Oleh: Taufadi*
Catatan (5) perjalanan menunaikan Ibadah Haji 1447 H/2026 M ini menceritakan pengalaman kami selama melaksanakan kegiatan Armuzna sebagai puncak ibadah haji, meliputi: wukuf di Arafah tanggal 09 Dzulhijjah, berangkat ke Muzdhalifah, melakukan lempar Jumratul Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah, menginap (mabit) di Mina tanggal 11 Dzulhijjah dan melempar jumrah pertama, mabit di Mina tanggal 12 Dzulhijjah dan melempar jumrah kedua, melaksanakan nafar tsani dengan melanjutkan mabit di Mina tanggal 13 Dzulhijjah, kembali ke hotel dan melempar jumrah ketiga dari hotel, serta melaksanakan tawaf Ifadah dan sa’i.
Berangkat ke Padang Arafah Naik Bus Kota dalam Kondisi Sesak-Berjejal
Senin, 25 Mei 2026, atau bertepatan dengan 08 Dzulhijjah 1447 H, seluruh jamaah haji dimobilisasi ke Arafah secara bertahap dengan menggunakan bus sekolah dan bus kota yang disediakan oleh syarikah yang dipilih oleh Kemenhaj. Ada yang diberangkatkan pagi, siang, sore, malam, bahkan ada kloter yang diberangkatkan pagi hari tanggal 09 Dzulhijjah.
Bagi jamaah dengan kondisi tertentu sebagaimana ditentukan, seperti sakit parah, demensia, dan kondisi khusus lainnya, diikutkan dalam program Safari Wukuf dengan hanya melintasi Padang Arafah menggunakan bus dan pendamping yang disediakan oleh PPIH Arab Saudi.
Di Kloter SUB-74 terpilih satu jamaah yang diikutkan Safari Wukuf dari 3 jamaah yang diajukan. Informasi yang kami dapatkan untuk program safari wukuf kuotanya hanya 45 jamaah per sektor dengan fasilitas ditempatkan di Hotel khusus yang berada di kawasan Aziziyah, tenaga medis dan pendamping dari PPIH Arab Saudi yang terpilih.
Rombongan Kloter SUB-74 yang berjumlah 380 jamaah, setelah dikurangi 1 jamaah yang mengikuti Safari Wukuf, menjadi 379 jamaah yang diangkut hanya menggunakan empat armada bus. Pemberangkatan ke Arafah dilakukan sejak pukul 11.00 WAS, lebih cepat dari jadwal yang seharusnya dimulai pukul 16.00 WAS, dilakukan secara bertahap sesuai urutan rombongan.
Jamaah diatur dan dipindai (scan) kartu Nusuk-nya saat hendak naik ke bus. Bisa dibayangkan bagaimana kondisi kami yang menaiki bus berisi 94–95 orang. Namun, dengan keyakinan dan keimanan memenuhi panggilan Allah SWT untuk berhaji, kondisi sesak, berdesakan, sumuk, atau berbagai ketidaknyamanan yang kami alami sebagai jamaah haji reguler tidak terasa sama sekali. Semua jamaah memahami keadaan, jamaah lansia dan perempuan duduk di kursi, sedangkan laki-laki dan jamaah yang masih fit berdiri.

Niat haji kami baca di dalam bus yang dipandu oleh KH. Moh. Taufiq, salah satu pengurus KBIHU Al-Mabrur yang membersamai kami, “Labbaik Allahumma Hajjan (Kami penuhi panggilan-Mu, ya Allah, dengan berhaji)”. Kemudian seluruh jamaah membaca niat bersama-sama :“Nawaytul Hajja wa Ahramtu Bihi Lillahi Ta’ala.”
Saya dan istri, karena membadalkan haji, kami melafalkan niat sebagai berikut “Labbaik Allahumma Hajjan ‘an…” (saya menyebut nama Ramah dan istri menyebut nama embah buyutnya), lalu dilanjutkan dengan membaca “Nawaytul Hajja wa Ahramtu Bihi ‘an…(saya menyebut nama Ramah dan istri menyebut nama embah buyutnya) Lillahi Ta’ala”.
Setelah membaca niat, kami mengumandangkan kalimah talbiyah mengiringi lajunya bus kota yang kami tumpangi dengan pengemudi dari suku Badui menuju Padang Arafah selama kurang lebih dua jam perjalanan. “Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarikalaka Labbaik. Innal Hamda wan Ni’mata laka wal Mulk, Laa Syarika Lak.”
Selama dalam perjalanan, KH. Moh. Taufiq menjelaskan tentang Padang Arafah yang merupakan perbatasan tanah haram dan tanah Arafah, tempat jutaan jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul untuk melaksanakan wukuf sejak tergelincirnya matahari tanggal 09 Dzulhijjah hingga terbit fajar tanggal 10 Dzulhijjah. Tempat yang hanya pada tanggal tersebut kemuliaannya melebihi Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Tempat di mana Allah Yang Maha Pengampun membanggakan umat manusia kepada para malaikat, melimpahkan rahmat-Nya, dan mengampuni hamba-hamba-Nya yang memohon ampunan kepada-Nya.
Jamaah haji yang melaksanakan Tarwiyah berangkat ke Mina terlebih dahulu dan bermalam (mabit), kemudian pada pagi hari tanggal 09 Dzulhijjah 1447 H yang bertepatan dengan Selasa, 26 Mei 2026 M, mereka berangkat ke Padang Arafah untuk bergabung dengan sekitar 1,6 juta umat Islam dari seluruh dunia.
Sampai di Padang Arafah
Padang Arafah adalah dataran luas di sebelah timur Makkah, Arab Saudi, yang berjarak sekitar 14–21 km dari Kota Makkah. Kawasan Arafah membentang dari Lembah Uranah (tempat Masjid Namirah berada) hingga ke perbukitan di sekitarnya. Di luar tanggal 09 Dzulhijjah, status kawasan ini sama dengan tanah-tanah lain di luar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Di kawasan ini terdapat bukit ikonik bernama Jabal Rahmah (Bukit Kasih Sayang), yang dipercaya sebagai lokasi bertemunya kembali Nabi Adam AS dan Siti Hawa setelah mereka terpisah lama ketika diturunkan ke bumi.
Bus yang mengangkut rombongan kami tiba di Padang Arafah pukul 13.00 WAS. Kami langsung diarahkan ke Tenda Nomor 6 Markaz 70. Namun, pada papan penunjuk yang terpampang tertulis Sektor 66, berkumpul dengan seluruh kloter Embarkasi Surabaya. Lokasinya berada agak jauh di pinggiran sebelah timur Padang Arafah.

Di sebelah barat daya tenda kami terdapat tenda jamaah Malaysia yang berdekatan dengan toilet yang sudah bagus, bersih, dan layak. Namun, untuk toilet laki-laki, kloset untuk BAK dan BAB berada di lantai dua sehingga menyulitkan jamaah lansia dan pengguna kursi roda.
Kloter SUB-74 memperoleh dua set tenda yang dibagi untuk jamaah KBIHU Al-Mabrur dan KBIHU Darus Syifa’ Surabaya. Tenda yang kami tempati berukuran 15 m x 25 m (menurut informasi merupakan yang paling luas), diisi sebanyak 340 jamaah, padahal kapasitas idealnya hanya 200 jamaah. Jamaah laki-laki dan perempuan digabung dalam satu tenda. Duduk, tidur, shalat berjamaah, dan pengajian dilakukan di dalam tenda. Semua membaur tanpa sekat, tidak ada kelas sosial dengan fasilitas yang sama. Seluruh jamaah reguler di Padang Arafah terpantau mendapatkan pelayanan yang sama.
Atas inisiatif jamaah, kasur jamaah laki-laki ditumpuk di tengah-tengah sebagai pembatas antara jamaah perempuan dan laki-laki, sehingga semua jamaah laki-laki tidur berjubel beralaskan karpet yang agak kasar.

Berbeda dengan tenda jamaah Malaysia yang memisahkan tenda laki-laki dan perempuan. Tenda mereka juga ditempeli stiker nama kelompok serta bendera Malaysia. Sedangkan tenda jamaah Indonesia tidak diperbolehkan ditempeli nama Kelompok/KBIHU karena dianggap melangkahi kewenangan Kemenhaj. Padahal, anggaran pembuatannya tidak menggunakan dana negara, melainkan secara mandiri, dan keberadaan stiker KBIHU semata-mata untuk memudahkan jamaah agar tidak tersesat. Bahkan, pemasangan stiker tersebut dilakukan atas petunjuk syarikah dan sepengetahuan sektor.
Sebagaimana pernyataan Wakil Menteri Kemenhaj yang didukung oleh salah satu Wakil Pimpinan Komisi VIII DPR RI yang tersiar melalui berbagai media, KBIHU yang menempelkan stiker diancam dicabut izin operasionalnya. Bahkan sempat dilakukan operasi pembersihan dan pelepasan stiker KBIHU di sejumlah tenda. Peristiwa tersebut, menurut pandangan saya, menggambarkan pemerintah yang kurang memberi ruang terhadap kreativitas masyarakat dalam membantu jamaahnya sendiri.
Tenda kami hanya diberi tanda berupa stiker berukuran A3 full color, dengan bendera Merah Putih bertuliskan “Tenda Jamaah Indonesia Tahun 1447 H/2026 M” dan logo syarikah Al Bait Guests. Di dalamnya tercantum Nomor Markaz 70, Nomor Tenda 6, ukuran tenda 15 x 25, Kloter SUB-74, kapasitas 340 jamaah, nomor rombongan, serta tulisan “Arafah”. Namun, tidak terdapat tanda yang menjelaskan tenda untuknjamaah laki-laki dan perempuan. Hal yang paling kami sesalkan adalah ketika tiba di Tenda Arafah tidak ada Petugas PPIH Arab Saudi yang mengarahkan ataupun mengatur jamaah.

Petugas pelayanan dari Kemenhaj yang selama ini mengusung slogan “Ramah Lansia, Perempuan, dan Disabilitas” tidak tampak saat kami tiba. Pelayanan lebih banyak dilakukan oleh petugas kloter yang jumlahnya terbatas, pengurus KBIHU, serta sesama jamaah yang saling membantu.
Tenda di Padang Arafah merupakan fasilitas perkemahan yang disediakan oleh otoritas Arab Saudi (syarikah) bagi jamaah haji. Bahan tenda menggunakan material anti-api dengan spesifikasi tinggi dan dilengkapi lapisan isolasi untuk membantu sirkulasi udara yang lebih baik. Area perkemahan juga terintegrasi dengan dapur umum untuk distribusi konsumsi jamaah.
Berdasarkan informasi yang saya peroleh melalui berbagai sumber, tenda (maktab) di Padang Arafah dibagi menjadi dua kategori: (1) Maktab Jamaah Haji Khusus (ONH Plus), yang dikelola pihak swasta atau konsorsium yang bermitra dengan Mashariq. Tenda biasanya berkapasitas lebih kecil (VIP), lebih eksklusif, lantainya dilapisi permadani tebal, serta mendapatkan layanan katering premium. (2) Maktab Jamaah Haji Reguler, yang dikelola oleh syarikah yang ditunjuk oleh Kemenhaj melalui proses lelang dengan fasilitas yang disesuaikan.
Sekilas Deskripsi Tenda dan Fasilitas yang Kami Rasakan di Arafah
Tenda yang kami tempati beralaskan karpet dan dilengkapi tiga unit pendingin udara (AC) portabel untuk mengantisipasi cuaca panas ekstrem. Selain itu tersedia kasur matras berukuran sekitar 50 cm x 150 cm, bantal kecil, selimut, serta penerangan yang cukup untuk menunjang kenyamanan jamaah selama melaksanakan puncak ibadah wukuf.
Cuaca di Padang Arafah sangat panas, berkisar antara 47–49 derajat Celsius. Di kawasan tempat kami tinggal ditanami pohon mimba atau yang oleh orang Arab disebut “pohon Soekarno” yang telah beradaptasi dengan kondisi iklim Arab. Jalan-jalan di sekitar tenda seluruhnya sudah dipaving. Setiap blok atau markaz memiliki taman yang dilengkapi rumput sintetis, kursi, dan ambal yang sering digunakan jamaah untuk bersantai, mengaji, berdoa, maupun beristirahat ketika tidak mendapatkan tempat yang cukup nyaman di dalam tenda.
Sesampainya di dalam tenda, kami memilih kasur yang sudah ditata rapat, beristirahat sejenak, melaksanakan shalat Zuhur, kemudian menikmati jatah makan jamaah haji Indonesia berupa nasi putih dan lauk RTE rendang sapi. Terlihat seluruh jamaah menikmati fasilitas yang diperoleh selama berada di Tenda Arafah sebagai jamaah haji reguler. Hampir tidak terdengar keluhan ataupun protes karena semua jamaah menyadari bahwa mereka masih berada dalam kondisi ihram.
Di Blok Markaz 70 disediakan toilet/MCK untuk pria dan wanita yang letaknya berdampingan. Kondisinya tidak bertingkat sehingga relatif lebih ramah bagi lansia. Namun menurut hemat saya, fasilitas tersebut masih kurang layak dan kurang terjaga kebersihannya, setiap unit telah dilengkapi tempat wudu.
Gambaran toilet pria yang kami gunakan adalah sebagai berikut: halaman depannya masih berupa tanah dan belum dipaving. Terdapat lima urinoil yang seluruhnya mampet sehingga apabila ingin digunakan harus membawa air sendiri menggunakan botol air mineral. Tempat wudu berada di sisi kanan dan kiri kamar mandi. Terdapat sekitar sepuluh bilik berukuran kurang lebih 80 cm x 1,5 meter. Sembilan bilik menggunakan kloset jongkok dengan selang air sebagai alat untuk cebok dan bersuci, sedangkan satu bilik menggunakan kloset duduk yang memerlukan pembersihan secara berkala agar tetap nyaman digunakan.
Saya kemudian memperoleh informasi dari jamaah lain bahwa Toilet/MCK yang berada di samping taman dekat tenda jamaah Malaysia jauh lebih baik. Setelah mencobanya, ternyata benar. Kondisinya masih baru, bersih, dan lebih layak digunakan. Untuk toilet laki-laki berada di lantai dua, sedangkan toilet perempuan berada di lantai dasar. Di bagian bawah juga tersedia tempat wudu yang cukup memadai.
Jatah Makan dan Konsumsi yang Kami Dapatkan Selama di Arafah dan Pembagian Batu Kerikil untuk Lempar Jumroh
Selama dua hari berada di Arafah, konsumsi jamaah terdistribusi dengan baik, tepat waktu, dan dalam jumlah yang cukup. Banyak makanan tambahan untuk menjaga stamina seperti roti, biskuit, jeruk, apel, puding, susu, minuman jus, hingga paket makanan ringan yang dibagikan sebelum keberangkatan ke Muzdhalifah. Air mineral kemasan 600 ml tersedia sangat melimpah. Selain itu disediakan pula air zam-zam kemasan botol 330 ml. Di depan tenda juga terdapat fasilitas air panas lengkap dengan teh dan gula yang selalu menjadi rebutan jamaah karena cepat habis. Mesin pemanas air tersebut dimanfaatkan jamaah untuk menyeduh mi instan kemasan gelas.
Pada malam harinya, atas upaya Kakloter, setiap jamaah mendapatkan payung dan tumbler untuk digunakan selama berada di Arafah, Mina, maupun saat melaksanakan lempar jumrah. Batu kerikil untuk lempar jumrah diberikan kepada semua jamaah saat masih di Arafah sebelum wukuf. Batu kerikil dimaksud dibungkus dalam tas kain dengan jumlah yang lebih dari cukup.
Pukul 12.00 WAS, HP saya ada panggilan video call dari Ustadzah Nur, guru pembimbing Al-Qur’an putri kami yang mondok di PPK Alif Laam Miim (ALM). Panggilan tersebut digabung bersama istri. Saat tersambung, beliau langsung memperlihatkan putri kami Ihda Nazilla Taufadi (Ziela), yang sedang diuji membaca Al-Qur’an Juz 30 tanpa melihat mushaf, kami ikut menyaksikan dan menyimak hafalan al-Qur’an Puteri kami dengan penuh takjub dan haru dan masih belum menyadari jika pada saat itu puteri kami sedang menuntaskan/mumtaz ujian hafalan 30 juz hafalan al-Qur’an.
Selesai shalat Ashar, kami mendapat kabar bahwa bus yang membawa Rombongan 1 mengalami kemacetan selama lebih dari satu jam. Bahkan bus tersebut sempat diderek oleh petugas jalan tol Arab Saudi ke lokasi yang justru semakin jauh. Untungnya di dalam rombongan Bus 1 ada Bapak Alwi yang membersamai mereka. Kehadiran beliau membuat jamaah yang rata-rata masih muda, sehat, dan bugar tidak terlalu khawatir, meskipun rasa gelisah dan panik tetap menghantui hingga datangnya bus pengganti. Bapak Alwi memang selalu memilih berangkat paling akhir dalam setiap mobilisasi jamaah untuk memastikan tidak ada satu pun jamaah yang tertinggal.
Sementara itu, kami yang sudah berada di Tenda Arafah sangat panik dan khawatir. Bahkan setelah shalat Ashar, KH. Moh. Taufiq memimpin pembacaan Surah Yasin dan doa bersama untuk keselamatan serta kelancaran perjalanan jamaah Rombongan 1 yang menurut hemat kami sedang mengalami kepanikan dan kelelahan akibat cuaca panas.
Bapak Alwi kemudian menghubungi Kakloter Ibu Hajar dan selanjutnya menghubungi saya agar disampaikan kepada istri saya, Hj. Ansari, untuk membantu mengupayakan solusi melalui kementerian dan Komisi VIII DPR RI. Saat itu jamaah sudah tertahan sekitar tiga jam di lokasi yang tidak mereka ketahui.
Saya dan KH. Moh. Taufiq kemudian mendatangi kantor maktab dan syarikah. Petugas sebenarnya sudah mengetahui kejadian tersebut, namun tidak dapat berbuat banyak. Syukurlah, Staf Khusus Irjen Kemenhaj bernama Bapak Yusuf langsung merespon setelah dihubungi langsung oleh istri saya, Dia terus menghubungi Bapak Alwi dan berupaya mencarikan bus pengganti, serta mengirim stafnya untuk membawakan minuman karena khawatir jamaah mengalami dehidrasi.
Karena jamaah Rombongan 1 terus mengirim pesan WhatsApp yang berisi keluhan seperti:”Lapar, haus, mohon tolong nasib kami, Bu Ansari. Kami kepanasan…”. Pesan-pesan tersebut menggambarkan kegelisahan dan kondisi yang cukup mengkhawatirkan. Dengan terpaksa, Hj. Ansari meneruskan informasi mengenai kemacetan bus Rombongan 1 ke Grup WhatsApp Komisi VIII dengan maksud agar teman-temannya dapat membantu mengupayakan percepatan penanganan kepada pihak syarikah.
Alhamdulillah, setelah menunggu sekitar tiga hingga empat jam, bus pengganti akhirnya datang. Rombongan 1 pun berhasil tiba di tenda dengan selamat. Mereka langsung melaksanakan shalat Ashar, makan, dan beristirahat sambil menunggu waktu shalat Maghrib.
Kami kemudian melaksanakan shalat Maghrib berjamaah yang dilanjutkan dengan pemberian materi pemantapan oleh Bapak Alwi dengan tema keutamaan bulan Dzulhijjah serta pentingnya memanfaatkan momentum wukuf di Arafah dengan sungguh-sungguh. Beliau mengingatkan bahwa kami adalah manusia-manusia pilihan yang dipanggil oleh Allah SWT untuk menunaikan ibadah haji. Seluruh jamaah mendengarkan materi tersebut dengan penuh khidmat hingga masuk waktu shalat Isya.

Selesai shalat Isya, kami menikmati makan malam dengan menu nasi putih dan lauk RTE opor ayam. Setelah itu kami berjalan-jalan di sekitar lingkungan tenda Arafah, duduk berbincang santai sambil menikmati suasana malam di taman yang beralaskan rumput sintetis di samping tenda jamaah Malaysia. Sekitar pukul 00.00 WAS saya kembali ke dalam tenda untuk beristirahat, sementara beberapa kawan lainnya memilih tidur di taman.
Tanggal 09 Dzulhijjah : Kami melaksanakan Wukuf di Arafah
Selasa, 26 Mei 2026 atau bertepatan dengan 09 Dzulhijjah 1447 H merupakan hari yang ditunggu-tunggu oleh jutaan umat Islam dari seluruh dunia yang datang ke Arafah. Di tempat dan waktu ketika pintu ampunan dibuka selebar-lebarnya, dan semua ampunan akan diterima. Waktu ketika manusia memohon agar dibebaskan dari api neraka. Dan hari dimana ketika seseorang tidak akan disebut berhaji apabila tidak sampai ke Padang Arafah walaupun hanya sesaat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Al-Hajju Arafah.” (Haji itu adalah Arafah).
Pukul 09.00 WAS, sahabat saya Ismail, Wakil Ketua DPRD Pamekasan yang berada di Markaz 98, menghubungi saya. Ia menyampaikan bahwa ada utusan Prof. Dr. Mukhlis, Pengasuh Pondok Pesantren Kyai Mudrikah Kembang Kuning Pamekasan, yang ingin menemui saya. Setelah bertemu, mereka menyampaikan amanah dari beliau agar saya dan istri membuat video ucapan selamat dan sukses atas terbitnya izin operasional Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang beliau kelola. Tanpa berpikir panjang, saya langsung membuat video tersebut. Istri saya juga membuat video yang sama, kemudian kami kirimkan kepada Ismail yang pada musim haji tahun itu bertugas sebagai PHD.
Kabar Bahagia dan Haru tentang Hafidzahnya Putri Kami Menjelang Wukuf
Dua jam sebelum khutbah wukuf dimulai, kami terus dipandu melantunkan talbiyah dengan nada yang begitu menyentuh hati: “Labbaik Allahumma Labbaik, Labbaika Laa Syarika Laka Labbaik. Innal Hamda wan Ni’mata Laka wal Mulk, Laa Syarika Lak.”

Saat khusyuk melantunkan talbiyah, telepon genggam saya menerima kiriman flyer yang menginformasikan bahwa putri pertama kami, Ihda Nazilla Taufadi, dinyatakan berhasil secara mumtaz mengkhatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz. Seketika air mata saya mengalir deras. Saya menangis sesenggukan (inj adalah kali kedua dalam perjalanan hidup saya benar-benar menangis). Perasaan haru dan bahagia bercampur menjadi satu dengan kesadaran atas begitu banyak dosa yang saya miliki di hadapan Sang Khalik, Dzat Yang Maha Pengampun.

Putri sulung kami pada tahun 2020 setelah lulus SD kami mondokkan di Pondok Pesantren Kota Alif Laam Miim (PPK ALM) Surabaya untuk menimba ilmu dan mencari keberkahan. Dengan perjuangan dan jerih payahnya selama enam tahun di pondok, disertai doa kami, do’a dan bimbingan almarhum Prof. Dr. Imam Mawardi, Ibu Nyai Dra. Ida Susiani, MM, serta para asatidz dan asatidzah yang dengan sabar membimbingnya, Alhamdulillah tsumma Alhamdulillah, tepat saat kami sedang melaksanakan wukuf di Arafah, ia mempersembahkan hadiah yang tidak ternilai harganya dengan menuntaskan hafalan Al-Qur’an 30 juz secara mumtaz.
Sebuah capaian yang belum tentu dapat diraih oleh anak seusianya. Saya terdiam. Tidak ada kata-kata yang mampu saya ucapkan selain derasnya tetesan air mata kebahagiaan. Dengan tangan yang bergetar saya mengangkat kedua tangan dan berdoa:
“Ya Allah, panjangkan dan berkahilah umurnya ; Jadikanlah putri kami hamba-Mu yang salehah dan berikan kepadanya jodoh yang saleh ; Jadikanlah ia hamba-Mu yang beruntung, Mujur dan Mulia dalam hidupnya ; Jadikan ia hambaMu yang Qur’ani, menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya, perhiasan, senjata, dan perisai kehidupannya ; Sehatkanlah dirinya lahir dan batin. Jauhkanlah-hindarkannya dan selamatkanlah ia dari segala musibah, malapetaka, orang-orang yang ingin mendzaliminya, penyakit menaun, kepikunan dan sihir ; Lancarkan dan mudahkan semua urusannya ; Cukupkan rezekinya dengan rezeki yang halal ; Wafatkanlah ia dalam keadaan husnul khatimah dan karuniakanlah kepadanya kebaikan di dunia dan di akhirat.”
Ibadah Wukuf Penuh dengan Derai Air Mata
Sebelum wukuf dimulai, Bapak Alwi menyampaikan bahwa Khutbah Akbar Wukuf dilaksanakan di Masjid Namirah, Padang Arafah. Oleh karena kami tidak memungkinkan untuk hadir langsung di lokasi tersebut, maka pelaksanaan khutbah wukuf dilakukan di tenda masing-masing. Jamaah haji dari KBIHU Darus Syifa’ yang menempati tenda sebelah juga bergabung bersama kami untuk mengikuti rangkaian pelaksanaan wukuf.
Tepat pukul 12.17 WAS, pelaksanaan wukuf dimulai dengan rangkaian acara yang berlangsung penuh kekhusyukan. Bapak Alwi membuka pelaksanaan wukuf dengan pembacaan mukadimah berbahasa Arab, dilanjutkan dengan beberapa nasihat singkat serta pembacaan talbiyah bersama. Setelah itu, khutbah wukuf disampaikan oleh pembimbing dari KBIHU Darus Syifa’ Surabaya. Materi khutbah disampaikan dalam bahasa Indonesia dengan tema pengakuan dosa-dosa manusia dan pentingnya memohon ampunan kepada Allah SWT selama wukuf berada di Padang Arafah.
Selesai khutbah, seluruh jamaah melaksanakan shalat jamak qashar Zuhur dan Ashar dengan imam KH. Moh. Taufiq. Setelah itu dilanjutkan dengan zikir wukuf yang dipimpin oleh Bapak Alwi. Doa pertama dipimpin oleh Prof. Imam Amruzi, Petugas Kloter Bimbad SUB-74, menggunakan bahasa Arab.
Doa berikutnya dipimpin oleh Bapak Alwi menggunakan bahasa Madura yang membuat suasana tenda berubah menjadi sangat mengharukan, tangisan, isak haru, dan ratapan semua jamaah terdengar di berbagai sudut tenda, setiap jamaah mengingat dan mengakui semua dosanya dan memohon ampunan kepada Allah SWT.
Pada saat wukuf, Allah SWT sangat dekat dengan hamba-hamba-Nya. Segala doa dipanjatkan dengan penuh keyakinan akan dikabulkan, karena saat wukuf Allah SWT melimpahkan rahmat-Nya, turun langsung mengabulkan doa-doa hamba-Nya dan membanggakan hamba-hambaNya yang sedang wukuf di arafah kepada para malaikat
Seluruh jamaah memperbanyak zikir sebagaimana yang diajarkan Rasulullah SAW, dengan membaca tahlil, tahmid, istigfar, shalawat, serta berbagai doa dan amalan puji-pujian kepada sang Khaliq yang mereka yakini.
Adapun saya, memperbanyak membaca: “Astaghfirullahal ‘Adzim, innahu kana ghaffara.”, memperbanyak membaca Shalawat Jibril, berdoa untuk kedua orang tua “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”
serta berdoa sapu jagat “Rabbana atina fid-dunya hasanah wa fil-akhirati hasanah wa qina ‘adzaban nar.” Karena hanya itulah yang saya hafal.
Seluruh jamaah tetap duduk dengan khusyuk hingga adzan Maghrib dikumandangkan oleh Dhani, putra H. Herman, salah seorang pengurus KBIHU Al-Mabrur. Kami kemudian melaksanakan shalat jamak taqdim Maghrib dan Isya dengan imam Bapak Alwi. Setelah shalat, suasana menjadi lebih santai. Jamaah menikmati makan malam, menerima berbagai makanan ringan dan minuman untuk bekal perjalanan ke Muzdhalifah, serta mempersiapkan diri untuk keberangkatan yang dijadwalkan pada pukul 01.00 WAS.
Akhirnya Jamaah Kloter SUB-74 Murur di Muzdhalifah
Tanggal 10 Dzulhijjah 1447 H yang bertepatan dengan hari Rabu, 27 Mei 2026 merupakan Hari Raya Iduladha bagi umat Islam di seluruh dunia. Sejak Sore hari sebelumnya hingga dini hari, seluruh jamaah haji yang berada di Padang Arafah mulai dimobilisasi menuju Muzdhalifah.
Bagi jamaah yang memperoleh jadwal keberangkatan sore hari bermalam (mabit) di Muzdalifah. Sedangkan Jamaah yang diberangkatkan ke atas pukul 00.00 WAS dan dini hari melaksanakan murur, yaitu melintasi kawasan Muzdhalifah sambil berhenti sejenak dan berniat bermalam di Muzdalifah, karena waktunya memang tidak memungkinkan.
Keberangkatan menuju Muzdhalifah mengalami keterlambatan sekitar satu jam karena keterbatasan jumlah armada bus yang disediakan untuk mengangkut jamaah Kloter SUB-74. Sejak pukul 23.00 WAS seluruh jamaah telah siap.
Dari tenda Arafah kami diarahkan menuju area keberangkatan yang telah dirancang khusus. Di lokasi tersebut terdapat dua jalur yang diberi tanda berbeda, yaitu jalur Murur dan jalur Mabit di Muzdhalifah. Namun sejak pukul 01.00 WAS, kedua jalur tersebut akhirnya digunakan untuk murur.

Keberangkatan dilakukan secara bertahap menggunakan armada yang disediakan oleh syarikah. Setiap bus didampingi pembimbing untuk mengingatkan jamaah agar tidak lupa berniat bermalam saat melintasi Muzdhalifah. Kami ikut rombongan terakhir bersama Bapak Alwi yang baru mendapatkan bus sekitar pukul 02.00 WAS. Akhirnya kami berangkat ke Muzdhalifah dilanjutkan ke Mina dengan menaki bus kloter lain.
Suasana di dalam bus sangat khidmat, lantunan talbiyah terdengar sepanjang perjalanan. Jamaah juga diingatkan agar jangan dulu mengumandangkan takbir sebelum melempar Jumratul Aqabah.
Sesampainya di kawasan Muzdhalifah, bus berhenti sejenak. Kemudian kami berniat untuk bermalam di muzdhalifah (ada yang pakai bahasa indonesia, banyak pula yang menggunakan bahasa madura). Dari dalam bus terlihat hamparan jamaah yang sedang mabit memenuhi kawasan tersebut. Di sisi lain tampak pula iring-iringan jamaah dari berbagai negara yang berjalan kaki menuju Mina dan ada yang langsung ke masjidil haram untuk tawaf Ifadah dan sa’i terlebih dahulu.
Mabit di Muzdhalifah merupakan kegiatan bermalam atau singgah sejenak di kawasan Muzdalifah merupakan salah satu rukun wajib haji, setelah wukuf di Arafah. Ibadah ini dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijah. Pada malam itu jamaah memperbanyak zikir, berdoa, beristirahat, dan mengumpulkan batu kerikil yang akan digunakan untuk melempar jumrah di Mina. Oleh karena keterbatasan waktu dan armada bus, kami memilih untuk melaksanakan murur, yaitu cukup melintasi kawasan Muzdhalifah sambil berniat bermalam.
Setelah berhenti sejenak, bus kembali melanjutkan perjalanan dan sampai di Tenda Mina pukul 03.00 WAS.
Sampai di Mina dengan Ceria Walau Sempat Salah Maktab
Bermalam (mabit) di Mina merupakan salah satu rangkaian wajib dalam ibadah haji yang dilakukan pada malam 11 dan 12 Dzulhijjah bagi jamaah yang mengambil Nafar Awal, atau malam 11, 12, dan 13 Dzulhijjah bagi jamaah yang mengambil Nafar Tsani. Selama berada di Mina, jamaah haji tinggal di tenda untuk melaksanakan lempar jumrah (Ula, Wustha, dan Aqabah).
Menurut mayoritas ulama (kecuali Imam Abu Hanifah), mabit di Mina merupakan wajib haji. Jika ditinggalkan tanpa uzur syar’i, jamaah diwajibkan membayar dam (denda).
Rombongan Jamaah Kloter SUB-74 sempat salah jalan menuju Markas Tenda 614 Nomor 70. Hal tersebut terjadi karena bus yang kami tumpangi bukan armada kloter SUB-74 sehingga kami diturunkan di lokasi yang berbeda, namun tidak terlalu jauh dari Maktab yang akan kami tempati. Setelah memperoleh share location dari jamaah yang sudah tiba lebih dahulu dan mengikuti petunjuk tersebut, akhirnya kami sampai di tenda Mina sekitar pukul 03.00 WAS tanggal 10 Dzulhijjah.

Sesampainya di tenda, kami disarankan untuk tidak langsung tidur dan menunggu waktu Subuh agar dapat melaksanakan shalat berjamaah. Setelah shalat Subuh, semoga kami diizinkan untuk melaksanakan lempar Jumratul Aqabah.
Al-Hamdulillah seluruh jamaah mendapatkan jatah makan pagi di Mina berupa nasi putih dan lauk RTE opor ayam. Setelah makan, kami beristirahat sambil menunggu jadwal keberangkatan lempar Jumratul Aqabah yang ditentukan syarikah pada pukul 09.00 WAS.
Suasana Mencekam Saat Melempar Jumratul Aqabah Tanggal 10 Dzulhijjah
Saya, istri, dan ibu mertua sudah bersiap sejak selesai shalat Subuh untuk berangkat melempar jumrotul Aqoba. Sedangkan ibu, saya sarankan untuk tidak ikut karena kondisi fisiknya tidak memungkinkan berjalan cepat di tengah kerumunan ribuan orang dengan cuaca sangat panas. Untuk lempar Jumratul Aqabah maupun lempar jumrah pada hari tasyrik, saya yang akan membadalkan/mewakilinya.
Pukul 07.00 WAS, lebih cepat dari jadwal yang diberikan syarikah, Jamaah Kloter SUB-74 berangkat menuju Jamarat untuk melaksanakan lempar Jumratul Aqabah. Sepanjang perjalanan menuju Jamarat, di tengah ribuan bahkan jutaan umat Muslim yang memadati jalan, sekitar 320 jamaah berseragam biru berbaris rapi mendominasi jalur menuju Jamarat sambil melantunkan kalimah talbiyah.
Perjalanan menuju Jamarat dari Tenda Mina Sektor 614 No. 70 harus memutar mengikuti arahan petugas Arab Saudi karena kondisi jalan yang sangat padat. Kami melewati enam terowongan Mina dengan jarak tempuh perjalanan sekitar tujuh kilometer, perjalanan menjadi lebih jauh sekitar dua kilometer dari jalur normal yang seharusnya sekitar 2,5 kilometer. Di atas udara tampak helikopter Angkatan Udara Kerajaan Arab Saudi lalu-lalang memantau pergerakan jamaah dari udara.

Jamaah terus melantunkan talbiyah tanpa menghiraukan panas ekstrem yang menyengat. Seluruh perhatian tertuju pada perjalanan menuju Jamarat yang dipandu oleh Bapak Alwi di barisan depan.
Sejak berangkat hingga kembali, bendera merah terus dikibarkan sebagai penanda agar jamaah tetap mengikuti rombongan dan tidak ada yang tertinggal. Formasi barisan tetap sama seperti saat tawaf umrah wajib, yaitu jamaah perempuan berada di tengah dan jamaah laki-laki di sisi kanan-kiri. Setelah berjalan sekitar satu setengah jam, akhirnya kami tiba di Jumratul Aqabah.

Saat kami tiba suasana sangat padat. Ribuan bahkan ratusan ribu jamaah haji dari seluruh dunia berkumpul untuk melaksanakan lempar Jumratul Aqabah.
Sesuai arahan Bapak Alwi saat bimbingan, kami melempar dari sisi kiri arah Mina pada sudut tugu Aqabah yang berbentuk elips seperti perahu dengan posisi membelakangi Baitullah. Kami berniat sesaat sebelum melempar, lalu mengucapkan “Bismillahi Wallahu Akbar”, kalimat Tasmiyah dan Takbir dibaca bersamaan dengan melempar batu kerikil ke tugu Aqoba sebanyak tujuh kali.
Setelah selesai melempar untuk diri sendiri yang membadalkan haji almarhum Ramah, saya kembali melempar untuk membadalkan jumrotul Aqobahnya ibu. Walau dalam kondisi lelah Isteri tercinta dan Ibu Mertua tampak sangat bersemangat melempar Jumratul Aqabah.
Selesai melempar, kami langsung mengumandangkan takbir : “Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar. Laa Ilaaha Illallahuwallahu Akbar. Allahu Akbar wa Lillahil Hamd.” Sambil berjalan meninggalkan tugu Aqoba yang dipenuhi oleh ratusan ribu jamaah haji seluruh dunia. Bisa dibayangkan, kami berada di lokasi Jamarat yang setiap jam dipenuhi oleh sekitar 300.000 jamaah haji dari seluruh dunia.
Selesai melaksanakan lempar jumrah tanpa berdoa, kami langsung mengikuti arah bendera merah yang dipegang Dadang sebagai penanda keberadaan Bapak Alwi yang memandu jamaah keluar dari kerumunan menuju jalan kembali ke Mina.
Dalam perjalanan kembali ke Mina, kami melaksanakan tahallul dengan menggunting rambut sambil berjalan. Di tengah kondisi jalan yang sangat sesak-padat, kami meminjam gunting dari jamaah lain. Setelah menggunting rambut sendiri, saya menggunting rambut istri dan ibu mertua.
Dengan selesainya tahallul, sejak saat itu kami diperbolehkan melepas pakaian ihram yang kami pakai sejak berangkat ke Arafah dan terbebas dari larangan ihram, kecuali hubungan suami istri yang masih belum diperbolehkan hingga selesai melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sa’i
Sesuai ketentuan syar’i, jamaah haji diperbolehkan tahallul setelah menyelesaikan minimal 2 rangkaian pelaksanaan kegiatan ibadah haji, yang dimulai dari niat berhaji dari atas bus saat berangkat ke Arafah untuk wukuf tanggal 9 Dzulhijjah, Menginap (murur) di Muzdalifah, Melempar Jumrotul Aqoba, Menginap (mabit) di Mina dan melempar jumratul Ula-Wustha-Aqoba Tanggal 11,12 Dzulhijjah bagi yang mengambil nafar awal, dan tanggal 13 Dzulhijjah bagi yang mengambil Nafar Tsani dan melempar Jumrotul Ula-Wustha-Aqoba, dilanutkan dengan melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sai, lalu ditutup dnegan Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan).
Saya terus menggandeng tangan istri yang terlihat pucat pasi. Bibirnya mulai memutih karena kelelahan. Untuk mengalihkan rasa lelahnya saya mengajaknya bercanda:
“Abi jangan banyak ngomong, dada saya sesak,” katanya sambil terengah-engah.
Kami terus mengikuti arah bendera rombongan Al-Mabrur yang jumlahnya sekitar dua belas buah dengan berbagai warna (merah, putih, kuning, biru, hijau, dan coklat). Bendera-bendera tersebut ditempatkan di depan, tengah, kanan-kiri, dan belakang rombongan sehingga sangat membantu jamaah agar tidak terpisah.
Di tengah perjalanan kembali dari jamarat, kami kehabisan air minum. Melihat kondisi istri yang semakin lelah, saya berlari ke pinggir jalan mencari air minum dingin yang disediakan di sepanjang jalan, berebut dengan berbagai jamaah dari mancanegara yang bertubuh tinggi dan besar. Setelah berhasil mendapatkannya saya berlari mengejar rombongan yang sudah jauh di depan, saya segera memberikan air tersebut kepada istri yang tampak sangat kelelahan. Kami terus berjalan bergandengan tangan. Sementara Emmak tampak menahan lelah sambil berjalan bersama jamaah perempuan lain yang lebih muda.
Protes terhadap Sistem Pembagian Jatah Makan di Mina yang Tidak Berbasis Kloter
Setelah melewati terowongan kedua Mina dan berbelok ke kiri di bawah jalan layang, akhirnya kami kembali ke tenda Mina sekitar pukul 11.00 WAS. Dalam kondisi sangat lelah, kami beristirahat sejenak, kemudian melaksanakan shalat jamak qashar Zuhur dan Asar.
Selesai shalat, dilakukan pembagian jatah makan siang di tenda Mina. Namun pembagian konsumsi tidak berbasis kloter sehingga terjadi kekacauan. Banyak jamaah yang tidak memperoleh jatah makan, termasuk jamaah dari kloter lain yang hingga sore hari belum mendapatkannya.
Melihat kondisi tersebut, saya merasa prihatin. Saya kemudian mendatangi dapur yang berada di depan tenda dan menyampaikan protes kepada petugas PPIH Arab Saudi yang berjaga serta kepada pihak syarikah. Saya mengusulkan agar pembagian konsumsi berikutnya dilakukan berdasarkan kloter, dengan penanggung jawab kakloter yang mengambil dan mendistribusikannya kepada jamaah, bukan dibagikan langsung secara bebas.
Selanjutnya, jamaah menjalani berbagai aktivitas di Mina. Ada yang melaksanakan shalat berjamaah, mengaji, berdzikir dengan tasbih yang terus berputar di tangannya, berdoa sambil memejamkan mata, berbincang di dalam tenda, maupun sekadar bercengkerama di lorong-lorong tenda sambil menikmati rokok.
Pemberian Materi Pendalaman Lempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah
Ba’da Maghrib, Bapak Alwi melakukan evaluasi pelaksanaan lempar Jumratul Aqabah. Beliau menyampaikan bahwa masih ada jamaah yang melempar hingga 21 kali karena kurang memahami tata caranya. Beliau kemudian memberikan materi pendalaman mengenai tata cara melempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah, sekaligus menjelaskan kisah Nabi Ibrahim AS yang mendapat perintah dari Allah SWT untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail AS. Peristiwa itulah yang kemudian menjadi syariat dalam ibadah haji yang hingga kini terus dilaksanakan umat Islam.
Waktu yang paling afdhal/utama untuk melempar Jumratul Aqabah adalah setelah terbit matahari. Sedangkan pada hari-hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah), waktu yang paling utama untuk melempar Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah adalah setelah tergelincir matahari hingga sebelum terbenam. Tidak sah melempar jumrah di Hari Tasyrik sebelum subuh. Namun khusus jamaah haji Indonesia, Pemerintah Arab Saudi menetapkan pembatasan pelaksanaan lempar jumrah pada pukul 10.00–14.00 WAS demi keselamatan jamaah. Oleh karena itu, sangat dianjurkan melaksanakan pelemparan setelah Maghrib atau pada waktu yang lebih aman.
Berdasarkan pertimbangan tersebut, KBIHU Al-Mabrur menyusun skenario sebagai berikut : Lempar jumrah tanggal 11 Dzulhijjah dilaksanakan ba’da shalat Asar. Lempar jumrah tanggal 12 Dzulhijjah dilaksanakan pukul 06.00 WAS karena setelah Zuhur direncanakan kembali ke hotel. Bagi jamaah yang mengambil Nafar Tsani, lempar jumrah tanggal 13 Dzulhijjah akan dilakukan dari hotel sore hari.
Jumlah batu yang digunakan untuk setiap jumrah adalah tujuh butir. Batu kerikil tersebut sudah dibagikan dan diterima oleh jamaah saat berada di Arafah. Batu harus mengenai tugu jamarat yang berbentuk elips/perahu, sehingga masuk ke dalam sumur. Selain itu, diupayakan agar dekat dengan tugu saat melempar sebab jika jaraknya terlalu jauh dengan tugu, maka dikhawatirkan lemparannya tidak sampai mengenai tugu. Sebelum melempar dianjurkan membaca niat, lalu setiap lemparan disertai membaca Tasymiyah dan Takbir : “Bismillahi Wallahu Akbar.”
Setelah melempar Jumrah Ula dan Wustha dianjurkan berdoa sesuai keinginan masing-masing. Sedangkan setelah melempar Jumratul Aqabah tidak perlu berdoa-langsung berjalan menuju arah jalan keluar kembali ke tenda mina.
Memasuki waktu Isya, kami melaksanakan shalat Isya qashar berjamaah. Setelah makan malam, kami beristirahat menunggu hari berikutnya. Sebagai jamaah haji reguler, kami tidur dalam kondisi sangat sesak-berjubel. Jamaah laki-laki dan perempuan berada dalam satu tenda yang hanya dipisahkan oleh tumpukan kasur yang disusun di tengah.
Sekilas Deskripsi Maktab di Mina
Kondisi maktab Kloter SUB-74 di Mina, Markaz 614 Nomor 70 jauh berbeda dengan Tenda di Arafah. Tenda yang tersedia lebih kecil, berukuran sekitar 12 m x 8 m dan ditempati ratusan jamaah. Pendingin udara menggunakan blower, sedangkan lorong-lorong antar tenda sangat sempit, hanya sekitar dua meter. Fasilitas kasur, bantal, dan selimut sama seperti di Arafah. Setiap tenda hanya diberi penanda berupa stiker ukuran A3 yang serupa dengan di Arafah, hanya berbeda tulisan “Mina”.

Banyak jamaah dari kloter lain tidak mendapatkan tenda, sehingga harus beristirahat di lorong-lorong tenda maupun area sekitar toilet/MCK. Kondisi distribusi konsumsi juga tidak sebaik di Arafah. Pada hari pertama, banyak jamaah yang tidak memperoleh jatah makan. Untungnya di sepanjang lorong tersedia air panas lengkap dengan teh dan gula yang dimanfaatkan jamaah untuk membuat mi instan gelas.

Toilet di Mina sebenarnya sudah sangat layak, lantai dua dan memiliki kapasitas cukup yang bisa dipakai oleh semua jemaah di markas 614. Sayangnya, banyak jamaah yang tidak menjaga kebersihan. Ada yang membuang sampah maupun popok ke dalam kamar mandi, tidak menggunakan fasilitas dengan benar, bahkan merusak perlengkapan toilet. Akibatnya, fasilitas yang dirancang untuk kenyamanan jamaah menjadi kurang nyaman digunakan.
Suasana Nyaman Saat Melempar Jumrah Hari Tasyrik Pertama
Tanggal 11 Dzulhijjah bertepatan dengan hari Kamis 28 Mei 2026, pukul 18.00 WAS kami berangkat menuju Jamarat untuk melaksanakan lempar jumrah hari tasyrik pertama. Ibu saya tetap tidak ikut, demikian pula ibu mertua yang memilih beristirahat berdasarkan pengalaman saat melempar Jumratul Aqabah. Oleh karena itu saya membadalkan ibu, sedangkan istri membadalkan ibu mertua.


Berbeda dengan hari sebelumnya, perjalanan menuju Jamarat kali ini terasa lebih nyaman. Jalur yang ditempuh tidak terlalu jauh, hanya sekitar 2,5 kilometer dengan melewati dua terowongan Mina.

Sesampainya di Jamarat, kami memulai pelemparan dari Jumratul Ula, kemudian Wustha, dan terakhir Aqabah. Setelah melempar Ula dan Wustha kami berdoa sesuai keinginan masing-masing, sedangkan setelah Aqabah kami langsung berjalan menuju jalan keluar.


Sekitar pukul 20.00 WAS kami kembali ke tenda Mina dalam kondisi tidak terlalu lelah. Udara sore yang lebih sejuk membuat perjalanan terasa lebih ringan dibanding saat melempar Jumratul Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah, Air minum yang kami bawa pun masih tersisa banyak. Sepanjang perjalanan menuju Jamarat kami terus mengumandangkan takbir.
Selesai melaksanakan shalat Maghrib dan Isya secara jamak qashar berjamaah, kami duduk santai di depan tenda sambil menikmati suasana maktab 614 dan lalu-lalangnya jamaah yang akan berangkat maupun yang baru pulang dari Jamarat.
Melempar Jumrah Hari Tasyrik Kedua dan Ditakdirkan Melaksanakan Nafar Tsani
Tanggal 12 Dzulhijjah 1447 H, bertepatan dengan hari Jumat, 29 Mei 2026, kami berangkat untuk melaksanakan lempar jumrah hari tasyrik kedua pada pukul 06.00 WAS. Sesuai informasi yang kami terima, jamaah KBIHU Al-Mabrur direncanakan mengambil Nafar Awal dan akan kembali ke hotel setelah Zuhur dengan menggunakan armada bus yang disediakan oleh syarikah.

Jalur dan jarak perjalanan menuju Jamarat pada hari tasyrik kedua sama persis dengan saat melaksanakan lempar Jumratul Aqabah. Namun kondisi jalan tidak sepadat sebelumnya. Kami berjalan santai dalam formasi barisan yang tertib sambil terus mengumandangkan takbir. Bendera rombongan tetap dikibarkan sebagai penanda agar jamaah tidak terpisah.
Sekitar pukul 09.30 WAS kami kembali ke tenda dan beristirahat karena kelelahan. Setelah itu kami menikmati sarapan berupa nasi putih, ikan fillet goreng tepung, dan sayur wortel.

Di Markaz 614 tampak jamaah dari kloter lain yang mengambil Nafar Awal mulai diberangkatkan ke hotel. Sementara jamaah Kloter SUB-74 masih menunggu giliran hingga masuk waktu shalat Duhur. Walaupun hari Jumat, di Mina tidak dilaksanakan shalat Jumat sehingga kami melaksanakan shalat Duhur qashar berjamaah seperti biasa.

Saat menunggu keberangkatan, seluruh jamaah memperoleh tiga paket makanan RTE. Namun rasanya tidak enak sehingga banyak jamaah yang tidak memakannya. Pukul 15.00 WAS belum ada tanda-tanda keberangkatan. Tiba-tiba Kak Fahmi memanggil saya untuk menemui Bapak Alwi, KH. Moh. Taufiq, dan Ibu Hajar yang serius membahas persoalan ketiadaan armada bus menuju hotel.
Saat itu Bapak Alwi dengan berbahasa Arab bertanya kepada salah seorang petugas syarikah yang melintas di depan kami mengenai keberadaan bus untuk mengantar jamaah kembali ke hotel, beliau menanyakan apakah armada masih tersedia ?, Jawaban yang diterima cukup mengejutkan, tidak ada bus karena hari Jumat seluruh armada libur.
Setelah bermusyawarah, diputuskan bahwa jamaah yang masih sehat dan kuat mengambil Nafar Awal dengan berjalan kaki kembali hotel sejauh kurang lebih 7,5 kilometer. Rombongan tersebut didampingi oleh Bapak Alwi dan dr. Haris serta harus keluar dari Mina sebelum Maghrib. Jumlah jamaah KBIHU Al-Mabrur yang mengambil Nafar Awal sekitar 234 orang. Sementara itu, jamaah lansia, pengguna kursi roda, jamaah risiko tinggi (resti), dan para pendampingnya mengambil Nafar Tsani, didampingi oleh Ibu Hajar (kakloter), Bpk. Ansori (perawat), Prof. Imam (Bimbad Kloter) dan Ning Azizah (PHD Provinsi).
Dengan mempertimbangkan kondisi ibu yang tidak memungkinkan berjalan sejauh itu, saya, istri, ibu, dan ibu mertua memutuskan mengambil Nafar Tsani. Selain alasan tersebut, istri memang menginginkan untuk menyempurnakan mabit hingga tanggal 13 Dzulhijjah. Jumlah jamaah KBIHU Al-Mabrur yang mengambil Nafar Tsani sebanyak 90 orang, ditambah 51 jamaah dari KBIHU Darus Syifa’ yang juga tetap tinggal di Mina hingga tanggal 13 Dzulhijjah.


Di sela-sela waktu istirahat, saya sempat meluapkan kekesalan akibat ketidakjelasan jadwal kepulangan yang disebabkan tidak tersedianya armada bus. Akhirnya, istri menghubungi Bapak Puji, Dirjen Bina Haji dan Umrah, untuk meminta penjelasan mengenai kondisi tersebut. Dari percakapan yang saya dengar, dijelaskan bahwa skema yang direncanakan adalah 70 persen jamaah mengambil Nafar Awal dan 30 persen mengambil Nafar Tsani. Istri juga menyampaikan permohonan agar Kloter SUB-74 disediakan dua armada bus untuk mengangkut jamaah kembali ke hotel besok yang dijawab mendapatkan perhatian khusus.
Setelah itu Istri saya diam seribu bahasa, bertanda dia marah-mangkel pada saya. Malam itu suasana di tenda terasa berbeda. Jamaah dari KBIHU Darus Syifa’ tidak mau bersatu dan memilih berangkat melempar jumrah dari tenda mina sebelum subuh dan didampingi Prof Imam Amruzi. Pada saat musyawarah, usai shalat jamak-qashar maghrib-isya’, sudah ada kesepakatan bahwa akan bersama-sama kembali ke hotel dan melempar jumrah dari hotel agar tidak ada yang ketinggalan di tenda Mina. Ada berbagai pandangan mengenai waktu dan cara pelaksanaan lempar jumrah berikutnya. Meskipun telah dilakukan musyawarah, masing-masing kelompok memiliki pertimbangan dan pendapat sendiri sehingga kebersamaan yang diharapkan tidak terwujud.
Pada dasarnya, jamaah haji dianjurkan mabit di Mina minimal dua malam (Nafar Awal). Namun Rasulullah SAW yang hanya melaksanakan haji (haji wada’) mencontohkan mabit selama tiga malam, yaitu malam tanggal 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.
Sabar Berjubel-Berdesakan di Dalam Bus yang Mengantarkan Kami Kembali ke Hotel
Hari Sabtu, 30 Mei 2026 atau 14 Dzulhijjah 1447 H, pukul 06.30 WAS, kami mendapat pemberitahuan dari Kakloter agar segera keluar dari dalam tenda dan berbaris di pintu keluar markaz. Hal ini dilakukan agar tenda tidak ditempati oleh jamaah kloter lain yang juga sedang menunggu transportasi.



Sekitar pukul 07.00 WAS, bus yang kami tunggu akhirnya datang. Kami naik dalam kondisi yang sangat padat dan berdesakan. Proses naik bus berlangsung cukup melelahkan karena harus mengatur jamaah agar memberikan prioritas kepada lansia, pengguna kursi roda, dan jamaah risiko tinggi.
Saya bahkan sempat bersitegang dengan seorang petugas Arab Saudi yang memaksa kami duduk di kursi tertentu. Dengan nada keras ia terus mengatakan, “Ta’al, ta’al, ta’al…” sambil memberi isyarat agar kami berpindah. Namun saya memilih tetap pada posisi yang menurut saya lebih aman untuk keluarga.
Bus kota yang kapasitas normalnya sekitar 50 orang akhirnya diisi sekitar 75 penumpang. Meski berjubel-berdesakan, suasana di dalam bus terasa menyenangkan. Jamaah saling bercanda dan berbincang sepanjang perjalanan. Sopir bus yang berasal dari Mesir juga tampak ramah sehingga ketegangan yang sempat muncul malam sebelumnya perlahan menghilang.
Pukul 09.00 WAS kami tiba di depan hotel. Di sana sudah menunggu Bapak Alwi dan beberapa jamaah yang sehari sebelumnya kembali dengan berjalan kaki. Mereka menyambut kami dengan penuh kegembiraan, membantu menurunkan kursi roda, memapah jamaah lansia, dan melontarkan berbagai candaan yang membuat suasana menjadi hangat. Saya langsung meminta maaf kepada jamaah darus syifa’ yang sempat bersitegang di atas bus, kemudian duduk sejenak di depan hotel sambil menikmati 2 batang rokok sebelum akhirnya naik ke kamar di lantai 10 untuk beristirahat.
Melempar Jumrah Nafar Tsani dari Hotel
Pada sore harinya, setelah shalat Asar, sekitar pukul 15.30 WAS, kami kembali bersiap melaksanakan lempar jumrah Nafar Tsani. Pesan dari Bapak Alwi di grup WhatsApp yang menginformasikan bahwa seluruh jamaah yang akan melempar jumrah maupun yang akan membadalkan diminta berkumpul di masjid hotel. Ibu dan ibu mertua kami minta tetap beristirahat di hotel. Walaupun ibu mertua sempat ingin ikut, saya meminta istri untuk meyakinkan beliau agar tidak memaksakan diri.
Saya turun lebih dahulu ke MS. Di sana Bapak Alwi dan KH. Moh. Taufiq sudah duduk bersama sebagian jamaah yang akan berangkat melampar jamarat. Setelah seluruh peserta berkumpul, kami melaksanakan shalat Asar berjamaah, kemudian berangkat bersama sama ke Jamarat yang berjarak 2,5 Km.

Dari hotel kami berjalan ke arah barat menyusuri jalan, dimana disamping kanan dan kiri terdapat bangunan hotel. Di tengah-tengah jalan ada jalan layang yang di bawahnya terdapat area kongkow atau nongkrong. Sepanjang perjalanan suasana sangat santai. Jamaah saling bercanda, berbincang, bahkan berfoto bersama. Setelah berjalan sekitar 45 menit, kami tiba di kawasan Jamarat dan memilih melaksanakan pelemparan dari lantai bawah.
Saat tiba di Lokasi Jamarat lantai satu, kami masuk dari pintu tengah antara tugu Wustha, kemudian belok kiri menuju tugu Ula. Berbeda dengan hari-hari sebelumnya, suasana kali ini jauh lebih lengang. Satu per satu kami melempar Jumratul Ula, Wustha, dan Aqabah dengan tenang. Setelah selesai, kami berdoa dan mengabadikan beberapa foto bersama sebelum kembali menuju hotel.

Perjalanan pulang terasa lebih singkat, hanya sekitar 30 menit berjalan kaki dengan melewati daerah aziziyah. Kami tiba di hotel dengan perasaan lega dan bahagia karena seluruh rangkaian lempar jumrah telah selesai dilaksanakan.
Melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sa’i
Dua hari setelah melaksanakan lempar jumrah Nafar Tsani, tepatnya pada hari Ahad, 31 Mei 2026 / 15 Dzulhijjah 1447 H, pukul 23.00 WAS, kami bersama rombongan besar KBIHU Al-Mabrur yang dipimpin oleh Bapak Alwi dan KH. Moh. Taufiq berangkat menuju Masjidil Haram menggunakan Bus Shalawat untuk melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sa’i.
Sebelumnya keberangkatan dijadwalkan pukul 22.00 WAS dari hotel. Namun saat kami tiba di depan hotel, jamaah Al-Mabrur sudah berkumpul lebih dahulu dengan mengenakan pakaian ihram. Sebagian lainnya mengenakan pakaian biasa. Semuanya menunggu kedatangan Bus Shalawat yang terlambat karena terjebak kemacetan di kawasan Aziziyah.

Malam itu suasana di depan hotel sangat ramai. Membludaknya jamaah yang hendak menuju Masjidil Haram tidak terlepas dari baru beroperasinya kembali Bus Shalawat pada siang hari pukul 13.00 WAS. Sebagian besar jamaah berangkat untuk melaksanakan Tawaf Ifadah dan Sa’i, meskipun ada juga yang telah melaksanakannya dengan menyewa taksi.
Sekitar satu jam kami menunggu. Bus yang datang selalu penuh oleh jamaah. Sebagian rombongan akhirnya diberangkatkan secara bertahap, sementara beberapa jamaah yang tidak sabar memilih menggunakan taksi atau kendaraan sejenis dengan biaya sekitar lima riyal per orang.
Jumlah jamaah KBIHU Al-Mabrur yang akan berangkat bersama malam itu sekitar 250 orang. Mereka sudah bersiap sejak pukul 21.00 WAS. Sekitar tiga puluh menit setelah rombongan ketiga diberangkatkan, Bus Shalawat yang kami tunggu akhirnya tiba. Kami bersama sebelas jamaah lainnya segera naik dan berangkat menuju Masjidil Haram. Perjalanan memakan waktu hampir satu jam. Sekitar pukul 23.30 WAS kami tiba di Terminal Syib Amir.
Sesampainya di terminal, kami bertemu dengan rombongan yang lebih dahulu berangkat menggunakan taksi yang dipimpin oleh KH. Moh. Taufiq. Selanjutnya kami berjalan bersama memasuki Masjidil Haram. Alhamdulillah, malam itu kami dapat melaksanakan tawaf di pelataran Ka’bah.

Seperti biasa, kami membaca doa masuk Masjidil Haram dan doa ketika melihat Ka’bah. Setelah berada pada posisi sejajar dengan Hajar Aswad dan lampu hijau penanda awal putaran, kami berniat Tawaf Ifadah “Nawaitu thawâfal ifâdhati sab’ata asywâthin lillâhi ta’âlâ.” (Saya niat Tawaf Ifadah sebanyak tujuh putaran karena Allah Ta’ala). Kemudian kami membaca “Bismillahi Wallahu Akbar.”, Sambil mengangkat tangan dan mengarahkan pandangan ke arah Pojok Hajar Aswad.
Berbeda dengan Tawaf Umrah, pada Tawaf Ifadah tidak disunnahkan melakukan idhtiba’ (membuka bahu kanan), meskipun sebagian jamaah mengenakan pakaian ihram. Setelah berniat, kami mulai mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran di tengah padatnya jamaah yang melaksanakan thawaf. Bacaan doa yang kami gunakan sama seperti saat Tawaf Umrah yang dipandu oleh KH. Moh. Taufiq. Selesai melaksanakan tawaf, kami masuk ke area Masjidil Haram untuk melaksanakan shalat sunnah tawaf, dilanjutkan dengan berdoa dan meminum air zam-zam dengan berdiri sambil berdoa.
Dari lokasi shalat, kami naik eskalator hingga tiga kali menuju lantai dua, tempat pelaksanaan Sa’i. Pelaksanaan Sa’i berlangsung sebagaimana saat umrah. Kami memulainya dari Bukit Shafa dengan membaca niat Sa’i, kemudian berjalan dari Shafa menuju Marwah sebanyak tujuh kali perjalanan.
Saat melewati lampu hijau, jamaah laki-laki berlari-lari kecil sebagaimana tuntunan yang terdapat dalam manasik haji. Di sepanjang perjalanan Sa’i, kami membaca doa-doa sebagaimana yang tercantum dalam buku panduan haji. Langkah demi langkah kami jalani dengan penuh rasa syukur karena telah sampai pada rangkaian akhir ibadah haji. Setelah menyelesaikan putaran ketujuh dan tiba di Bukit Marwah kami berdoa selesai Sa’i, kemudian keluar melalui pintu yang ternyata cukup dekat dengan Terminal Syib Amir.
Akhirnya Tawaf Ifadah dan Sa’i berhasil kami laksanakan dengan sempurna. Dengan selesainya dua rangkaian ibadah tersebut, seluruh larangan ihram haji telah berakhir. Kami kembali diperbolehkan menjalani seluruh aktivitas sebagaimana biasa. Jam menunjukkan pukul 02.30 WAS ketika kami selesai melaksanakan Sa’i. Mayoritas jamaah sepakat untuk segera kembali ke hotel.

Dari pintu keluar area Sa’i di lantai dua, kami berjalan menuju Terminal Syib Amir. Sesampainya di Gate Bus Nomor 10, kami langsung naik ke salah satu bus yang telah berjajar menunggu jamaah. Bus kemudian melaju membawa para jamaah haji yang telah menyelesaikan seluruh rangkaian kegiatan rukun haji. Sekitar pukul 03.00 WAS kami tiba kembali di hotel.
Sebelum naik ke kamar untuk beristirahat, saya masih menyempatkan diri duduk sejenak di depan hotel sambil menghabiskan dua batang rokok sebelum kembali ke kamar untuk beristirahat.
*Penulis adalah Ketua DPC DPI Perjuangan Kabupaten Pamekasan yang saat ini sedang menunaikan Ibadah Haji bersama Istri, Ibu, dan Ibu mertua







