUB-74. Dari penjelasan yang diperoleh, visitasi kepada jamaah lansia tidak dilakukan setiap hari, melainkan tiga hari sekali, dengan penyesuaian agenda di tingkat sektor.
Bagi kami, perkenalan dengan petugas sektor yang akan melayani jamaah sangat penting. Demikian pula mengetahui siapa saja PPIH sektor 4 yang bertugas melayani jamaah berdasarkan instruksi kasektor juga tidak kalah penting. Selain untuk mengikat “emosional”, yang paling penting adalah penjelasan dari pihak sektor kepada kami mengenai hal-hal yang diperbolehkan dan tidak diperbolehkan selama berada di Makkah untuk menunaikan ibadah haji.

Namun sayangnya, hingga H-1 menjelang Armuzna, hal tersebut tidak terealisasi sama sekali. Para petinggi sektor tidak ada yang menyambangi apalagi menyapa kami, kecuali saat Irjen Kemenhaj datang ke Hotel Al-Ahbab No. 412 pada hari Sabtu tanggal 16/05/2026. Itu pun karena ditelepon oleh istri saya, Hj. Ansari, agar pihak Kemenhaj melihat langsung kondisi hotel dan pelayanan sektor kepada kami, sebagaimana saya ceritakan pada cerita (3).

Kepala Sektor (Kasektor) 4 tidak datang sendiri ke Hotel Al-Ahbab No. 412, melainkan diwakili oleh wakilnya mendampingi Irjen Kemenhaj yang datang saat acara pertemuan petugas Sektor 4 dengan Petugas kloter, Karom dan Karu kloter SUB-73 dan SUB-74 yang ditempatkan di Masjid.



Menjadi petugas pelayan jamaah haji memang harus sabar dan tidak temperamental dalam menyikapi persoalan, karena Jamaah Haji yang akan dilayani berasal dari semua unsur kelas strata sosial yang berbeda, karakter dan budaya yang berbeda, dan latar pendidikan yang berbeda. Ada dari petani, nelayan, buruh tani, buruh bangunan, kuli, pedagang kecil sampai besar, tukang pijat, dokter, perawat, bidan, pengusaha, guru, dosen, guru ngaji, kiai, tokoh masyarakat, seniman, budayawan, politisi, birokrat, dan semua unsur elemen masyarakat membaur menjadi satu “Jamaah Haji Indonesia”. Semuanya harus dilayani saat menunaikan Ibadah Haji di Tanah Suci, sesuai dengan Peraturan yang berlaku.
Untuk syarat “ikhlas” sebagai petugas haji, saya tidak ingin membahasnya lebih jauh karena sifatnya yang Absolut. Ikhlas-tidak ikhlas hanya Allah yang Maha Mengetahui. Yang jelas bentuk pelayanan mereka tentu kami rasakan. Adapun kualitas layanan yang mereka berikan, apakah “nyaman”, “hambar” atau terkesan “dipaksakan”, hal tersebut dapat dirasakan langsung oleh kami jamaah Haji Indonesia yang berangkat melalui jalur Reguler.
Semua jamaah kloter SUB-74 yang saya tanyakan, apakah pernah melihat atau mendengar kegiatan bersama petinggi sektor 4, semuanya menjawab tidak pernah. Hanya saja pernah ada kabar bahwa petugas sektor akan mengadakan visitasi jamaah lansia, tetapi tidak jadi karena kedatangan Irjen Kemenhaj, Mayjen TNI (Purn.) Dendi Suryadi sebagaimana saya ceritakan di atas. Soal visitasi itu semula dijadwalkan setiap hari. Hal itu saya ketahui saat meminta konfirmasi pada Ibu Hajar selaku Kakloter SUB-74. Namun karena penyesuaian agenda di tingkat sektor, jadwal visitasi kemudian hanya dilakukan tiga hari satu kali.

Sedangkan kondisi di sektor lain, tentu saya tidak dapat menceritakan karena tidak mengetahui secara pasti. Namun kabar burung sebagaimana beredar di media sosial, di sektor lain tampak ada kedekatan atau ikatan emosional antara petugas sektor dan jamaah.
Dari referensi yang saya baca melalui Google, tugas dan tanggung jawab PPIH sektor adalah memberikan pelayanan, pembinaan, dan perlindungan kepada jemaah. Tanggung jawab tersebut mencakup pengelolaan akomodasi, konsumsi, transportasi, bimbingan ibadah, layanan kesehatan, serta memastikan kelancaran administrasi dan keamanan jamaah selama berada di wilayah operasionalnya.
Setiap pagi, sore, dan malam setelah salat dan makan, kami duduk di depan hotel. Sesekali ada PPIH berseragam yang datang ke hotel kami. Selama kurang lebih 2 pekan kami tinggal di Makkah, informasi yang saya dapatkan, petugas bagian Landis pernah melakukan visitasi terhadap lansia, mengadakan senam Lansia di depan hotel dan petugas kesehatan sektor 4 didampingi petugas kesehatan kloter mengabulkan 2 jamaah yang diajukan untuk diikutkan safari wukuf arafah setelah melalui proses visitasi terhadap 2 jamaah yang bersangkutan.
Kemandirian Jamaah SUB-74 dalam Pelaksanaan Kegiatan Mandiri dan Bimbingan KBIHU Sebelum Armuzna
Selama dua pekan di Makkah, alhamdulillah tidak ada jamaah yang hilang. Paling hanya tersesat, dan kembali ke hotel dengan cerita menarik. Mayoritas jamaah pergi ke Masjidil Haram secara mandiri. Jamaah yang tidak mampu mandiri dibantu oleh petugas KBIHU, kadang oleh petugas kloter jika tidak sedang bertugas. Banyak jamaah berjalan kaki ke Masjidil Haram, sementara yang tidak ke Masjidil Haram, memilih beribadah di masjid sekitar hotel.
Di sela-sela obrolan santai di lobi lantai 10, saya menyarankan kepada jamaah yang baru pertama kali menjadi “Dhuyufur Rohman”, agar memperbanyak tawaf sunnah karena ibadah tawaf sunnah tidak bisa dilakukan di tanah air. Lalu memperbanyak minum air zamzam, dan saat berbelanja niatkan untuk menyejahterakan tempat lahirnya dan tempat tinggalnya Rasulullah SAW. Insyaallah hal itu akan mendatangkan keberkahan ketika kembali ke tanah air.
Seingat saya, selama dua pekan kami di Makkah, sudah 4 kali pemberian materi pembekalan Ibadah Haji yang diadakan oleh KBIHU dengan pemateri Bapak Dr. Alwi Beiq, selaku penanggung jawab KBIHU al-Mabrur, dan sebanyak 5 kali pertemuan untuk Rapat bersama terkait dengan koordinasi dan persiapan menjelang Armuzna.
Materi yang Beliau berikan, tentang syarat-rukun ibadah haji. Mulai dari cara niat haji dan hal-hal yang dilarang saat ihram, cara berdoa di Arafah, cara sholat jama’ Qahsar dzuhur-ashar saat wukuf di arafah, strategi keluar pintu arafah agar semua jamaah bisa murur di muzdhalifah, cara melakukan sholat jamak maghrib-isya’, cara melempar batu jumratul aqobah, cara melakukan tahallul/gunting rambut, larangan melakukan hubungan suami-istri sebelum tawaf dan sai ifadah, serta cara membadalkan jumrotul aqobah.

Kemudian, kami juga dibimbing soal strategi yang aman bagi jamaah yang memiliki Resti tinggi, memperbanyak dzikir saat berada di tenda Mina, cara melempar jumrah Ula-Wusto dan Aqobah dari tenda Mina, termasuk hal-hal yang diperlukan jamaah yang akan menginap di Mina selama 5 hari. Semua bimbimbingan itu beliau jelaskan secara detail.
Peran KBIHU sangat besar dalam membimbing jamaah, khususnya terkait dengan syarat-rukun menunaikan ibadah haji bagi jamaah yang mayoritas masih belum memahaminya. Sedangkan peran petugas Bimbad Sektor terkait dengan hal tersebut kami tunggu jadwalnya, namun hinga kami berangkat ke Arafah tidak kunjung keluar. Semoga peran mereka sangat kami rasakan saat di Armuzna.
Alhamdulillah Kami Bisa Berqurban Unta di Tanah Haram
Sejak di tanah air, istri berniat akan berqurban unta di tanah haram. Setelah rapat pada Kamis 13/05/2026, saya bertemu KH. Taufik dari KBIHU al-Mabrur yang pernah menimba ilmu di Makkah untuk membantu pengurusan qurban tersebut, dan Alhamdulillah, beliau menyanggupinya. Keesokan harinya, beliau mengirim harga qurban melalui pesan WhatsApp.
Karena pada hari kamis kami full kegiatan di Masjidil Haram, pengambilan uang ke mesin ATM yang ada di seberang jalan hotel saya lakukan hari Jum’at (15/05/2026). Namun sayang, nasib saya yang sering lupa nomer PIN ATM Bank Mandiri, bukan uang yang saya dapatkan, justru kartu ATM saya yang tertelan mesin ATM karena sudah lebih dari 3 kali salah memasukkan nomor PIN.
Usai konsultasi ke Bank Mandiri pamekasan serta mengecek keamanan saldo yang ada di “Livin Mandiri”, saya membiarkan kartu ATM yang tertelan mesin, dan meminjam ATM istri untuk mengambil uang. Setelah dana terkumpul, saya menyerahkannya kepada KH. Taufiq sehingga niat qurban unta di tanah haram alhamdulillah terlaksana.
Gagalnya Pelaksanaan Tarwiyah
Haji Tarwiyah adalah hari ke delapan bulan Dzulhijjah. Jamaah Haji berangkat dari Makkah menuju Mina untuk bermalam. Berdasarkan referensi yang saya baca, dinamakan Tarwiyah (merenung atau berpikir) merujuk/mengenang pada peristiwa Nabi Ibrahim AS yang mendapat mimpi tentang perintah menyembelih putranya dan merenungkan kebenaran wahyu tersebut.
Bagi jamaah haji yang bisa melaksanakan Tarwiyah, mereka mabit (bermalam) di Mina, menunaikan salat Zuhur, Asar, Maghrib, Isya, dan Subuh di Mina sebelum berangkat ke Arafah pada keesokan paginya (hari Arafah). Sedangkan bagi Umat Islam yang tidak menunaikan Ibadah Haji di Sunnahkan berpuasa Sunnah Tarwiyah.
Rencana KBIHU al-Mabrur untuk melaksanakan tarwiyah yang sudah direncanakan sejak manasik di Tanah Air akhirnya tidak dapat dilaksanakan, karena sektor 4 tidak memperbolehkan membawa salah satu petugas kloter. Di sisi lain, jika tetap dipaksakan, risikonya sangat tinggi mengingat mengingat kondisi jamaah SUB-74 yang banyak terdiri dari lansia, pengguna kursi roda, serta jamaah dengan kategori risiko tinggi (Resti).
Informasi yang kami terima, pemerintah tidak memprogramkan tarwiyah, sehingga tidak menyediakan fasilitas bagi jamaah yang ingin melaksanakan tarwiyah. Namun pemerintah tidak melarang Jamaah yang ingin melakukannya, dan harus melalui prosedur dengan mengirim surat pemberitahuan dan menandatangani surat pernyataan yang tidak akan membebani pemerintah jika ada persoalan selama melaksanakan Tarwiyah.
Mobilisasi Jamaah Haji Menuju Arafah dan Rasa Cemas Menjelang Armuzna
Mobilisasi jamaah dari hotel ke Arafah direncanakan pada hari Senin, 25 Mei 2026, bertepatan dengan 8 Dzulhijjah 1447 H, sesuai jadwal dari Daker Arab Saudi. Kloter SUB-74 salah satu kloter yang mendapat jadwal paling akhir di sektor 4, sehingga kemungkinan akan berangkat sore hari dan kemungkinan akan murur di Muzdalifah.
Sabda Rasulullah SAW, Al-Hajju ‘Arafah” (Haji itu adalah Arafah). Wukuf di Padang Arafah pada 9 Dzulhijjah, saat matahari tergelincir hingga terbit fajar pada tanggal 10 Dzulhijjah adalah rukun haji paling mutlak yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji seseorang. Rukun ini wajib dihadiri oleh seluruh jamaah. Baik yang sakit berat atau dalam kondisi lemah/kritis sekalipun.
Alhamdulillah, PPIH Arab Saudi menyediakan fasilitas safari wukuf bagi jamaah yang memenuhi kriteria dengan menggunakan mobil khusus, dengan jatah 45 orang setiap sektor, agar ibadah haji mereka tetap sah. Bahkan ada kemungkinan penambahan armada apabila jumlah jamaah yang membutuhkan safari wukuf bertambah.
Oleh karena itu, Kemenhaj bersama stakeholder terkait terus mengingatkan jamaah haji Indonesia agar mempersiapkan diri dengan baik dan tidak melakukan aktivitas yang tidak perlu menjelang Armuzna. Berbagai imbauan terus disampaikan, seperti menjaga stamina dan mental, menjaga kesehatan, mengonsumsi makanan bergizi dan cukup minum, mengurangi aktivitas di luar hotel karena cuaca sangat panas, serta membatasi kegiatan yang menguras fisik. Termasuk larangan atau imbauan untuk tidak melakukan city tour menjelang Armuzna, agar jamaah benar-benar fokus beristirahat dan mempersiapkan diri menghadapi puncak ibadah haji.
Pemerintah Kerajaan Arab Saudi juga menutup layanan bus shalawat ke Masjidil Haram tiga hari menjelang Armuzna, agar jamaah bisa beristirahat di hotel dan fokus mempersiapkan diri untuk rangkaian puncak ibadah haji pada 8, 9, 10, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Jamaah kloter SUB-74 mengisi waktu di hotel dengan memperbanyak ibadah di masjid sekitar, mengadakan istighasah dan tahlil bersama, khatmil Qur’an bersama, membaca Al-Qur’an, yasinan, dan bertawassul, dengan harapan agar pelaksanaan puncak ibadah haji dimudahkan oleh Allah SWT, dijauhkan dari segala musibah, dan menjadi haji yang mabrur.
Jujur saja, ketika saya mendengar penjelasan dari Bapak Alwi Beiq, tentang gambaran perjalanan Armuzna — mulai dari keberangkatan dari hotel ke Arafah, situasi di Arafah, proses murur di Muzdalifah, kemungkinan jamaah harus berjalan kaki dari Muzdalifah ke tenda Mina jika keluar jalur, perjalanan dari Mina ke tempat jumrah dan kembali lagi agar tidak tersesat, pelaksanaan tawaf dan sa’i ifadah, hingga kenaikan biaya transportasi di Makkah yang bisa mencapai 10 kali lipat saat puncak musim haji —saya merasa cemas.

Penjelasan itu terasa merinding, membuat bulu kuduk saya berdiri. Istri saya, Hj. Ansari, yang pernah bertugas sebagai pengawas haji sebagai anggota Komisi VIII tahun 2025 lalu, mengatakan bahwa situasi seperti itu memang pernah ia alami. Saat saya terdiam mendengarkan penjelasan dari Bapak Alwi, tiba-tiba istri saya berbisik, “Makanya perbanyak istighfar dan doa, jangan tenang-tenang saja”.



Membayangkannya saja saya merasa ketakutan, karena apa yang dijelaskan oleh beliau tidak sama situasinya saat kami menunaikan Ibadah Haji menggunakan visa Furoda’ tahun 2019. Pengalaman kami saat menunaikan Ibadah Haji menggunakan visa Haji Furoda’, semuanya terkondisikan agar jamaah merasa nyaman. Waktu pelaksanaan tidak selama Haji Reguler, tersedia hotel transit di Mina, Tenda di Mina sangat dekat dengan tempat pelemparan Jumrah dengan fasilitas yang nyaman dan makanan melimpah. Selain itu, saat menuju Arafah jamaah juga diangkut menggunakan bus, tenda di Arafah dan fasilitasnya nyaman, bisa mencari waktu terbaik untuk tawaf dan sa’i ifadah dan berangkat dengan naik bus ke Masjidil Haram karena diberi jalur khusus,serta hotel tempat kami menginap berada di plataran masjidil haram.
Oleh karena situasi puncak ibadah haji yang akan kami laksanakan mulai tanggal 08 Dzulhijjah mendatang terasa cukup mengkhawatirkan, saya berembuk dengan istri, khususnya saat proses lempar jumrah. Untuk lempar jumratul Aqabah pada hari pertama, Ibu akan dibadalkan oleh saya, sedangkan Emmak melaksanakannya sendiri karena kondisi fisiknya masih fit dan sudah terbiasa berjalan jauh. Ibu akan kami ajak pada keesokan harinya untuk melaksanakan lempar jumratul ula, wustha, dan aqabah (jika situasinya kondusif). Adapun untuk tawaf dan sa’i ifadah, kami (saya, istri, Ibu, dan Emmak) berencana akan menggunakan mobil golf yang tersedia di Masjidil Haram.


Setiap kali pemberian materi pembekalan, Bapak Alwi selalu mengingatkan kami agar Jangan sampai lupa niat haji, jangan sampai melanggar larangan ihram, dan jangan sampai lupa niat bermalam di muzdhalifah. Beliau juga menekankan bahwa jamaah haji cukup memperbanyak bacaan talbiyah dan tidak mengumandangkan takbir sebelum tahallul, wajib menangis meratapi dosa-dosa selama wukuf di Arofah, memperbanyak dzikir selama di Mina dan jangan sampai melakukan hubungan suami-istri sebelum selesai melaksanakan tawaf dan sa’i Ifadah.

Pelaksanaan Armuzna (Arafah, Muzdalifah, Mina) adalah puncak ibadah haji yang serba mungkin dan tidak mungkin. Apa yang diperkirakan mudah bisa menjadi sulit, dan apa yang diperkirakan sulit justru bisa menjadi mudah. Di situlah inti dari sikap memasrahkan diri sepenuhnya kepada Allah SWT, Sang Khaliq, yang pada hari Arafah, melimpahkan rahmat dan membuka pintu ampunan bagi hamba-Nya yang bersungguh-sungguh memohon ampunan-Nya.
Dalam penutupan materi pembekalan menjelang Armuzna, Bapak Alwi berpesan bahwa doa utama yang harus dipanjatkan saat di Arafah adalah “Ya Allah, entaskanlah hamba, orang tua hamba, istri/suami hamba, mertua hamba, serta anak-cucu hamba dari api neraka.”
Bersambung…………………
Penulis adalah Ketua DPC PDI Perjuangan yang saat ini sedang menunaikan Ibadah Haji bersama Istri, Ibu dan Ibu Mertua







