DokumentasiInspirasi

Hadiri Halalbihalal PDIP Jatim, Hj Ansari Ikuti dan Simak Pidato Said Abdullah

SURABAYA — Anggota Komisi VIII DPR RI, Hj. Ansari, menghadiri kegiatan Halalbihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang digelar di Hotel Shangrila Surabaya, Minggu (12/4/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Hj. Ansari yang hadir didampingi suaminya, Tretan Taufadi, Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan, mengikuti seluruh rangkaian acara dengan khidmat.

Keduanya tampak khidmat menyimak secara langsung pidato Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Said Abdullah.

Dalam pidatonya, Said Abdullah menegaskan bahwa Jawa Timur merupakan basis sosial-politik “Ijo-Abang” yang mencerminkan persatuan antara kalangan santri dan nasionalis.

“Ijo adalah simbol santri, cerminan kekuatan Nahdlatul Ulama. Abang adalah simbol nasionalis, kekuatan PDI Perjuangan. Keduanya menjadi akar politik hingga ke kampung-kampung di Jawa Timur,” ujar Said.

Menurutnya, pembelahan sosial antara santri dan abangan yang pernah digambarkan Clifford Geertz sejak era 1950-an kini semakin melebur. Bahkan, dalam berbagai survei nasional, basis pemilih Nahdlatul Ulama banyak yang menyalurkan dukungan politiknya kepada PDI Perjuangan.

Anggota Komisi VIII RI, Fraksi PDI Perjuangan Dapil Madura Raya, Hj Ansari didampingi Ketua DPC PDI Perjuangan Pamekasan, Mas Taufadi saat menghadiri Halalbihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur
Khidmat: Suasana Halalbihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

“Karena memiliki akar yang sama, tidak boleh ada jarak di antara kita. Justru harus terus bergandengan tangan antara NU dan PDI Perjuangan dalam membangun bangsa,” tegasnya.

Said juga menjelaskan bahwa secara sosiologis, santri dan abangan memiliki kesamaan sebagai kelompok masyarakat akar rumput yang menghadapi tantangan ekonomi, pendidikan, hingga akses pekerjaan.

Lebih lanjut, ia menilai nilai-nilai ke-NU-an yang mengusung Islam wasathiyah—dengan prinsip moderasi, keseimbangan (tawazun), dan toleransi (tasamuh)—sejalan dengan semangat kebangsaan yang diperjuangkan PDI Perjuangan.

“Keislaman harus memayungi, memberi rahmat, dan kedamaian. Bukan dihadirkan secara menakutkan, apalagi terhadap sesama anak bangsa,” ujarnya.

Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Abuya Said Abdullah saat menyampaikan pidato dalam acara Halalbihalal DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

Dalam kesempatan itu, Said juga mengingatkan pentingnya menjaga kejujuran di tengah maraknya disinformasi di era digital. Ia menyebut fenomena post-truth menjadi tantangan serius bagi masyarakat saat ini.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat budaya tabayun, silaturahmi, serta kejernihan berpikir agar tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang menyesatkan.

Said menambahkan, tradisi halalbihalal yang digagas oleh tokoh NU KH Abdul Wahab Hasbullah bersama Soekarno merupakan contoh kearifan para pendiri bangsa dalam merawat persatuan di tengah perbedaan.

“Halalbihalal adalah ruang menjahit persaudaraan, menghapus ego, dan membangun kejujuran. Tradisi ini harus terus kita jaga,” ujarnya.

Sementara itu, Hj. Ansari menilai momentum halalbihalal menjadi ruang penting untuk mempererat silaturahmi serta memperkuat nilai kebersamaan di tengah masyarakat.

“Halalbihalal ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk terus menjaga persatuan, memperkuat gotong royong, dan hadir untuk masyarakat,” ujarnya.

Acara tersebut berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan, dihadiri jajaran pengurus partai, kepala daerah dari kader PDI Perjuangan, serta anggota legislatif dari berbagai tingkatan.

Shares:
Show Comments (0)
Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *